Mabes Polri Diserang, Jokowi Minta Warga Tetap Tenang dan Bersatu Lawan Terorisme | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 01.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Terorisme

Mabes Polri Diserang, Jokowi Minta Warga Tetap Tenang dan Bersatu Lawan Terorisme

Presiden Jokowi minta masyarakat tetap tenang dan bersatu melawan terorisme pasca-Mabes Polri diserang. Sementara, anggota DPR TB Hasanuddin sebut operasi deradikalisasi telah gagal padahal anggarannya triliunan rupiah.

Mabes Polri

Polisi berjaga ketat di area Mabes Polri pasca penyerangan yang dilakukan oleh seorang perempuan pada Rabu (31/03)

Mabes Polri diserang seorang perempuan bernama Zakiah Aini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta seluruh masyarakat untuk tetap tenang.

"Terakhir terkait dengan terjadinya aksi terorisme kemarin sore di Mabes Polri saya minta kepada seluruh masyarakat di seluruh Tanah Air agar semuanya tetap tenang," kata Jokowi saat meresmikan Tol Serpong dan Tol Cengkareng, yang disiarkan kanal YouTube Setpres, Kamis (01/04).

Jokowi juga meminta warga tetap waspada. Dia meminta agar seluruh masyarakat bersatu melawan terorisme.

"Tapi tetap waspada dan menjaga persatuan dan kita semuanya bersatu melawan terorisme," ujarnya.

Seperti diketahui, Zakiah Aini, yang berusia 25 tahun, menyerang Mabes Polri kemarin sore. Dia sempat melepaskan enam kali tembakan dalam tiga kesempatan.

Dua kali tembakan dilepaskan ke petugas di dalam pos jaga. Dua tembakan lagi dilepaskan ke petugas di luar pos jaga.

Atas hal itu, polisi menembak Zakiah Aini di lokasi. Zakiah Aini dinyatakan tewas tertembak di dada.

Zakiah Aini beraksi sendirian. Dia disebut berideologi ISIS. 

‘‘Operasi deradikalisasi gagal, padahal anggarannya triliunan rupiah‘‘

Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin menilai program deradikalisasi di Indonesia gagal. Sebab, paham radikalisme dan ancaman terorisme di Indonesia masih menyebar dengan masif.

TB Hasanuddin menyinggung peristiwa penyerangan teroris dalam satu pekan terakhir ini. Yakni aksi bom bunuh di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan perempuan bersenjata di Mabes Polri.

"Saya sepakat operasi deradikalisasi di Indonesia itu gagal. Padahal, saya catat anggaran deradikalisasi itu mencapai triliunan rupiah," kata Hasanuddin, dalam keterangannya, Kamis (01/04).

TB Hasanuddin menilai salah satu penyebab kegagalan operasi deradikalisasi itu yakni metode dan teknik yang dilakukan tersebar di Kementerian dan lembaga bahkan di beberapa organisasi kemasyarakatan. Sehingga, kata dia, deradikalisasi yang dilakukan tidak terarah dan kerap terjadi duplikasi.

"Kita harus rombak cara dan teknik deradikalisasi. Jangan lagi memposisikan seperti menggurui dengan mengatakan kalian yang radikal dan kami yang benar. Kita harus bisa masuk di antara mereka, bergaul dengan mereka dan bicara dari hati ke hati," ujarnya.

Hasanuddin juga mengungkapkan rasa keprihatinannya lantaran penyebar paham radikalisme kini menyasar kaum milenial yang masih dalam proses pencarian jati diri. Kaum milenial menurutnya menjadi korban kampanye hitam segelintir orang demi kepentingan politik praktis.

"Ironis, banyak kaum milenial yang terpengaruh dengan provokator dahsyat yang mengatasnamakan agama. Menggerakkan kaum muda menjadi pengantin, menjadi bomber dengan janji surga. Sementara para provokator duduk manis menikmati kehidupan dunia. Kenapa tidak mereka saja yang duluan memberi contoh masuk surga?" jelasnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin tidak sepakat jika terorisme beraksi secara lone wolf. Istilah itu disebutnya kurang tepat, karena teroris tidak tumbuh dengan sendirinya secara otomatis .

"Dia akan tumbuh di tempat yang situasinya mendukung, berkembang karena komunikasi sosial yang khusus dengan orang-orang tertentu. Dia tumbuh karena ada yang membina bahkan dia punya idola sendiri. Bahwa dia bergerak sendiri (lone) ya ini kebutuhan taktis saja," jelasnya.

Meski demikian, TB Hasanuddin mengapresiasi kinerja Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) terutama Densus 88 yang telah bekerja optimal.

"Tapi mengatasi masalah teroris tidak bisa hanya segelintir orang yang bekerja. Pemberantasan paham radikalisme dan terorisme harus menjadi program nasional dan melibatkan seluruh komponen bangsa," tuturnya. (Ed: pkp/rap)

 

Baca selengkapnya di: detiknews

Mabes Polri Diserang, Jokowi Minta Warga Tetap Tenang-Bersatu Lawan Terorisme

TB Hasanuddin: Operasi Deradikalisasi Gagal, Anggarannya Triliunan Rupiah!

Laporan Pilihan