1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAmerika Serikat

Israel-Lebanon Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata

Jenipher Camino Gonzalez | Timothy Jones | Matt Ford Reuters, AP, AFP
4 Juni 2026

Kesepakatan tercapai tanpa melibatkan Hizbullah yang masih berperang melawan Israel di Lebanon Selatan. Belum jelas, apakah gencatan senjata di Lebanon akan menghidupkan kembali perundingan AS–Iran yang sempat terhenti.

https://p.dw.com/p/5Epan
Kepala Staf Departemen Luar Negeri AS Daniel Holler berbicara, sementara Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh, didampingi Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, menghadiri pertemuan antara delegasi Israel dan Lebanon yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat, setelah pemerintahan Trump menyatakan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk menerapkan gencatan senjata guna mengakhiri permusuhan, di Departemen Luar Negeri di Washington, D.C., AS, 3 Juni 2026
Israel dan Lebanon tidak memiliki hubungan diplomatik formalFoto: Nathan Howard/REUTERS

Israel dan Lebanon pada Rabu (03/06) mencapai kesepakatan untuk memperbarui gencatan senjata yang selama ini dinilai rapuh, sekaligus membentuk zona keamanan "percontohan” di wilayah selatan Lebanon. Langkah ini diharapkan dapat meredakan ketegangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Gencatan senjata sebelumnya sebenarnya telah disepakati pada awal April. Namun, pemerintah pusat di Beirut tidak mengendalikan Hizbullah. Di lapangan, Israel dan kelompok militan Syiah itu masih terus saling melancarkan serangan, menandakan kesepakatan tersebut belum sepenuhnya efektif.

Pemerintah Lebanon melaporkan bahwa sejak bentrokan kembali pecah pada Maret lalu, lebih dari 3.300 orang tewas dan lebih dari 10.000 lainnya mengalami luka-luka. Konflik ini melibatkan Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung oleh Iran.

Kesepakatan terbaru ini dimediasi oleh Amerika Serikat. Dalam kerangka tersebut, Hizbullah diwajibkan menarik mundur pasukannya dari zona keamanan yang akan dibentuk di Lebanon selatan.

Dalam pernyataan bersama, kedua negara menegaskan bahwa keberhasilan gencatan senjata bergantung pada "penghentian total tembakan Hizbullah dan penarikan seluruh personel Hizbullah” dari wilayah selatan Sungai Litani.

Meski demikian, mekanisme pembentukan zona keamanan yang nantinya berada di bawah kendali tentara Lebanon masih belum dijelaskan secara rinci. Ketidakjelasan ini menimbulkan pertanyaan terkait implementasi di lapangan.

Israel dan Lebanon menyatakan bahwa langkah-langkah awal ini diharapkan dapat membuka jalan menuju perjanjian perdamaian dan keamanan yang lebih komprehensif di masa mendatang.

Lebanon: Serangan Israel menghantam rumah sakit di Tyre

Di sisi lain, Iran sebagai pendukung utama Hizbullah menekankan bahwa setiap kesepakatan damai yang lebih luas untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel harus mencakup penghentian permusuhan di Lebanon. Namun, Hizbullah sendiri tidak dilibatkan dalam proses perundingan langsung antara Israel dan Lebanon.

Dalam pernyataan tersebut, kedua negara juga menegaskan bahwa masa depan hubungan bilateral harus ditentukan oleh pemerintah yang berdaulat masing-masing. Mereka menolak campur tangan pihak mana pun, baik negara maupun aktor nonnegara, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan Lebanon.

Israel dan Lebanon juga menyatakan tidak memiliki niat bermusuhan satu sama lain. Keduanya berkomitmen untuk melanjutkan perundingan langsung guna membangun kepercayaan, menyelesaikan isu-isu yang masih tertunda, serta mencapai kesepakatan menyeluruh.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak dijadwalkan kembali menggelar perundingan lanjutan pada 22 Juni mendatang.

DPR AS memberikan suara untuk resolusi penghentian perang Iran

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada Rabu (03/06) mengesahkan resolusi yang bertujuan menghentikan Presiden Donald Trump dari melanjutkan perang melawan Iran.

Resolusi kewenangan perang tersebut disetujui setelah empat anggota Partai Republik bergabung dengan Demokrat. Dukungan lintas partai ini menjadi sorotan, mengingat upaya serupa sebelumnya gagal dalam tiga kali pemungutan suara.

Meski demikian, keputusan ini dinilai lebih bersifat simbolis. Agar dapat berlaku, resolusi tersebut masih harus mendapatkan persetujuan dari Senat, yang saat ini juga dikuasai Partai Republik dengan mayoritas tipis. Selain itu, Presiden Trump diperkirakan akan menggunakan hak veto jika resolusi tersebut berhasil lolos di Senat.

