Jadi Guru TK di Jerman: ″Saya dan Anak-anak Sama-sama Belajar Mengenal Diri Sendiri″ | NEGERI ORANG: Kisah unik warga Indonesia di Jerman | DW | 07.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

negeri orang

Jadi Guru TK di Jerman: "Saya dan Anak-anak Sama-sama Belajar Mengenal Diri Sendiri"

Bagaimana ketika Anda melihat guru putra-putri Anda bertato dan mengenakan anting di hidungnya? Guru TK di Jerman dan seorang ibu asal Indonesia ini berbagi pengalamannya.

Mencintai diri sendiri sebelum menjadi guru TK

Andra mencintai pekerjaannya sebagai guru TK

Siti Asiyah sempat heran ketika dulu pertama kali bertemu guru anak-anaknya di sekolah di Bonn, Jerman. “Ada guru yang berambut merah, pink dan ada yang bergaya tomboy, rambut cepak sebahu, pakaiannya macam-macam ada yang pakai rok dan sepatu tinggi, ada yang bertato sedikit, dan bahkan pakai anting di hidung. Rasanya aneh saja, tidak biasa, dan dulu ada kesan kalau orang bertato itu orang yang aneh,“ demikian ia mengisahkan awal perjumpaan dengan guru anaknya beberapa tahun silam. Namun pandangannya kemudian kini berubah.“Ketika melihat tingkah laku dan cara mendidiknya keren, seru dan benar-benar bagus, jadi salut, kagum dan senang,“ tuturnya. Kini anak Siti pun tumbuh menjadi pribadi yang berprinsip dan percaya diri.

Perempuan beranak tiga ini bercerita lebih lanjut, anaknya sempat berceletuk, bahwa gurunya cantik. "Bagi gurunya sendiri, celetukan itu tidak dianggap kurang ajar, karena setiap orang diajarkan terbuka untuk berbicara, sejauh tidak bertujuan negatif," kata Siti.

Sementara di Berlin, seorang guru taman kanak-kanak asal Indonesia, Andra Stefanowski menceritakan pengalamannya saat pertama kali bertemu anak-anak TK yang diajarnya. Mereka bertanya ia perempuan atau laki-laki. “Aku bilang aku perempuan. Mereka tanya lagi, kok rambutnya pendek? Aku jelaskan: ada banyak perempuan yang rambutnya pendek, ada juga laki-laki yang rambunya panjang. Kebetulan di TK aku ada anak-anak laki yang rambutnya panjang. Jadi aku bisa kasih contoh, karena kalau sama anak kecil, menjelaskan itu susah karena tidak seperti bicara dengan orang dewasa. Mereka butuh contoh. Jadi aku memberi contoh, perempuan rambutnya bisa pendek, ternyata. Tanpa menggurui, ada pengetahuan gender yang mereka dapatkan dari situ,“ ujarnya tersenyum.

Cassandra Stefanowski

Tempat mengajar tidak mempermasalahkan tato di tubuhnya

Yang terpenting kualitas mengajar

Sempat berpikir apakah harus menutupi tato di lengannya saat melamar kerja sebagai guru TK, Andra akhirnya memutuskan tampil apa adanya. Ternyata sang kepala sekolah yang mewawancarai perempuan yang bermukim di Berlin itu sama sekali tidak menanyakan tato yang membalut kulit di lengannya. Termasuk soal kemampuan bahasa Jermannya, mengingat Andra bukan penutur asli bahasa Jerman.

“Teman-teman kerja aku di TK itu, tatonya malah dari kepala sampai ujung kaki. Jadi ketika diinterview (kerja) itu dengan penampilan aku seperti begini, tidak dikomentari apa pun dari kepala sekolah. Kepala sekolah aku pertanyaannya langsung tentang kemampuan aku, tidak dilihat dari penampilan aku seperti ini, tetapi juga dari sudut pandang nasionalitas, karena saya bukan orang Jerman dan bahasanya juga bukan bahasa ibu saya, tetapi mereka tidak ada poin pertanyaan: Oh penampilannya kok seperti ini, bahasa Jermannya mungkin tidak bebas aksen. Tidak ada. Jadi benar-benar kualitas!” Andra tertawa lepas mengisahkan pengalamannya melamar kerja.

