AstraZeneca: Jerman, Beberapa Negara Eropa Lain dan Indonesia Lanjutkan Penggunaan Vaksin | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 19.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

AstraZeneca: Jerman, Beberapa Negara Eropa Lain dan Indonesia Lanjutkan Penggunaan Vaksin

Jerman, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya telah memutuskan untuk mencabut penangguhan vaksin AstraZeneca dengan mengikuti panduan keselamatan dari European Medicines Agency (EMA).

Dosis vaksin AstraZeneca siap disuntikkan.

Vaksin Astrazeneca sempat alami penangguhan di beberapa negara.

Jerman, Prancis, dan beberapa negara Uni Eropa lainnya pada hari Kamis (18/03) telah memutuskan untuk terus menggunakan vaksin AstraZeneca, setelah European Medicines Agency (EMA) menganggap suntikan itu "aman dan efektif."

Jerman akan melanjutkan pendistribusian vaksin pada hari Jumat (19/03), demikian menurut Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn.

Jerman sebelumnya telah menangguhkan vaksin tersebut. Spahn menegaskan keputusan Jerman dalam soal vaksin mengikuti panduan EMA.

"Analisis EMA telah mengkonfirmasi tindakan yang kami ambil," lanjut Spahn. "Sudah benar untuk menangguhkan vaksinasi sebagai tindakan pencegahan, sampai akumulasi kasus dengan pengentalan darah yang sangat jarang ini dapat dianalisis."

Sebelumnya, sebagaimana Jerman, beberapa negara sempat menangguhkan penggunaan vaksin ini, sebagai tindakan antisipasi dini dan kehati-hatian. Pemicunya adalah laporan dari Austria dan Denmark, mengenai kasus trombosis atau penggumpalan darah dan emboli para pada sejumlah warganya setelah mendapat vaksinasi AstraZeneca.

Di mana posisi negara-negara Eropa lainnya?

Prancis, Italia, Latvia, Bulgaria, dan Slovenia juga akan melanjutkan penggunaan vaksin AstraZeneca dengan mengikuti panduan EMA. Perdana Menteri Prancis, Jean Castex berencana untuk menerima suntikan AstraZeneca pada hari Jumat (19/03) untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin tersebut.

"Vaksin AstraZeneca efektif untuk menangkal COVID-19, sebagaimana yang digarisbawahi oleh regulator Eropa. Vaksin ini efek sampingnya relatif jarang," kata Castex.

Perdana Menteri Italia, Mario Draghi mengatakan vaksinasi AstraZeneca akan "dilanjutkan besok," seraya menambahkan bahwa "prioritas pemerintah adalah untuk melakukan vaksinasi sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin."

Spanyol akan mendistribusikan kembali vaksinasi AstraZeneca pada hari Rabu mendatang, tetapi akan mengecualikan beberapa kelompok demografis, untuk meminimalkan risiko kesehatan.

Sementara itu, Lithuania akan kembali menggunakan suntikan AstraZeneca pada hari Jumat (19/03), ungkap Menteri Kesehatan Lithuania, Arunas Dulkys. Ia sendiri akan bergabung dengan presiden Lithuania, perdana menteri dan pimpinan parlemen pada hari Senin mendatang untuk mendapatkan vaksin AstraZeneca.

Norwegia, Swedia menunggu sekarang

Di lain pihak, Norwegia dan Swedia akan menangguhkan vaksin AstraZeneca hingga badan kesehatan masyarakat di dalam negeri mengkaji situasinya.

"Vaksinasi dengan AstraZeneca akan tetap ditangguhkan sampai kami melihat situasi sepenuhnya," ujar direktur Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia, Camilla Stoltenberg kepada wartawan. Menurutnya, "terlalu dini" untuk sampai pada kesimpulan akhir tentang vaksin ini.

Sementara Swedia mengatakan "butuh beberapa hari" sebelum mengambil keputusan tentang vaksin tersebut.

Data visualisasi COVID-19 per kapita di Asia

Kasus harian per satu juta penduduk.

Di Asia dan Australia

Di Indonesia, dalam pernyataannya pada hari Jumat (19/03), Badan Makanan dan Obat-obatan Indonesia (BPOM) juga telah menyetujui penggunaan vaksin AstraZeneca. "Manfaat pemberian vaksin COVID-19 AstraZeneca lebih signifikan ketimbang risikonya, jadi distribusi vaksin ini dapat dimulai," demikian isi pernyataannya sebagaimana dilansir Reuters.

Pada tanggal 8 Maret 2021 lalu, Indonesia telah menerima 1,1 juta dosis vaksin siap pakai dari AstraZeneca. Vaksin ini diperoleh melalui skema multilateral COVAX Facility yang bertujuan mengupayakan kesetaraan akses terhadap vaksin COVID-19 untuk seluruh negara di dunia. Vaksin tersebut juga telah masuk dalam daftar penggunaan darurat (EUL) dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 15 Februari 2021. Indonesia juga termasuk negara yang sempat turut menunda implementasi vaksin AstraZeneca sambil menunggu konfirmasi dari WHO.

Dikutip dari Reuters, Australia pada hari Jumat (19/03) menyambut keputusan EMA untuk mendukung vaksin AstraZeneca, setelah sebagai badan berwenang telah melakukan penyelidikan atas keamanannya.

"Saya rasa ini adalah bagian yang sangat penting dari berita medis di dunia. Apa yang kami lihat adalah European Medicines Agency telah membuat kesimpulan yang sama dengan (badan obat-obatan) Australia...ini berita baik," kata Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt kepada media, Sky News.

Australia tidak menghentikan program vaksinasi nasionalnya meskipun vaksin AstraZeneca sempat tertangguhkan di Eropa. Menurutnya, tidak ada bukti bahwa dosis yang disuntikkan menyebabkan efek samping yang serius.

Mayoritas dari 25 juta warga Australia direncanakan akan mendapatkan vaksin AstraZeneca. Pihak berwenang telah mengamankan hampir 54 juta dosis, dengan 50 juta akan diproduksi secara lokal dari akhir Maret lalu.

Selama beberapa minggu ke depan, Australia mulai Senin (22/03) akan melanjutkan penyuntikan vaksin ke tahap kedua, yang akan menjangkau hampir enam juta orang, bagi mereka yang sudah mendapat dosis pertama Pfizer/BioNTech atau vaksin AstraZeneca.

ap/vlz (Reuters)

 

Laporan Pilihan