Jerman dan AS Desak Rusia Segera Tarik Pasukan di Dekat Ukraina | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Rusia-Ukraina

Jerman dan AS Desak Rusia Segera Tarik Pasukan di Dekat Ukraina

Kanselir Jerman Merkel dan Presiden AS Biden mendesak Rusia untuk menarik mundur pasukan di dekat perbatasan dengan Ukraina. Hal ini disampaikan mereka saat membahas konflik antara Rusia dan Ukraina melalui telepon.

Angela Merkel dan Joe Biden

Kanselir Angela Merkel dan Presiden Joe Biden meminta Rusia mengurangi pasukan di dekat perbatasan Ukraina

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara melalui telepon pada Rabu (14/04) malam. Juru bicara Merkel, Steffen Seibert mengatakan, kedua pemimpin sepakat untuk mendesak Rusia mengurangi jumlah pasukan yang berjaga di dekat perbatasan Ukraina sebagai upaya mencapai deeskalasi ketegangan.

Rusia dan Ukraina melakukan latihan militer secara sinultan tidak jauh dari zona konflik di timur Ukraina pada hari Rabu (14/04), di saat para menteri luar negeri dan menteri pertahanan NATO bertemu secara virtual membahas keberadaan pasukan di dekat perbatasan Ukraina dan Krimea.

Kekhawatiran atas keberadaan pasukan Rusia

"Para pemimpin menyatakan keprihatinannya atas penambahan jumlah pasukan Rusia di perbatasan Ukraina dan di Krimea, dan mereka kembali menegaskan dukungan untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, presiden Biden telah memperingatkan konsekuensi kegiatan militer Rusia dan menyarankan diadakannya pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer menjawab pertanyaan tentang perkembangan di Ukraina dalam siaran televisi publik ARD pada Rabu (14/04) malam menyatakan: "Kesan saya adalah bahwa pihak Rusia mencoba segalanya untuk memancing reaksi," kata Kramp-Karrenbauer. "Bersama dengan Ukraina, kami tidak akan terlibat dalam peperangan ini."

Militan dari Republik Rakyat Luhansk (LNR)

Pasukan separatis (foto tertera) dan tentara Ukraina terlihat lebih sering muncul dan berpatroli dalam beberapa pekan terakhir

Kremlin menanggapi seruan yang berulang untuk merelokasi pasukannya, dengan mengatakan penempatan itu merupakan masalah domestik lantaran pengerahan pasukan dilakukan di tanah Rusia. Penempatan pasukan Rusia juga disebut sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata yang kerap kali terjadi di Ukraina timur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada awal bulan ini telah mendesak NATO untuk memetakan jalur yang lebih cepat untuk memasuki wilayah Kyiv.

Menurut sumber diplomatik Turki dan kantor berita Anadolu pada hari Rabu (14/04), AS telah membatalkan rencana untuk mengerahkan dua kapal perang ke Laut Hitam, sebagai upaya yang diyakini dapat meredakan ketegangan di Ukraina.

AS jatuhkan sanksi baru terhadap Rusia

Pemerintahan Joe Biden akan segera mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia pada hari Kamis (15/04) atas dugaan campur tangan pemilu dan aktivitas dunia maya yang berbahaya.

Sanksi baru tersebut dilaporkan akan dikaitkan dengan perintah pengusiran terhadap 10 pejabat Rusia di Amerika Serikat. Langkah itu diyakini "menambah kesan dingin" dalam hubungan yang telah membeku antara Washington dan Moskow.

ha/as (AFP, dpa, Reuters)

Laporan Pilihan