Jerman Buka Peluang Beri Sedikit Kelonggaran Pembatasan Corona Saat Natal | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 25.11.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Jerman Buka Peluang Beri Sedikit Kelonggaran Pembatasan Corona Saat Natal

Para pemimpin regional Jerman sedang menggodok strategi pembatasan baru terkait virus corona untuk bulan Desember. Dalam draf proposal, akan ada semacam ''pelonggaran kecil'' saat periode Natal.

Setelah didorong oleh Kanselir Angela Merkel untuk memberikan “jawaban yang kohesif dan kolektif," para perdana menteri negara bagian di Jerman akhirnya menyetujui langkah-langkah penguncian baru terkait virus corona untuk bulan Desember, dan bahkan Januari tahun depan.

Mereka juga memasukkan amnesti kecil atau semacam pelonggaran selama periode Natal, yaitu dari tanggal 23 Desember sampai 1 januari 2021, demikian menurut rancangan proposal yang beredar pada hari Selasa (24/11).

Setelah upayanya dalam mengintensifkan beberapa aspek penguncian di Jerman ditolak, Merkel akhirnya mengembalikan tanggung jawab kepada para pemimpin regional untuk membuat sebuah pengaturan yang bisa mereka sepakati bersama. Para pemimpin regional tersebut dijadwalkan akan mempresentasikan proposal final mereka kepada kanselir pada Rabu (25/11).

Berikut beberapa poin penting dari draf proposal tersebut.

Lockdown parsial diperpanjang

Pembatasan yang sudah diberlakukan November ini ditetapkan untuk diperpanjang setidaknya tiga minggu hingga 20 Desember mendatang.

Hotel, restoran, dan pusat kebugaran akan tetap ditutup. Warga diminta sebisa mungkin tinggal di rumah, dan menghindari perjalanan dan kontak yang tidak perlu.

Pertemuan dan penggunaan masker

  • Pertemuan pribadi akan dibatasi hanya untuk anggota dua rumah tangga dan maksimal hanya lima orang.
  • Anak-anak yang usianya di bawah 14 tahun tidak termasuk di antara lima orang yang dibatasi.
  • Wajib menggunakan masker di gedung-gedung-gedung, toko, dan transportasi umum yang dapat diakses oleh publik.
  • Kemungkinan persyaratan penggunaan masker di luar ruangan, di area banyak orang sering berkumpul.

Pengecualian untuk Natal

Diberlakukan dari 23 Desember hingga 1 Januari

  • Pertemuan yang melibatkan orang-orang dari lebih dari dua rumah tangga akan diizinkan.
  • Jumlah maksimal dari lima orang dapat ditingkatkan menjadi 10 orang (anak-anak berusia di bawah 14 tahun masih dibebaskan).
  • Setelah itu, masyarakat akan didorong untuk mengisolasi diri secara sukarela selama beberapa hari.
  • Gereja mungkin akan diizinkan mengadakan acara-acara perayaan – bertujuan untuk menghindari kebaktian yang lebih besar dan umum.

Perayaan tahun baru

  • Perayaan kembang api di tempat umum akan dicegah atau mungkin akan dilarang.
  • Penjualan, pembelian, dan pelepasan kembang api tidak akan langsung dilarang.

Sekolah

  • Masker wajib dipakai di kelas untuk anak-anak usia tujuh tahun ke atas, di area yang memiliki lebih dari 50 kasus per 100.000 penduduk. Saat ini masker hanya wajib dipakai saat berkegiatan di sekitar sekolah, bukan di meja belajar.
  • Namun, sekolah yang dapat menunjukkan tidak adanya infeksi corona dapat dikecualikan.
  • Keputusan menerapkan pembelajaran di rumah diserahkan kepada negara bagian masing-masing.
  • Ketika sebuah kasus positif COVID-19 ditemukan dalam sebuah kelas, maka siswa dan guru harus menjalani karantina selama lima hari dan kemudian menjalani rapid test, yang disediakan oleh pemerintah.

Stimulus ekonomi

  • Program bantuan untuk bisnis, wiraswasta dan klub-klub atau perkumpulan akan diperpanjang.
  • Negara-negara bagian akan mendorong pemerintah federal untuk mempertimbangkan memperpanjang pinjaman penghubungnya untuk bisnis, khususnya yang mengalami kesulitan seperti sektor budaya, biro perjalanan, dan penyelenggara acara, hingga pertengahan 2021.
  • Mengecek apakah dana kesehatan membutuhkan bantuan tambahan, karena pendapatan orang-orang berkurang.

“Kita harus memperpanjang lockdown,” tulis Perdana Menteri negara bagian Bayern Markus Söder di Twitter pada Minggu (22/11). “Sayangnya jumlah kasus kita masih terlalu tinggi. Jika kita menghentikan lockdown terlalu dini, kita berisiko mengalami kerugian parah. Kemudian semuanya dimulai lagi dari awal. Lebih baik lockdown diberlakukan lebih lama sekarang daripada lockdown total saat Natal.”

Fleksibel tergantung jumlah kasus

Meski begitu, negara bagian dengan beban kasus lebih rendah mungkin akan diizinkan untuk mencabut pembatasan mereka bahkan jika negara secara keseluruhan tidak bisa.

“Negara-negara bagian yang bukan daerah berisiko, jika mereka mampu membuat tingkat kasus di bawah 50 kasus [per 100.000 penduduk per minggu] dengan stabil dan berkelanjutan, maka memiliki kesempatan untuk melonggarkan pembatasan,” kata Manuela Schwesig, Perdana Menteri negara bagian Mecklenburg-Western Pomerania kepada radio Deutschlandfunk pada Senin (23/11).

Schwesig mengatakan bahwa tingkat kasus di negara bagian yang ia pimpin saat ini berkisar sekitar 46 kasus per 100.000 untuk minggu sebelumnya, menurutnya belum memenuhi syarat untuk meredakan pembatasan karena tingkat kasusnya masih berada sangat dekat dengan ambang batas. Ia mengatakan angka yang pantas adalah 35 kasus [per 100.000].

Perdana Menteri negara bagian Saxony-Anhalt, Rainer Haseloff, yang sejatinya sangat kritis terhadap tindakan lockdown, mengatakan pada Senin (23/11) bahwa setiap orang mengakui “persyaratan fundamental” untuk memperpanjang tindakan pembatasan. (gtp/ pkp)

Laporan Pilihan