1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiJerman

Jerman: Kenapa Asosiasi Pengusaha Ingin Dialog dengan AfD?

3 Desember 2025

Kegaduhan meluas usai asosiasi pengusaha keluarga Die Familienunternehmer mengundang partai ekstrem kanan AfD untuk berdialog. Sejumlah anggota mengancam mundur. Kritik juga dilayangkan asosiasi lain.

https://p.dw.com/p/54ddA
Logo Partai Alternatif untuk Jerman (AfD)
Partai Alternatif untuk Jerman (AfD)Foto: Carsten Koall/dpa/picture alliance

Apakah dunia usaha harus mulai duduk bareng partai politik berideologi ekstrem seperti Alternative für Deutschland (AfD)?

Polemik itu berawal dari keputusan kontroversial asosiasi perusahaan keluarga di Jerman atau Die Familienunternehmer. Pada bulan Oktober, mereka mengundang perwakilan AfD untuk hadir pada acara "Malam Parlemen" di Berlin—sesuatu yang dianggap sebagai langkah pertama dalam membuka dialog dengan partai yang telah dikategorikan secara luas sebagai ekstrem kanan.

Dengan undangan itu, asosiasi ini secara tidak langsung mengakhiri "larangan kontak" yang sebelumnya berlaku di tingkat federal terhadap AfD.

Kanselir Friedrich Merz dan Marie-Christine Ostermann
Kanselir Jerman Friedrich Merz (ki.) dan Presiden Asosiasi Pengusaha Keluarga Marie-Christine OstermannFoto: Political-Moments/IMAGO

Marie-Christine Ostermann, presiden asosiasi, menjelaskan bahwa meskipun pihaknya tidak menginginkan pemerintahan yang melibatkan AfD, mereka tidak menutup mata terhadap perlunya berdebat secara terbuka dengan partai tersebut.

"Berbicara dengan seseorang yang memiliki pandangan berbeda bukan berarti kita menerima posisinya. Berbicara tidak berarti bekerja sama," tegasnya. Menurutnya, dialog yang terbuka adalah kunci untuk menunjukkan bahwa di balik "judul-judul besar" yang dibawa AfD, banyak ide yang kosong atau bahkan kontradiktif.

Ancaman eksodus

"Respons dari anggota kami mendukung langkah ini," tulis asosiasi Die Familienunternehmer di akun Instagramnya. Namun tidak jelas, berapa dari 180.000 anggotanya yang mendukung dan menolak.

Pasalnya, gagasan mengundang AfD justru memicu reaksi keras dari sejumlah anggota asosiasi. Beberapa di antaranya telah mengambil keputusan untuk keluar. Salah satu yang pertama menyatakan mundur adalah pengusaha Berlin, Harald Christ. Pun jaringan ritel Rossmann juga mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan asosiasi, sebagaimana produsen peralatan rumah tangga Vorwerk.

"Vorwerk menolak pernyataan asosiasi Die Familienunternehmer dalam tema AfD," demikian tulis perusahaan.

Kenapa Banyak Imigran Ingin Tinggalkan Jerman?

Selain itu, beberapa perusahaan lain seperti Melitta juga mengungkapkan "rasa terkejut" terhadap perubahan sikap pimpinan asosiasi. Mereka menyatakan bahwa meski mendukung dialog politik, mereka menentang pertemuan dengan partai yang dicap sebagai ekstremis.

Sementara itu, dm, salah satu perusahaan terbesar dalam hal keberlanjutan dan kepuasan pelanggan, juga menolak kebijakan asosiasi untuk melibatkan AfD. "Dm menolak perdebatan yang memecah belah, begitu pula posisi AfD yang mempertanyakan landasan dasar demokratis di negara ini," kata Christoph Werner, direktur dm kepada harian Sueddeutsche Zeitung.

"Bagaimana sebuah asosiasi berinteraksi dengan sebuah partai tertentu, harus ditentukan dengan anggota sendiri," imbuhnya. Dia mengklaim dm telah mengundurkan diri dari asosiasi sejak "berbulan lalu, dan sebab itu kini bukan lagi hak kami untuk memberikan nasihat kepada Die Familienunternehmer."

