1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan kunjungannya ke Kiev dan Moskow akan membahas perihal perdamaian di Eropa
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan kunjungannya ke Kiev dan Moskow akan membahas perihal perdamaian di EropaFoto: Wolfgang Schwan/AA/picture alliance

Jerman Akan Jatuhkan Sanksi kepada Rusia Jika Serang Ukraina

14 Februari 2022

Menjelang pembicaraannya di Kiev dan Moskow, Kanselir Jerman Olaf Scholz telah memperingatkan Rusia tentang hukuman berat jika menyerang Ukraina. AS mengatakan serangan militer oleh Kremlin bisa terjadi "kapan saja."

https://www.dw.com/id/jerman-akan-jatuhkan-sanksi-kepada-rusia-jika-serang-ukraina/a-60766599

Kanselir Jerman Olaf Scholz pada hari Minggu (13/02) mendesak Moskow untuk meredakan ketegangan dengan Ukraina dan memperingatkan Rusia bahwa mereka akan menghadapi sanksi "segera" jika menyerang tetangganya itu.

Hal tersebut ia katakan dalam perjalanan menuju Kiev dan Moskow untuk menyerukan pembicaraan keamanan karena adanya potensi besar konflik militer antara Rusia dan Ukraina.

Surat kabar Jerman Der Spiegel melaporkan pada hari Jumat (11/02) bahwa militer Rusia, yang memiliki lebih dari 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina, dapat menyerang pada hari Rabu (16/02), mengutip sumber-sumber intelijen. Pejabat AS pada hari Minggu (13/02) mengatakan mereka tidak dapat mengkonfirmasi laporan tersebut.

"Kami tidak dapat memprediksi hari tersebut dengan sempurna, tetapi kami sekarang telah mengatakan untuk beberapa saat bahwa kita semakin dekat, dan invasi dapat dimulai – aksi militer besar dapat dimulai – oleh Rusia di Ukraina kapan saja sekarang. Itu termasuk pekan mendatang sebelum Olimpiade berakhir," kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan.

Rusia membantah memiliki rencana untuk menyerang Ukraina dan mengatakan tindakannya merupakan tanggapan terhadap agresi oleh negara-negara NATO.

Sanksi dari Jerman

"Jika terjadi agresi militer terhadap Ukraina yang mengancam integritas dan kedaulatan teritorialnya, akan ada sanksi keras yang telah kami persiapkan dengan hati-hati dan yang dapat segera kami terapkan, bersama dengan sekutu kami di NATO dan Eropa," kata Scholz.

Scholz tidak menjelaskan secara spesifik sanksi apa yang akan ia jatuhkan, tetapi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) sebelumnya telah memperingatkan akan menargetkan bank-bank Rusia untuk dijatuhkan sanksi. Proyek pipa gas Nord Stream 2, yang sedang menunggu persetujuan peraturan Jerman untuk mengirimkan gas Rusia ke Eropa di bawah Laut Baltik, juga dapat dihentikan.

Scholz dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Senin (14/02) dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada keesokan harinya, Selasa (15/02). Namun, tapmpaknya Berlin tidak berekspektasi tinggi akan "hasil nyata" dari pembicaraan itu.

Dilansir kantor berita Reuters, Scholz akan menjelaskan bahwa negara-negara Barat bersatu dan agresi apa pun yang dilakukan Rusia akan memicu "sanksi yang menyakitkan dan berat" terhadap Rusia.

Wakil Kanselir dan juga Menteri Ekonomi Robert Habeck menegaskan pada hari Minggu (13/02) bahwa Eropa mungkin berada di ambang perang. "Itu benar-benar menindas dan mengancam," ujar Habeck dalam wawancaranya dengan media RTL/NV.

Tak lama setelah terpilih kembali sebagai presiden Jerman pada hari Minggu (13/02), Frank-Walter Steinmeier meminta Putin untuk "melepaskan ikatan di leher Ukraina."

"Perdamaian tidak dapat terjadi begitu saja. Ini harus dibangun dalam dialog dan bila perlu, dengan kata-kata yang jelas, pencegahan, dan tekad," lanjut Steinmeier.

Harapan untuk terobosan diplomatik

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan diplomasi masih bisa menyelesaikan kebuntuan antara Rusia dan Ukraina. Ia juga menambahkan bahwa risiko invasi Rusia cukup tinggi untuk menjamin penarikan staf kedutaan AS keluar dari Kiev.

"Jalan diplomatik tetap terbuka. Cara Moskow menunjukkan bahwa mereka ingin menempuh jalan itu sederhana. Itu harus dikurangi, bukan meningkat," kata Blinken pada hari Sabtu (12/07) di Hawaii.

Beberapa negara lain, termasuk Jerman, telah menyarankan warganya untuk meninggalkan Ukraina.

Kesibukan pertemuan dan panggilan telepon dalam beberapa hari terakhir antara pejabat tinggi Barat dan Rusia tidak menghasilkan tanda-tanda terobosan untuk menyelesaikan meningkatnya ketegangan selama beberapa minggu terakhir di Ukraina.

Dalam panggilan telepon selama satu jam pada hari Sabtu (12/02), Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada Putin bahwa Barat akan menanggapi dengan tegas setiap invasi, menambahkan langkah seperti itu akan menghasilkan penderitaan yang meluas dan mengisolasi Moskow.

Sementara Putin mengatakan Rusia menginginkan jaminan keamanan dari Barat yang mencakup memblokir bergabungnya Ukraina ke dalam NATO, menahan diri dari penyebaran rudal di dekat perbatasan Rusia, dan mengurangi infrastruktur militer NATO di Eropa.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace memperingatkan agar tidak menaruh terlalu banyak harapan dalam pembicaraan, dengan mengatakan "ada bau Munich di udara dari beberapa orang di Barat," mengacu pada pakta tahun 1938 yang gagal menghentikan ekspansionisme Jerman di bawah Adolf Hitler.

"Hal yang mengkhawatirkan adalah, terlepas dari peningkatan diplomasi dalam jumlah besar, pembangunan militer itu terus berlanjut," katanya kepada surat kabar The Sunday Times.

Lebih banyak bantuan dari Jerman untuk Ukraina

Sementara itu, dilaporkan Jerman sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan dukungan ekonominya ke Ukraina.

Sejak aneksasi Krimea pada tahun 2014, Jerman telah mengirimkan bantuan keuangan bilateral senilai €2 miliar (Rp32 triliun), lebih banyak dari negara mana pun.

Saat ini kedua negara masih berselisih soal pengiriman senjata  ke zona krisis, yang secara prinsip ditolak Berlin, sejalan dengan kebijakan yang ditempuh negara itu setelah Perang Dunia II. Daftar permohonan dari Kedutaan Ukraina tertanggal 3 Februari lalu termasuk sistem pelacakan elektronik, peralatan ranjau, pakaian pelindung, radio digital, stasiun radar, dan peralatan penglihatan malam.

Dalam sebuah wawancara dengan radio publik Jerman pada hari Minggu (13/02), Duta Besar Ukraina untuk Jerman Andrij Melnyk meminta Scholz untuk mengumumkan paket bantuan bernilai "miliaran" ketika dia mengunjungi Kiev.

rap/ha (AFP, AP, dpa, Reuters)