Israel Pertimbangkan Penugasan Pasukan Internasional | Fokus | DW | 24.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Pertimbangkan Penugasan Pasukan Internasional

Aksi militer Israel terhadap Libanon sudah berjalan hampir dua minggu dan AS kembali tampil di ajang politik dunia dan mencari penyelesaian politik.

Israel memperkuat pasukannya di Libanon selatan

Israel memperkuat pasukannya di Libanon selatan

AS akan mendukung pasukan perdamaian yang dipimpin NATO di daerah perbatasan antara Israel dan Libanon. Israel pun dapat menerimanya. PM Israel Ehud Olmert mendukung usul penempatan pasukan pengaman internasional di Libanon. Pasukan ini dapat terdiri dari satuan-satuan asal Eropa maupun negara-negara Arab. Tugas pasukan itu pertama-tama menguasai roket jarak jauh Hisbollah. Kemudian, menghalangi pemasokan senjata antara Suriah dan milisi Hisbollah di Libanon, dan ditempatkan di perbatasan antara kedua negara yang bertetangga itu.

Kepada menlu Jerman Frank Walter Steinmeier, PM Ehud Olmert mula-mula mengatakan, Israel bersedia mempertimbangkan pengiriman pasukan penjaga keamanan dari UE bila memiliki pengalaman tempur yang memadai. Kemudian para anggota kongres Amerika mengusulkan kepada Olmert, bahwa juga satuan-satuan dari Arab dapat mengisi pasukan keamanan itu.

Wakil Olmert, Shimon Peres menjelaskan keraguan Israel:

"Satuan Internasional bukanlah gagasan Israel. Yang menjadi masalah bukanlah pasukannya, melainkan tugasnya. Masalah yang paling besar dari penugasan itu adalah roket. Apakah pasukan internasional dapat menguasai gudang roket dan penggunaannya."

Ehud Olmert mengutus wakilnya Shimon Peres ke Eropa dan AS, untuk memperbaiki pandangan umum terhadap Israel. Kemarin Olmert menyalahkan media-media asing telah memperburuk citra Israel. Sehubungan dengan banyaknya gagasan dari luar negeri agar perang antara Israel dan Hisbollah dihentikan, Menlu Israel Zipi Livni membenarkan, bahwa proses diplomatik dapat dimulai sementara pertempuran terus berlangsung. Angkatan perang Israel memperhitungkan, masih diperlukan antara 10-14 hari sampai gencatan senjata dapat diserukan. Ada rencana untuk menambah jumlah pasukan darat di selatan Libanon.

Faktor penentu diakhirinya perang adalah bagaimana bentuk penyelesaian soal penculikan terhadap tentara Israel. Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Amir Peretz kepada menlu Jerman, Steinmeier. Setelah pembicaraannya di Yerusalem, Steinmeier menjelaskan bahwa Mesir mengkoordinasi upaya untuk membebaskan serdadu Israel Gilad Shalit dari tangan Hamas.

Steinmeier optimis. Ia mengatakan:

"Saya pikir, dalam hal ini akan segera tercapai penyelesaian, karena saya yakin, semakin cepat konflik di Jalur Gaza selesai secara terpisah, semakin cepat pula dapat diupayakan untuk menenangkan kawasan utara Israel di perbatasan dengan Libanon dan diakhirinya pertempuran. Ini harapan saya."

Presiden Palestina Mahmud Abbas yang dijumpai Steinmeier semalam di Ramallah mengemukakan, pembebasan tahanan Palestina dan Libanon dari penjara-penjara Israel sangat menentukan bagi perdamaian di Jalur Gaza dan Libanon. Menlu Steinmeier menjelaskan, penculikan tentara Israel telah memprovokasi negara itu. Tidak dapat dibenarkan bahwa kelompok-kelompok ekstremis mendikte agenda politik di Timur Tengah.