Jejak Peninggalan Yahudi yang Kian Meredup di Irak | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 07.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Yudaisme

Jejak Peninggalan Yahudi yang Kian Meredup di Irak

Omar Farhadi menghangatkan makan malam untuk tetangganya yang Yahudi yang beristirahat pada hari Sabat. Hanya sedikit tersisa kaum Yahudi di Irak. Peninggalan budaya Yahudi pun berisiko memudar.

Yahudi Irak

Kehidupan Yahudi Kurdis di Irak

 

Di seluruh Irak, akar Yahudi tertanam begitu dalam. Nabi Ibrahim atau Abraham dalam teks-teks teologi disebutkan lahir di Ur di dataran selatan negara itu. Talmud Babilonia, naskah diskusi nabi-nabi Yudaisme, tersusun di kota dengan nama yang sama di negara Timur Tengah ini.

Kaum Yahudi pernah menjadi 40 persen dari populasi Baghdad, demikian menurut sensus tahun 1917.

Tetapi setelah pembentukan negara Israel pada tahun 1948, ketegangan regional meroket dan kampanye antisemit terus berlangsung, yang akibatnya memicu sebagian besar kaum Yahudi di Irak untuk melarikan diri. Demikian dilansir kantor berita AFP.

Di utara, ibu kota wilayah Kurdistan Irak, Arbil pernah menjadi jantung kerajaan kuno Adiabene, yang menganut Yudaisme pada abad ke-1 dan membantu mendanai pembangunan tempat ibadah di Yerusalem.

Yang tersisa tinggal kenangan

Saat ini, warga Irak memiliki kenangan indah akan teman dan tetangganya yang Yahudi, termasuk Omar Farhadi yang berusia 82 tahun. Dulu ayahnya memiliki toko di distrik Arbil di mana mayoritas penduduknya adalah kaum Yahudi.

Farhadi sendiri memiliki beberapa teman sekelas Yahudi di sekolah dan belajar bahasa Inggris dari seorang guru Yahudi, Benhaz Isra Salim.

"Suatu hari di awal tahun 1950, Profesor Benhaz datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada guru bahasa Arab kami. Mereka berpelukan dan mulai menangis karena Benhaz pergi ke Israel," kenangnya. "Kami semua, para pelajar, juga mulai menangis. Itulah akhir dari kehidupan orang-orang Yahudi di Arbil."

Pada tahun 1948, diperkirakan 150.000 orang Yahudi di Irak melarikan diri dengan cepat dari negara itu. Pada tahun 1951, 96 persen dari mereka menghilang. Jika bertahan berarti menghadapi diskriminasi yang makin berkembang dan perampasan properti.

Menyusul invasi pimpinan AS tahun 2003, beberapa orang Yahudi diterbangkan ke Israel dengan penerbangan evakuasi khusus sementara yang lain pergi di tahun-tahun berikutnya di tengah perang sektarian.

Pada tahun 2009, hanya ada delapan orang Yahudi yang tersisa di Bagdad, demikian menurut data bocoran kabel diplomatik yang diterbitkan oleh Wikileaks.

Kekerasan internal tidak mencengkeram wilayah Kurdi

Undang-undang tahun 2015 di zona Kurdi mengakui Yudaisme sebagai agama yang dilindungi dan punya perwakilan resmi, sebuah pos yang sekarang dipegang oleh Sherko Abdallah. Ia berusia 58 tahun.

Undang-undang tersebut, dan tidak banyaknya konflik sektarian di zona tersebut, menciptakan lingkungan yang "lebih hidup berdampingan" dibandingkan dengan wilayah yang dikelola pemerintah federal di selatan, kata Abdallah kepada AFP.

Namun tetap saja, dari perkiraan 400 keluarga Yahudi yang tersisa di zona Kurdi, beberapa orang telah pindah ke agama Islam dalam beberapa tahun terakhir.

"Kebanyakan orang melaksanakan ibadah Yahudi secara rahasia, karena masalahnya Yahudi masih menjadi masalah sensitif di Irak," ujar Abdallah, seraya menambahkan bahwa "koneksi"-nya di komunitas mayoritas muslim telah membantunya tetap aman. Namun, identitas yang sebenarnya meredup.

Dia mengajukan izin resmi untuk membangun pusat komunitas Yahudi tetapi hingga kini belum menerima persetujuan resmi. "Saya ingin seorang pemimpin Yahudi datang mengajari kami adat istiadat yang benar, tetapi itu tidak mungkin dalam kondisi saat ini," tambah Abdallah.

Dan kontak antara sedikit keluarga yang tersisa dan sekitar 219.000 orang Yahudi asal Irak di Israel - kontingen terbesar dari asal Asia - semakin sulit dilakukan.

"Sekarang, orang-orang Yahudi Irak yang pergi ke Israel pada tahun 1950-an masih berusaha menemukan jalan kembali ke wilayah Kurdi dengan menggunakan kartu identitas Irak mereka," kata Abdallah kepada AFP.

"Tapi dalam lima tahun lagi, mereka  mungkin akan meninggal dan seluruh hubungan akan terputus."

Tinggal sedikit yang bisa dilihat

Banyak rumah Yahudi disita oleh pemerintah negara Irak sebelum tahun 2003, dan sekolah, toko, dan sinagog Yahudi di seluruh negeri sebagian besar runtuh karena kurangnya perawatan.

Di utara, warisan Yahudi sedikit lebih terawat. Museum Pendidikan Arbil, yang bertempat di sekolah dasar tertua di kota, memiliki ruangan yang didedikasikan untuk Daniel Kassab, seorang guru seni dan pelukis Kurdi Yahudi yang terkenal.

Penduduk Halabja, Zakho, Koysinjaq dan bagian lain Kurdistan masih mengacu pada budaya Yahudi.

Di Al-Qosh, makam nabi Yahudi, Nahum sedang dipulihkan melalui hibah 1 juta dolar AS dari Amerika Serikat serta dana dari otoritas lokal dan sumbangan pribadi.

Baghdad dan Washington kini sedang dalam pembicaraan untuk mengembalikan arsip Yahudi di Irak, di mana lebih dari 2.700 buku dan puluhan ribu dokumen dibawa pergi ke AS setelah invasi.

Inisiatif semacam itu dapat menyelamatkan warisan Yahudi di seluruh negeri, termasuk rumah Sassoon Eskell di Baghdad, yang merupakan menteri keuangan pertama Irak, di bawah mandat Inggris.

Eskell mendirikan sistem keuangan pertama Irak. "Dia adalah salah satu tokoh dalam sejarah Irak. Tiada orang lain yang seperti dia," kata Rifaat Abderrazzaq, pakar warisan Yahudi di Baghdad.

Tapi kini, rumah Eskell di tepi Sungai Tigris di ibu kota terbengkalai dan sebagian tampak hancur."Hampir tidak ada warisan Yahudi yang indah dan tersebar luas di Baghdad yang tersisa," keluh Abderrazzaq.

ap/vlz (afp, timesofisrael, cna)