Reaksi asosiasi lain

Kontroversi ini membawa dampak pada citra beberapa perusahaan. Di media sosial, banyak pelanggan dm yang menumpahkan kekecewaan. Banyak yang bahkan mengancam akan beralih ke pesaingnya Rossmann jika perusahaan tersebut tidak mengubah sikap.

Tidak hanya perusahaan besar yang merasa terdampak, tetapi juga merek-merek yang sama sekali tidak terlibat dalam asosiasi. Haribo, misalnya, mendapat tekanan dari netizen untuk menyatakan sikap terhadap AfD. Perusahaan pembuat permen ini dengan cepat mengklarifikasi bahwa mereka bukan bagian dari Die Familienunternehmer dan tidak terlibat dalam kebijakan asosiasi tersebut.

Reaksi dari dunia politik pun cukup keras. Partai Grüne dan CDU mengkritik undangan kepada AfD. Serikat pekerja Verdi dan DGB juga menuntut agar asosiasi industri memberikan sikap yang lebih tegas terhadap kelompok ekstrem. Ketua Verdi, Frank Werneke, mengingatkan betapa pentingnya mengingat sejarah kelam dukungan kalangan industri terhadap partai NSDAP pada tahun 1933.

Di sisi lain, Asosiasi Industri Jerman (BDI) menegaskan bahwa pihaknya tidak mencari pertemuan dengan perwakilan partai radikal seperti AfD. Mereka berjanji akan terus mengkritik posisi AfD dan tidak berniat terlibat dalam dialog yang dapat mengaburkan nilai-nilai dasar.

Weidel: AfD Siap Berpartisipasi dalam Pemerintahan

Interaksi dalam koridor formal

Zentralverband des Deutschen Bäckerhandwerks tiba-tiba masuk daftar sorotan setelah sebuah laporan Bild menuding mereka terlalu dekat dengan AfD. Serikat produsen roti itu buru-buru mengoreksi. "Kami menolak segala bentuk ekstremisme,” kata Meike Bennewitz, juru bicara asosiasi, ketika dimintai klarifikasi oleh DW. Dia menegaskan, posisi organisasi jelas: menutup pintu bagi pandangan yang dinilai melanggar konstitusi atau memecah belah masyarakat.

Bennewitz menjelaskan, hubungan mereka dengan politisi berlangsung dalam koridor formal. Anggota parlemen, siapa pun partainya, boleh meminta informasi atau dokumen posisi. Tapi serikat itu tak akan melakukan pendekatan ke partai-partai di tepi spektrum politik—apalagi mengundang mereka ke acara resmi organisasi. "Tidak ada langkah proaktif,” ujarnya.

Sikap serupa datang dari asosiasi petani. Dalam pernyataan resminya, Deutscher Bauernverband menegaskan interaksi dengan AfD dibatasi untuk memenuhi "standar dasar protokol" alias sebatas kewajiban formal. Fokus utama mereka tetap pada fraksi-fraksi pemerintahan, di tingkat federal maupun negara bagian.

Lebih keras lagi, asosiasi perdagangan BGA meminta AfD membuktikan diri lebih dulu: menarik garis tebal dari ekstremisme kanan dan sikap anti-Uni Eropa. "Sebelum itu terjadi, tak ada alasan untuk berbicara,” kata organisasi tersebut. Mereka menyamakan sikap itu terhadap kubu kiri yang anti-pasar bebas: jika fondasi bersama tak ada, dialog pun tak relevan.

Di luar keributan, AfD sumringah

Ketika asosiasi-asosiasi besar saling menegaskan jarak, AfD justru menyambut hangat badai politik ini. Ketua partai, Alice Weidel, menyebut dialog dengan dunia usaha sebagai "hal yang semestinya.” Dia merujuk pada survei yang menempatkan AfD sebagai kekuatan politik besar—cukup kuat, menurutnya, untuk duduk sejajar dengan pelaku industri dan UMKM.

Weidel memuji keberanian Die Familienunternehmer yang lebih dulu membuka pintu. Dia bahkan mendorong asosiasi bisnis lain mengikuti jejak tersebut. "Distansi dan ritual pengucilan tidak membantu,” ujarnya.

Arah angin jelas berubah. Sementara banyak organisasi sibuk menjaga jarak dan reputasi, AfD melihat peluang: setiap celah percakapan, sekecil apa pun, dapat menjadi jalan masuk ke ruang-ruang yang dulu tertutup rapat.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid