Jelang KTT Uni Afrika di Etiopia | Fokus | DW | 29.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Jelang KTT Uni Afrika di Etiopia

"Ilmu pengetahuan, teknologi,dan penelitian untuk pembangunan.“ Inilah sebenarnya slogan konferensi tingkat tinggi Uni Afrika tahun ini.

Logo Uni Afrika

Logo Uni Afrika

Namun, sepertinya slogan ini hanya akan berada di belakang layar saja. Senin (29/01) ini, uang dan tentara akan dikumpulkan dari negara-negara di Afrika, Eropa dan Amerika bagi pembentukan pasukan perdamaian Somalia.

Pada KTT tersebut, utusan Uni Eropa Louis Michel akan kembali mengingatkan pemerintahan Somalia, bahwa dana bantuan sebesar 15 juta Euro baru akan diturunkan jika terbentuk suatu pemerintahan yang menyatukan semua kelompok dan aliran politik di negara itu. Bagaiman pandangan pihak Somalia mengenai tuntutan Uni Eropa, dijelaskan oleh duta besar Somalia bagi Uni Afrika, Abdikarin Farah.

"Kami mengatakan: Siapa yang ingin mengatur kami, maka silahkan saja ia simpan uangnya itu. Menyatukan semua warga Somalia adalah keinginan kami sendiri. Ini bukan tugas Komisi Eropa atau Louis Michel untuk memerintahkan kepada kami apa yang harus kami lakukan. Kami telah cukup menderita dalam 16 tahun terakhir. Amerika telah menolong kami. Terima kasih untuk itu. Eropa juga dan mereka dapat terus menolong kami. Namun, jika ini mengenai persetujuan bantuan, maka tidak ada yang bisa mengatakan kepada kami: saya memberikan kalian uang dan untuk itu kalian harus melakukan ini dan itu.“

Sementara itu, pengumuman dari Washington bahwa pasukan berjumlah sekitar 9.000 tentara sudah akan tiba pertengahan Februari di Somalia, mungkin terlalu optimistis. Memang sejauh ini Malawi, Uganda, Nigeria, dan Ghana telah mengatakan akan mengirimkan sebagian dari pasukan mereka, namun dana sebesar 120 juta Dolar Amerika untuk enam bulan pertama saja, belum jelas hingga sekarang. Padahal, situasi di Mogadishu semakin kacau semenjak pasukan Etiopia secara bertahap menarik mundur tentaranya.

Jadi, kini tergantung pada komunitas internasional, apakah mereka akan mendanai suatu pasukan Uni Afrika atau siap menghadapi konsekuensinya jika tidak. Demikian perkataan Duta Besar Kenya Bethuel Kiplagat yang terlibat dalam pembentukan pemerintahan Somalia saat ini.

"Pertanyaannya adalah, apakah komunitas internasional siap mendanai pasukan ini? Jika tidak, saya khawatirkan, pasukan ini tidak akan pernah terwujud. Dan kemudian, komunitas akan harus siap untuk mengurusi masalah pengungsi dan terorisme.“

Selanjutnya, masih ada keinginan Sudan untuk menjabat sebagai ketua Uni Afrika yang akan menambah ketegangan jelang KTT ini. Tahun lalu, setelah timbul protes besar-besaran, Republik Kongo lah yang akhirnya menduduki jabatan tersebut. Tahun ini pun sepertinya pencalonan Khartum akan kembali gagal. Protes kembali berdatangan dari negara-negara Afrika di wilayah barat dan selatan. Organisasi-organisasi kemanusiaan juga menunjukkan fakta, bahwa saat ini anggota pemerintahan Sudan tengah diperiksa oleh mahkamah pidana internasional dan serangan bom Sudan terhadap desa-desa di Darfur.

Berikut pendapat Achieng Akena, juru bicara kelompok lobi 'Darfur Consortium’: "Di masa lalu, Uni Afrika sangat terlibat dalam usaha menciptakan perdamaian di Darfur. Sangat tidak sesuai, jika Sudan berperan sebagai mediator dalam posisinya sebagai presiden Uni Afrika jika di saat yang bersamaan mereka lah pihak yang tengah berperang. Jika Presiden Bashir memperoleh jabatan ini, maka kepercayaan orang terhadap institusi Uni Afrika akan rusak.“

Sekjen PBB yang baru Ban Ki Moon telah menyatakan bahwa Afrika dan khususnya Darfur akan menjadi fokus utamanya. Dalam perjalanan luar negeri pertamanya, ia kini langsung berada dalam tekanan. Karena baik permasalahan di Darfur, maupun Somalia, tidak dapat menunggu lebih lama lagi.