Israel Perluas Serangan Darat | Fokus | DW | 10.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Perluas Serangan Darat

Imbauan agar mencari penyelesaian damai baru diserukan, Israel mengumumkan akan perluas serangan ke Lebanon. Dalam 30 hari mendatang, pasukan Israel bermaksud menyusup sekitar 30 km ke wilayah Libanon.

Pasukan Israel siaga di perbatasan dengan Libanon di utara Israel

Pasukan Israel siaga di perbatasan dengan Libanon di utara Israel

Di Jerusalem Menteri Luar Negeri Jerman, Frank Walter Steinmeier, masih sempat memperingatkan, upaya-upaya diplomatis untuk mencapai perdamaian jangan dikesampingkan. Namun di hari yang sama, Israel mengumumkan perluasan serangan darat terhadap kelompok Hisbullah di Lebanon Selatan. Disebutkan, ofensif ini bertujuan melumpuhkan dan menghentikan serangan kelompok Hisbullah ke wilayah Israel Utara.

Televisi Arab melaporkan kemarin, Rabu (09/08), 11 orang tentara Israel tewas dalam peperangan di Lebanon Selatan. Dalam beberapa hari terakhir, baku tembak semakin gencar di wilayah itu. Serangan udara Israel juga tidak berhenti. Dua roket diluncurkan ke jalan terakhir yang menghubungkan Lebanon dengan Suriah. Menurut kalangan keamanan Lebanon, jalanan yang diserang itu berada di Jussije, di perbatasan Suriah. Sementara gerbang perbatasan terpenting antara kedua negara itu, di daerah Masnaa, sudah hancur bulan lalu. Kedua serangan roket Israel yang terakhir ini menambah sulit pengiriman bantuan ke Lebanon dari luar.

Jakob Kellenberger, Presiden Komisi International Palang Merah, menuduh Israel melanggar konvensi Jenewa. Militer Israel telah menghambat organisasi bantuan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah peperangan. Ia mengatakan, Israel memang mengizinkan kapal–kapal yang membawa bantuan darurat untuk berlabuh di Tyros dan Sidon, namun tidak ada kemungkinan untuk membagikan bantuan itu ke masyarakat sipil yang membutuhkannya. Semua jalanan ke wilayah perang itu sudah hancur. Begitu dikatakan jurubicara Palang Merah Internasional, Roland Huguenin.

Selasa (08/08) malam yang lalu, Israel melangsungkan 100 serangan udara. Padahal masih banyak korban serangan Israel Senin (07/08) lalu di daerah Syie, kota Beirut, yang sampai sekarang harus dicari di antara puing dan reruntuhan bagian kota itu. Lebih dari 40 warga sipil tewas dalam serangan, yang hingga kini telah mengorbankan paling banyak warga sipil. Sejak serangan Israel ke Kana pada 30 Juli yang menewaskan 28 warga sipil, kritik internasional terhadap ofensif Israel semakin tajam.

Kemarin Perdana Menteri Lebanon Fuad Siniora menyesalkan bahwa akhir konflik masih jauh. Ia mengatakan, belum ada kemajuan dalam negosiasi. Selain itu, ia tidak punya harapan bahwa resolusi PBB bakal dengan cepat mengakhiri peperangan. Selain menemui Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier pada hari Selasa (08/08), kemarin Siniora bertemu dengan pejabat Amerika Serikat, David Welch.

Kedua pejabat ini membahas isi resolusi PBB. Lebanon sebelumnya menolak rancangan resolusi PBB, karena tidak menetapkan kurun waktu yang pasti untuk penarikan keluar pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon. Padahal menurut Siniora, keluarnya tentara Israel dan penempatan 15.000 tentara Lebanon untuk menjaga perbatasan merupakan persyaratan gencatan senjata itu.