Jerman Kembalikan Tengkorak Suku Asli Namibia Korban Pembantaian Massal | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 30.08.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Jerman Kembalikan Tengkorak Suku Asli Namibia Korban Pembantaian Massal

Pemerintah Jerman pada Rabu (29/8) akhirnya mengembalikan sisa tulang-belulang milik suku asli Namibia yang dibantai secara massal pada masa pendudukan Jerman awal abad 20.

Tulang-belulang itu adalah milik orang-orang dari suku Herero dan Nama, yang merupakan penduduk asli di wilayah yang sekarang menjadi teritorial Namibia. Sisa jenazah manusia itu disimpan di berbagai rumah sakit, museum dan universitas di Jerman selama beberapa dekade.

Pihak Jerman saat itu memutuskan untuk menyimpan tulang-tulang itu terkait dengan percobaan ilmiah yang bersifat rasial dan terkait dengan kebrutalan pasukan kolonial Jerman di negara di wilayah barat daya Afrika itu.

Antara 1904 dan 1908, tentara kekaisaran Jerman membantai sekitar 65.000 orang dari suku Herero dan 10.000 orang dari suku Nama. Kedua suku ini menolak perampasan tanah oleh penjajah Jerman.

Para sejarawan menyebut peristiwa brutal ini sebagai "genosida pertama abad ke-20."

Sebelumnya, Jerman telah mengembalikan sebagian sisa jenazah manusia ke Namibia. Jerman juga masih berdebat tentang bagaimana mereka akan menghadapi dan memperingati pembunuhan massal ini.

Aktivis dari Namibia pun menuntut Berlin untuk meminta maaf atas pembantaian ribuan orang tersebut dan membayar kompensasi.

Genosida yang tidak diakui

Vekuii Rukoro, seorang pengacara Namibia yang juga politisi dan perwakilan suku Herero, mengucapkan kata-kata tajam bagi pemerintah Jerman pada upacara hari Rabu (29/8).

Deutsch-Südwestafrika Zeichnung Hererokrieg Hereroaufstand

Awal abad ke-20 tentara Jerman memutus akses air suku Herero sehingga 60.000 orang mati kehausan

"Genosida. Di sana kami menyebutnya begitu. Begitu juga dengan pihak oposisi pemerintah Jerman, publik Jerman dan masyarakat dunia. Satu-satunya pihak yang kesulitan menyebutnya demikian hanya pemerintah Jerman dan Namibia. Ada sesuatu yang salah dengan kedua pemerintah ini."

"Generasi Jerman pada saat ini memang tidak melakukan genosida terhadap nenek moyang kami, suku Herero dan Nama. Namun generasi sekarang dan masa depan Jerman harus mengakui bahwa ada genosida yang terjadi dan dilakukan atas nama Jerman," kata Menteri Kebudayaan Namibia Katrina Hanse-Himarwa in Berlin.

"Permintaan maaf atas genosida ini akan membuat ini menjadi sejarah bersama dan cerita kita bersama."

Manase Zeraek, seorang perwakilan suku tradisional Namibia mengatakan: "Kita semua setuju kalau mereka (pemerintah Jerman) harus meminta maaf dan membayar biaya perbaikan." Namun Berlin menolak untuk membayar biaya tersebut.

"Bagi pemerintah Jerman, penggunaan istilah 'genosida' tidak lantas menyebabkan mereka berkewajiban hukum untuk melakukan reparasi, tetapi mereka punya kewajiban politik dan moral untuk menyembuhkan luka. Kami berpegang pada posisi itu," Ruprecht Polenz, negosiator Jerman dalam pembicaraan dengan Namibia, mengatakan kepada DW dua tahun lalu.

Jerman berpendapat bahwa ratusan juta euro yang telah dikucurkan ke Namibia untuk bantuan pembangunan sejak perolehan kemerdekaan tahun 1990 adalah "untuk kepentingan semua rakyat Namibia."

ae/hp (dpa, AFP, Reuters)

Laporan Pilihan

WWW Link