Jalur Gaza: Antara Harapan dan Kekhawatiran | Fokus | DW | 28.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Jalur Gaza: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Gencatan senjata antara Israel dan Palestina ditanggapi beragam di kedua kawasan.

Serdadu Palestina berpatroli di utara Jalur Gaza Senin (27/11) setelah gencatan senjata

Serdadu Palestina berpatroli di utara Jalur Gaza Senin (27/11) setelah gencatan senjata

Kubu kanan di Israel khawatir, pihak Palestina hanya akan memanfaatkan gencatan senjata ini untuk memperbaiki persenjataan. Gencatan senjata adalah langkah yang salah, kata ketua partai oposisi dari kalangan nasionalis, mantan Jendral Effi Eitam. Ia menambahkan:

"Kita sedang masuk perangkap seperti di Libanon. Di sana kita juga bersabar menunggu, padahal sudah jelas apa yang dilakukan lawan kita. Kali ini situasinya malah lebih jelas lagi. Kita hanya mengikat tangan sendiri, seperti di Libanon. Semua ahli militer mengatakan, ini perangkap.”

Tidak hanya pihak oposisi yang skeptis. Juga di kalangan partai Kadima pimpinan Perdana Menteri Ehud Olmert, banyak yang ragu. Ketua Komisi Luar Negeri di parlemen, Tzahi Hanegbi mengatakan:

“Kita harus melihat gencatan senjata ini seperti apa adanya: ini adalah gong jeda dalam pertandingan tinju. Pertandingan ini tidak diakhiri dengan KO. Kedua petinju masih duduk di bangku di sudut mereka masing-masing. Pelatih dan pembantu menyeka darah dari muka mereka, pelatih membisikkan instruksi terakhir. Kemudian gong berbunyi dan pertarungan dimulai lagi.”

Tapi Menteri Pertahanan Amir Peretz berharap, gencatan senjata kali ini benar-benar bisa jadi titik balik bagi kedua pihak dalam konflik berdarah, sehingga langkah diplomatik bisa dirintis lagi. Dalam sebuah wawancara di radio Israel, Menteri Pertahanan Amir Peretz menyatakan:

“Gencatan senjata pada fase ini adalah langkah yang benar. Hal ini bisa membangkitkan dinamika baru, sampai ada titik balik menuju penyelesaian masalah-masalah penting. Misalnya pembebasan serdadu Gilad Shalit, dan kerangka yang lebih stabil menuju suatu kesepakatan. Ini bisa jadi awal saling pengakuan antara kedua pihak.“

Juga di kawasan Palestina banyak pihak berharap ada titik balik dalam konflik dengan Israel. Radio Palestina Senin (27/11) pagi memberitakan, pertemuan puncak antara Presiden Palestina Mahmud Abbas, PM Israel Ehud Olmert dan menteri luar negeri AS, Condolezzea Rice sedang disiapkan. Juru runding Palestina Saeb Erakat mengatakan, ada kemungkinan Abbas akan bertemu dengan presiden AS George W. Bush dalam kunjungannya ke Yordania.

Tapi di kalangan militan Palestina tidak ada reaksi berlebihan. Jika Israel tetap melanjutkan politik pembunuhan terarah di Tepi Barat, segera akan ada langkah balasan, demikian disebutkan. Langkah balasan yang dimaksud termasuk serangan bunuh diri.