Mencintai diri sendiri

Andra menceritakan, ketika di awal kuliah pendidikan sebagai guru TK, pelajaran yang ia dapatkan bukan terkait psikologi anak atau tata cara mengajar, melainkan pelajaran pengenalan diri sendiri. “Aku diajari untuk mengetahui diri sendiri dulu, diajarkan untuk bisa intropeksi diri, refleksi diri, aku itu siapa sebenarnya, apa kekuatan aku, apa kekurangan aku. Intinya menjadi guru taman kanak-kanak itu panutan anak kecil. Bagaimana kita bisa menjadi panutan bagi anak-anak kecil atau memberi tahu mereka bahwa mereka harus tahu tentang dirinya sendiri, tahu tentang kebutuhan mereka, untuk mencintai diri sendiri, kalau itu tidak dimulai dari diri kita sendiri sebagai guru,“ tandasnya.

TK tempat Andra mengajar menggunakan metode „Open Concept“. Anak kecil dari usia satu tahun sudah bisa diterima di TK tersebut. Dalam „Open Concept” tidak ada pengelompokan umur, semuanya dicampur. Andra menjelaskan: “Jadi anak-anak kecil saling belajar untuk saling membantu. Yang kecil belajar sama yang besar. Yang besar saling menolong.” Hal penting yang ditanamkan dalam “Open Concept” itu adalah bagaimana anak dapat berpartisipasi, bisa mengeluarkan pendapat, dan mengetahui kebutuhan mereka.

Sejauh ini belum pernah Andra menerima keluhan dari orang tua murid atas penampilannya yang bertato dan sering berganti warna rambut, atau potongan rambutnya yang sangat pendek. “Kalau di Jerman, aku bisa menjadi diri aku sendiri, karena yang dilihat di sini adalah kualitas aku bagaimana bekerja sama dengan anak-anak. Dan yang penting menurut aku karena kita bebas berekspresi, dan bebas pakai baju apa, dalam artian baju layak untuk bekerja, dan menunjukkan karakter kita masing-masing,“ tutur Andra. Dengan kata lain, guru juga menunjukkan kepada anak-anak kecil bahwa mereka pun bisa menjadi diri mereka sendiri, bangga menjadi diri sendiri, dan cinta dirinya sendiri. “Bagaimana bisa mengajar anak-anak kecil, bahwa kamu harus mencintai diri sendiri, harus bangga dengan tampilan kamu seperti apa, jika kitanya sendiri tertutup, tidak bisa mengeksplorasi, mengekspresikan diri. Itulah mengapa aku senang di Jerman, dengan gaya aku seperti ini,“ tegas Andra.

Siti dan anaknya

Siti dan putranya kini yang sudah besar

Peran orang tua

Melihat sistem pengajaran yang cukup unik di Jerman, Siti Asiyah tidak merasa keberatan sama sekali dengan penampilan guru ketiga putranya. Ia menceritakan di sekolah anak-anaknya belajar mandiri. "Awalnya susah kami terima karena anak kelihatanya jadi kurang disiplin dan malas karena kami menilai guru anak-anak kami sepertinya kurang tegas dalam mendidik anak-anak di sekolahan. Lebih membiarkan anak semaunya sendiri, asal tidak mengganggu pembelajaran di kelas, oramg lain dan di sekolahannya. Hal ini awalnya terasa jadi beban orang tua untuk mendidik anak agar lebih disiplin, agar mempunyai nilai yang baik dan bisa mengikuti pelajaran yang ada. Jadi peran orang tua sangat penting sekali untuk mengawal dan membantu anak-anak dengan sistem seperti ini. Contohnya dengan sering kita harus sering mengobrol usai makan bersama, untuk menanamkan disiplin, atau menerangkan pentingnya sekolah untuk mereka, pentingnya disiplin diri walau di sekolahan tidak selalu ditekankan untuk itu. Namun di luar itu, anak-anak saya jadi mandiri,“ tutur Siti yang senang anaknya terkadang membantunya bekerja di bidang sosial maupun di rumah.

Soal pendidikan moral dan akhlak menurut ibu tiga anak ini adalah tanggung jawab orang tua masing-masing. Ia pun tidak takut anak-anak jadi berpenampilan berbeda-beda. Baginya anak-anak bebas untuk berekspresi, sejauh tidak merugikan atau menyakiti orang lain.