Jurnalis dan Pembangkang Iran Berkunjung ke DW | Fokus | DW | 27.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Jurnalis dan Pembangkang Iran Berkunjung ke DW

Akbar Ganji dulu berjuang mendirikan Republik Islam dan kini menuntut agar diganti ke bentuk demokrasi.

Akbar Ganji

Akbar Ganji

Ia pernah menjadi anggota garda revolusi, yang berperan besar dalam menjatuhkan Shah dan mendirikan sebuah Republik Islam. Kini Akbar Ganji, jurnalis berusia pertengahan 40, menuntut agar Republik Islam itu diganti menjadi bentuk negara demokrasi sejati dimana antara lain kebebasan berpendapat dan hak warga diperhatikan.

Ganji paham apa yang ia bicarakan. Sejak pertengahan 90-an, di koran yang ia kelola, Ganji secara terbuka menyarankan pemisahan antara negara dan agama, sampai pemerintah kemudian menutup surat kabar itu. Dua koran berikutnya, dimana ia sering menulis, menemui nasib serupa. Dan setelah ia menuduh presiden Iran ketika itu, Akbar Hashemi Rafsanjani, terlibat dalam pembunuhan terhadap para pembangkang, Ganji betul-betul membuat berang penguasa.

Sekembalinya ia dari konferensi Iran di Berlin tahun 2000, Ganji ditangkap di Teheran dan dihadapkan ke meja hijau. Lima tahun penjara dan aksi panjang mogok makan, tidak membuat ia berhenti menyebarluaskan gagasannya. Memang ia tidak boleh lagi mempublikasikan tulisannya di Iran, tetapi ada jalur internet dan ada media asing, yang –seperti DW- membawa kata-katanya kembali ke Iran. Setelah dibebaskan, Ganji bertolak ke Eropa. Ia berkunjung pula ke DW dan bertemu dengan para jurnalis Jerman. Jalan yang ditempuh dari seorang pembela Repbulik Islam menjadi pengkritik paling tajam, sama sekali tidak lazim, kata Ganji. Ia menambahkan, dengan revolusi orang sama sekali tidak memperoleh demokrasi.

Kaum muda, yang dulu dikerahkan bagi revolusi, melakukannya untuk meraih kebebasan dan demokrasi. Tapi sebaliknya mereka mendapat tekanan dan pemerintahan teror. Sebagian menyadari hal itu dan berpaling dengan kecewa. Apakah berpaling dari rejim seperti itu dianggap sebagai pengkhianatan? Ataukah tuduhan pribadinya terhadap Rafsanjani yang menggiringnya ke balik terali? Ganji mengatakan: " Negara dan sistem negara yang tak demokratis adalah sistem yang konspiratif. Secara konspiratif mereka membangun sebuah ruang gelap. Rencana untuk menghabisi para pembangkang, disusun di ruang gelap itu, semua kebobrokan sosial, juga prostitusi merupakan hasil dari kerja di ruang gelap itu. Kami berupaya menyorotkan lampu ke ruangan itu dan ke wajah-wajah pelakunya. Mereka tentu saja mengancam dengan penjara, penyiksaan dan tekanan. Mereka tentu merasa, jika suara-suara individu ini menyebarluas, maka akan menderas jadi sungai atau laut, dan itulah yang mereka hindari, dengan melenyapkan sumber suara itu."

Akbar Ganji yakin, perubahan di Iran tidak akan tercapai lewat jalur hukum atau politik, dan jelas tidak lewat parlemen. Tapi ia percaya, ada banyak suara-suara individu seperti dirinya. Dan ia yakin, suara-suara itu akan menunjukkan dampak dan efektivitasnya. Ganji juga sadar akan kemungkinan ia ditangkap lagi, sepulangnya dari Eropa. Tapi menurut Ganji, pada prinsipnya yang ia lakukan bukanlah hal terlarang, ia hanya menggunakan kebebasannya sebagai warga sipil.