1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jasa Digital Penghibur Rindu Mahasiswa Asing

Bianca Schröder24 Maret 2013

Melihat pesan terbaru di Facebook, menelefon ke rumah lewat Skype. Itu menjadi kehidupan sehari-hari banyak mahasiswa asing. Tapi bagi integrasi di tempat kuliah, internet bisa menjadi penghambat.

https://p.dw.com/p/182iU
ILLUSTRATION - Eine Frau loggt sich am 04.08.2011 in Berlin auf einem iPad bei Facebook ein.
Facebook iPadFoto: picture alliance/dpa

Samantha Rouse tahu benar potensi kecanduan lewat jejaring sosial. Dengan laptop dan smartphone di koper, mahasiswi informatik asal Inggris itu, Oktober 2012 datang untuk studi satu tahun di Freie Universität Berlin. Ia tidak diserang rasa rindu kampung halaman, karena lewat Facebook dapat terus berkomunikasi dengan teman-temannya, dalam Bahasa Inggris.

Hubungan dengan rumah tidak hanya bersifat positif. Ketika Desember Rouse masih mengalami kesulitan mengikuti kuliah dalam Bahasa Jerman, ia menarik konsekuensi. "Janji saya untuk tahun baru, tidak lagi mengunjungi Facebook!"

Hanya tiga pekan mahasiswi program bea siswa Erasmus tahan tidak masuk ke Facebook, tapi kini ia memakai jejaring sosial lebih selektif. Tidak lagi terlalu sering untuk berkomunikasi dengan temannya di Inggris, melainkan untuk chatting dengan teman-temannya di Berlin, mengorganisir pesta dan meminta bantuan dalam materi kuliah.

Screen © lassedesignen #29930432
Simbol mahasiswa menggunakan jasa internetFoto: lassedesignen/Fotolia

Lebih Mudah dan Murah daripada Perangko dan Telefon

Peluang tanpa susah payah atau biaya mahal menelepon ke rumah dapat membuat kehidupan di luar negeri lebih ringan. Bagi mahasiswa Bachelor asal Brasil Philip Sherk, jejaring sosial bahkan menjadi faktor penentu keputusan menempuh studi ke Berlin. "Jika tidak, saya tidak akan mengambil keputusan ini." Menelefon dinilainya terlalu mahal, menulis surat dan e-mail terlalu rumit. Dalam situasi kehidupan baru dan kritis, termasuk kuliah di luar negeri, warga muda banyak menghabiskan waktu terutama di internet. Ini ditunjukkan studi terbaru. Alasannya, kemungkinan kontak dan bertukar informasi secara virtual memberi mereka rasa aman. Tapi jejaring sosial juga punya sisi buruk.

An einem Schild der Freien Universität Berlin gehen Studenten am Freitag (19.10.2007) in Berlin entlang. Die FU Berlin wird deutsche Elite-Universität. Diese Entscheidung traf der zuständige Bewilligungsausschuss am Freitag (19.10.) in Bonn. Die FU wurde am 4. Dezember 1948 gegründet. Foto: Rainer Jensen dpa/lbn +++(c) dpa - Report+++
Freie Universität BerlinFoto: picture-alliance/dpa

Kegiatan Olahraga ketimbang Facebook

"Jika saat konsultasi seorang mahasiswa mengeluh merasa tidak betah dan tidak maju kuliahnya, seringkali jejaring sosial jadi faktor penyebab utama" kata Hans-Werner Rückert, pimpinan bagian konsultasi perkuliahan dan psikologi pada Freie Universität Berlin. Karena itu mahasiswa sebelum menempuh masa studi di luar negeri, sudah harus memikirkan, bagaimana mereka dapat berintegrasi di tempat yang asing. Apakah lewat kegiatan olah raga atau kegiatan lainnya. "Dan mereka harus mempertimbangkan, apakah dengan chatting di Facebook mereka mencari kompensasi kurangnya hubungan di tempat kuliah barunya."

Juga di bagian konsultasi psikologis perguruan tinggi Jerman lainnya selalu ada mahasiswa asing yang bermasalah dengan integrasi, dan salah satu penyebabnya adalah penggunaan jasa internet.

Ein iPhone mit der Software des Internettelefonie-Anbieters Skype ist in Kassel vor einem Laptop zu sehen (Foto vom 11.04.2009). Die Telekom-Mobilfunktochter T-Mobile sperrt in Deutschland den Skype-Zugang auf dem Apple-Handy iPhone. Bei Skype können Nutzeruntereinander kostenlos telefonieren - damit könnten sie also die T- Mobile-Gesprächsgebühren umgehen. Foto: Uwe Zucchi dpa/lhe +++(c) dpa - Report+++
Smartphone Apps - SkypeFoto: picture-alliance/dpa

Menggunakan Internet sebagai Bursa Kontak

Fungsinya amat beragam. Bila bagi yang satu mencari teman-teman baru, yang lain memakainya untuk berintegrasi di tempat kuliah. Mahasiswi Bulgaria Sibila Atanosa yang menempuh studi Master di Berlin, setiap hari berhubungan dengan keluarga dan teman-teman lamanya lewat Facebook dan Skype. Meski demikian ia merasa betah di Berlin. Pada kenyataannya internet bahkan membantunya membina kehidupan di Jerman. Karena perempuan berusia 24 tahun itu menemukan apartemen maupun kerja sambilan melalui jejaring sosial.

Bagi calon psikolog Atanosa, internet bukan sarana mengalihkan perhatian dari kehidupan dan kuliah di Berlin, melainkan sudah menjadi bagian kehidupannya, yang terdiri dari kehidupan real dan virtual.