Jelang KTT PBB | Fokus | DW | 14.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Jelang KTT PBB

KTT PBB yang akan berlangsung hari Selasa (19/09) mendatang sepertinya tidak akan membahas reformasi, melainkan krisis.

Sekjen PBB Kofi Annan: PBB kekurangan pasukan perdamaian

Sekjen PBB Kofi Annan: PBB kekurangan pasukan perdamaian

Presiden AS Bush dan Presiden Iran Ahmadinejad diperkirakan akan hadir di sana. Perwakilan kubu Barat dan Iran, yang menurut Sekjen PBB Kofi Annan, saling mencurigai, namun harus saling berbicara.

"Tidak ada yang tertarik dengan konfrontasi. Para kepala pemerintahan mengatakan kepada saya: Kami tidak sanggup menghadapi lebih banyak krisis di wilayah tersebut.“

Krisis Darfur Masalah Besar

Karena itu, Annan berkali-kali menekankan, bahwa penghentian pengayaan uranium bagi Teheran bukanlah tema yang tabu. Berlawanan dengan Amerika Serikat, Sekjen PBB ini memperingatkan akan batas waktu dan sanksi dan perundingan dengan Uni Eropa. Annan yang berada dalam posisi kuat mengenai masalah sengketa atom, tampak putus asa saat ditanyakan mengenai masalah krisis lain yang tengah berlangsung di Darfur.

"Kita tengah menuju suatu bencana.“

Selama bertahun-tahun seruan Annan tidak didengar. Ia kini mengkhawatirkan akan terjadi tragedi seperti di Rwanda. Bagi Annan, kekacauan tidak lagi dapat dihindari jika Sudan tidak membiarkan pasukan PBB memasuki wilayah mereka.

"Warga Sudan mengatakannya dengan jelas. Mereka bilang, jika kami menginginkan Irak yang kedua, silahkan saja masuk.“

Pasukan Perdamaian PBB

Akhir September nanti, dua juta pengungsi dan para organisasi bantuan berada di sana tanpa perlindungan. Ini akan terjadi jika rezim di Khartum di detik.detik terakhir tidak mengijinkan penggantian pasukan Afrika dengan pasukan helm biru. Annan menuntut para kepala pemerintahan di dunia untuk menerapkan pengaruh mereka terhadap Sudan, setidaknya paling lambat pada KTT PBB mendatang. Karena untuk penurunan pasukan yang berlawanan dengan kemauan negara tersebut, Annan tidak hanya tidak memiliki persetujuan Dewan Keamanan PBB, ia juga kekurangan tenaga militer.

"Kami kewalahan dengan penempatan pasukan di seluruh dunia. Lihat saja, NATO yang kesulitan untuk medapatkan 2.500 tentara tambahan bagi Afghanistan.“

Kini lebih dari 100.000 pasukan helm biru tengah bertugas dengan adanya krisis baru di Libanon dan Timor Timur. Lebih dari 20.000 tentara dibutuhkan di Darfur. Dan ini tidak dapat dikumpulkan oleh Annan.

Dukungan yang tidak terduga bagi Annan datang dari peraih penghargaan Nobel Perdamaian Elie Wiesel dan aktor George Clooney. Kamis (14/09) ini, mereka akan menghadiri pertemuan tertutup dengan Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan informasi akan krisis yang terjadi di Sudan Barat. Menteri Luar Negeri Sudan baru akan tampil di hari terakhir KTT, yaitu akhir September. Saat itu terjadi, mungkin keputusan untuk menurunkan pasukan secara cepat di Darfur sudah terlambat.