Jepang dan Indonesia Setujui Perjanjian Perdagangan Bebas | dunia | DW | 28.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jepang dan Indonesia Setujui Perjanjian Perdagangan Bebas

Kesepakatan bisnis tersebut mencakup perdagangan produk barang, jasa dan penanaman modal.

Indonesia dan Jepang mencapai kesepakatan ke arah sistem perdagangan bebas dengan Jepang. Demikian hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongannya di Jepang. Kesepakatan bisnis tersebut mencakup perdagangan produk barang, jasa dan penanaman modal. Sementara bea masuk barang-barang ekspor juga akan dibebaskan sebagian dan sisanya diturunkan. Sementara Indonesia menyetujui kontrak penyediaan gas alam cair LNG untuk Jepang, importer LNG terbesar di dunia.

Kesepakatan perdagangan bebas bilateral antara Indonesia dan Jepang diperkirakan dapat terlaksana pada pertengahan tahun 2007. Sebab dibutuhkan perundingan teknis sebelum perdagangan bebas dengan Jepang itu bisa terwujud. Sekitar 90 persen barang, seperti misalnya produk industri, buah, sayuran dan udang, akan mengalami penurunan dan pembebasan tarif. Sementara Indonesia juga akan membebaskan tarif masuk untuk berbagai produk Jepang, diantaranya barang-barang elektronik dan mobil serta produk baja.

Para eksportir industri teksil dari Indonesia gembira menyambut komitmen pemerintah Jepang untuk mengurangi bea masuk tersebut. Sebab selama ini Jepang menetapkan bea masuk tekstil sangat tinggi, kisarannya bahkan mencapai 20 sampai 30 persen dari nilai ekspor. Padahal dari total 8,6 miliar Dolar Amerika keseluruhan nilai ekspor Indonesia ke Jepang, 20 persennya adalah produk tekstil. Irwandi Muslim dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia API mengingatkan pemerintah agar kesepakatan ini tak hanya berhenti di jajaran pengambil kebijakan, namun juga harus ditindaklanjuti oleh para pejabat terkait.

Sementara itu, di bidang pertanian, sejumlah produk juga akan mengalami penurunan bea masuk. Namun menurut Sekretaris Jendral Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, HKTI, Rahmat Pambudi, upaya tersebut tidaklah cukup. Sebab bukan hanya persoalan bea masuk saja yang selama ini menjadi kendala petani Indonesia dalam mengekspor produknya, namun persyaratan standar mutu yang sangat tinggi, selalu menjadi ganjalan. Sehingga produk pertanian Indonesia sukar sekali masuk ke pasar Jepang. Rahmat Pambudi mendesak kemauan politik dari pemerintah Jepang untuk memberikan bantun teknis untuk menaikan standar mutu produk Indonesia.

Kesepakatan bisnis kedua negara juga mencakup komitmen Indonesia untuk mengamankan pasokan gas alam cair LNG ke negeri matahari terbit itu. Jepang merupakan importir LNG terbesar di dunia.

Di bidang perhubungan, Jepang akan membantu pendanaan proyek pembuatan Mass Rapid Transit MRT atau sistem transportasi massal modern di Jakarta. Pinjaman Jepang mencapai sekitar 800 juta Dollar Amerika. Kontruksi MRT tersebut mulai akan dibangun akhir 2008.

  • Tanggal 28.11.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAl
  • Tanggal 28.11.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAl
Iklan