Terlepas dari keterbatasan tersebut, hasil pemungutan suara ini dianggap mencerminkan meningkatnya penolakan terhadap keterlibatan militer AS di Iran. Resolusi ini juga dipandang sebagai bentuk teguran politik yang kuat terhadap presiden.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, anggota Demokrat dari Komite Urusan Luar Negeri DPR menegaskan bahwa keputusan itu merupakan sinyal jelas dari publik Amerika.

"Ini adalah pesan keras dan tegas kepada Donald Trump atas nama rakyat Amerika: sudah waktunya mengakhiri perang pilihannya di Iran yang sangat tidak populer dan ilegal,” demikian pernyataan tersebut.

Presiden Donald Trump berbicara di Ruang Oval Gedung Putih, Rabu, 3 Juni 2026, di Washington
Trump berulang kali mengeklaim kesepakatan dengan Iran sudah dekat, tetapi belum ada kesepakatan yang terwujudFoto: Alex Brandon/AP Photo/picture alliance

Trump: Pembicaraan AS-Iran berpotensi capai hasil akhir dalam waktu dekat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berpotensi membuahkan hasil dalam beberapa hari ke depan.

"Saya mendengar negosiasinya sebenarnya berjalan dengan sangat baik,” kata Trump kepada wartawan.

"Mungkin saja tercapai… akhir pekan ini,” ujar Trump terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan.

Pernyataan tersebut disampaikan meski Amerika Serikat dan Iran terlibat saling serang paling intens pada Rabu (03/06) sejak gencatan senjata April disepakati.

Serangan drone Iran menghantam bandara internasional Kuwait, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.

Pernyataan Trump ini berlawanan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menyebut jalur komunikasi dengan AS masih terbuka, namun "belum ada kemajuan nyata” dalam perundingan untuk mengakhiri perang.

Presiden AS itu juga menegaskan bahwa pembicaraan AS-Iran sebaiknya dipisahkan dari konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon. Iran sebelumnya bersikeras bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan AS harus mencakup "semua front, termasuk di Lebanon.”

"Saya ingin memisahkannya, saya ingin ada pembahasan terpisah, karena memang berbeda,” kata Trump.

Trump juga menyebut bahwa AS untuk pertama kalinya berkomunikasi langsung dengan Hizbullah dalam upaya menghentikan pertempuran di Lebanon.

"Mereka sepakat kemarin tidak akan menembak, Israel juga tidak akan menembak, kita akan melihat bagaimana ke depan,” tambahnya.

Sementara itu, serangan udara Israel di Lebanon pada Rabu dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan orang. Hizbullah juga menyatakan telah menyerang pasukan Israel di seberang perbatasan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menghadiri pertemuan para menteri luar negeri BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, 14 Mei 2026
Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan apa pun dengan AS bergantung pada penarikan Israel dari LebanonFoto: Adnan Abidi/REUTERS

Apa kata Menlu Iran soal perkembangan komunikasi dengan AS?

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa jalur komunikasi dengan Amerika Serikat masih terbuka meskipun "belum ada kemajuan nyata” dalam perundingan untuk mengakhiri konflik.

"Komunikasi dengan pihak Amerika belum terputus, dan pesan-pesan telah disampaikan terkait perlunya menghentikan agresi terhadap Beirut, namun belum ada kemajuan nyata dalam proses negosiasi,” demikian pernyataannya yang dikutip kantor berita Tasnim.

Araghchi juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap ibu kota Lebanon, Beirut, akan memicu "kembalinya perang secara penuh.”

"Kembali ke meja perundingan bergantung pada jaminan terhadap hak-hak rakyat Iran, penghentian perang di Lebanon, dan meredanya ketegangan di kawasan,” tambahnya.

Iran berulang kali menegaskan tidak akan mundur dari tuntutan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang juga harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon, di mana Israel meningkatkan serangannya terhadap kelompok militan Hizbullah.

Media Iran juga mengutip Araghchi yang menyatakan bahwa perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat "tidak dapat dipisahkan dari nasib pertempuran di Lebanon, dan kedua front ini telah saling terkait sejak awal.”

"Setiap serangan terhadap Beirut akan membawa konsekuensi serius dan akan memicu kembalinya perang secara penuh,” lanjutnya, seraya menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran "siap menyerang Israel jika negara itu menyerang Beirut.”

Dia juga menegaskan bahwa untuk mengakhiri perang di Lebanon, pasukan Israel harus mundur dari negara tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Levie Wardana

Editor: Rizki Nugraha

Matthew Ford
Matt Ford Reporter dan editor DW Sports, spesial meliput sepak bola Eropa, budaya fans, dan politik olahraga.@matt_4d
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait