Jantung Perempuan Lebih Rentan Dibanding Jantung Pria | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 05.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesehatan

Jantung Perempuan Lebih Rentan Dibanding Jantung Pria

Ketahanan jantung pada perempuan ternyata lebih rendah. Padahal serangan jantung kerap dianggap penyakit khas pria. Ini disebabkan ketidakseimbangan riset.

Martha Schroff terkena serangan jantung tahun lalu. Padahal ia sering berolahraga, dan tidak pernah sakit berat. Dia tidak pernah menduga bisa terkena serangan jantung. Hingga sekarang, ia belum sembuh sepenuhnya.

"Saya hidup sehat. Tidak minum alkohol, tidak merokok. Semua persyaratan hidup sehat, saya penuhi. Karena saya tidak merasakan jantung sakit, saya sama sekali tidak menduga, bisa terserang," tutur Martha Schroff.

Serangan jantung bukan penyakit khas pria

Serangan jantung, biasanya dianggap penyakit khas pria. Tapi itu tidak benar. Perempuan yang tekanan darahnya tinggi, berisiko jauh lebih tinggi terkena serangan jantung. Mereka juga lebih sering meninggal karenanya.

Ahi Kardiologi Catherine Gebhard ingin mengubah itu. Ia meneliti dan mengajarkan kedokteran gender dengan fokus pada jantung. Masalahnya, antara pria dan perempuan risetnya sangat tidak seimbang. Menurut sebuah studi yang baru saja dipublikasikan, datanya 85% pria dan hanya 15% perempuan, kata Catherine Gebhard.

Tonton video 04:10

Bias Gender dalam Perawatan Kesehatan

Konsekuensinya: akibat kurangnya data dan studi klinis, perempuan lebih sering terkena efek samping dibanding pria. "Sekitar 1,5 sampai 2 kali lebih sering. Pedoman yang biasa kita gunakan, sebenarnya berlaku terutama untuk pria. Untuk perempuan tidak ada pedoman." Demikian tandas Catherine Gebhard. 

Seperti Martha Schroff, banyak perempuan terlambat memberikan reaksi, karena mereka terlambat mengenali simtom. Tapi Martha Schroff sebenarnya masih beruntung.

Jantung perempuan lebih rentan terhadap stres

Dilihat dari ilmu kedokteran, ada perbedaan antara pria dan perempuan. Dalam hal jantung, itu bisa terlihat jelas. Misalnya: jantung perempuan menciut di usia lanjut, sementara jantung pria membesar sedikit.

Catherine Gebhard juga menduga, jantung perempuan lebih rentan terhadap stres. Dalam sebuah studi dengan masing-masing 32 perempuan dan pria di usia 50-70, ia meneliti bagaimana hubungan jantung dan otak.

Alat pindai hibrida yang canggih ini bisa mendeteksi semua organ lunak dan fungsinya. Jadi kerjasama antara jantung dan otak bisa diperiksa dengan mudah. Selama pemeriksaan, Gebhard menempatkan orang yang dites dalam situasi stres terus-menerus.

Gangguan pendarahan di jantung akibat stres

Dari tes yang dilakukan bisa dilihat, saat stress, pusat rasa takut di otak, yaitu Amigdala, jadi bagian yang dipenuhi substansi. Bagian itu tampak sangat aktif. Hasil pemindaian dari jantung juga menunjukkan hal yang bisa dicatat. Setelah stres, sebuah area dekat jantung mengalami ganguan peredaran darah. 

"Itu semua menyebabkan perempuan lebih gampang cedera, misalnya jika terkena serangan jantung," tandas Catherine Gebhard.

Jadi stres pada perempuan bisa menyebabkan penyakit jantung. Dengan studi itu, Gebhard ingin mengembangkan metode perawatan yang lebih baik bagi perempuan. "Orang harus mengikutsertakan situasi stres dalam terapi, dan secara terarah menawarkan langkah untuk mengurangi stres bagi perempuan."

Martha Schroff masih merasa lemah sejak terkena serangan jantung. Apakah jantungnya akan sepenuhnya sembuh kembali, ia tidak tahu. Baginya, penelitian kedokteran gender pada jantung datang terlambat. (ml/yp)