Israel Serang Penjara Palestina | Fokus | DW | 15.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Serang Penjara Palestina

Demonstrasi masih marak di Jalur Gaza setelah aksi militer tentara Israel berakhir.

Pembakaran mobil di depan Kedutaan Inggris di Palestina

Pembakaran mobil di depan Kedutaan Inggris di Palestina

Pendudukan penjara Palestina di Yericho oleh tentara Israel berakhir setelah sembilan jam. Selasa sore (14/03) enam anggota Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) yang diincar tentara Israel menyerahkan diri. Di antaranya Sekjen PFLP Ahmed Saadat. Keenam tahanan yang didakwa dalam kasus pembunuhan seorang menteri Israel tahun 2001 lalu, akhirnya diangkut ke sebuah penjara Israel.

Walau aksi militer Israel berakhir dengan penyerahan diri keenam tahanan tersebut, ribuan warga Palestina turun ke jalan untuk memprotes pendudukan penjara Palestina itu. Apa sebenarnya motif di balik pendudukan tersebut? Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Regev menjelaskan:

Regev: Masalahnya, pejabat pemerintahan Palestina secara resmi menyatakan akan melepaskan Ahmed Saadat. Dan situasi di Palestina memaksa pengamat internasional meninggalkan kawasan itu. Israel harus bertindak cepat, karena menangkap kembali tahanan akan membutuhkan operasi militer yang lebih besar.”

Regev menambahkan, pembebasan Ahmed Saadat menihilkan perjanjian yang disepakati 2002 lalu. Palestina menyetujui penahanan Ahmed Saadat di penjara Yericho di bawah pengawasan pengamat internasional. Sementara, Israel bersedia menghentikan pendudukan markas besar Yassir Arafat, presiden Palestina waktu itu.

Pemerintah Palestina tak tinggal diam mendengar pembenaran Israel atas penyerangan penjara di Yericho. Selasa (14/03), Presiden Palestina Mahmud Abbas menuduh, penarikan pengamat Amerika Serikat dan Inggris dari penjara itu melanggar kesepakatan bersama.

Sekjen Liga Arab Amre Mussa bahkan mencetuskan kecurigaan, adanya kompromi antara tentara Israel dan pengamat internasional. Mereka ditarik hanya beberapa saat sebelum operasi militer Israel dimulai. Dugaan itu ditepis Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw:

Jack Straw: Pengamat kami harus menghadapi situasi yang terus meruncing di sana. Sebenarnya, tahun lalu kami sudah mempertimbangkan untuk menarik orang kami. Saat itu kami memutuskan, risikonya terlalu besar. Tapi, melihat perkembangan terakhir, saya merasa tidak dapat lagi mempertanggung-jawabkan penempatan mereka di sana.“

Aksi militer Israel memicu gelombang protes di daerah otonomi Palestina. Di Gaza, massa pengunjuk rasa menyerang kantor perwakilan Inggris dan Amerika Serikat. Selain itu, penculikan sejumlah warga asing dilaporkan di Gaza dan Jenin. Organisasi bantuan internasional mengimbau pekerjanya segera meninggalkan kawasan Palestina.

Sementara, Uni Eropa yang mengecam keras aksi militer Israel dan serangan pembalasan warga Palestina, menarik pengamatnya dari perbatasan antara Gaza dan Mesir.(zer)