Israel Kerahkan Pasukan Darat ke Libanon | Fokus | DW | 19.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Kerahkan Pasukan Darat ke Libanon

Rakyat sipil di Libanon, Israel dan Palestina, sama-sama menderita.

Kawasan di pinggiran Beirut setelah serangan udara Israel.

Kawasan di pinggiran Beirut setelah serangan udara Israel.

Menteri Pertahanan Israel Amir Perez kerap mengunjungi tentaranya hari-hari ini. Ada banyak gambar Perez berbincang dengan satuan dari utara, serdadu berseragam hijau. Sang Menteri sering ikut tertawa bersama mereka dan meneguhkan tekad militer Israel untuk menggempur sasaran-sasaran di Lebanon. Tidak ada jadwal kapan kemungkinan serangan diakhiri, tegas Perez. Harian Israel Haaretz memberitakan hal sebaliknya, bahwa dalam 2 pekan sasaran militer operasi tersebut bisa tercapai. Surat kabar tersebut tidak merinci sumber informasinya di kalangan militer.

Tujuan militer Israel adalah melemahkan milisi Hisbollah. Dari ibukota Beirut dilaporkan masih terus terjadi ledakan. Di tempat-tempat tertentu di selatan Lebanon, para pilot Israel menyebarkan pamflet yang isinya menyerukan pada warga agar meninggalkan rumah mereka. Israel menganggapnya sebagai peringatan yang memadai sebelum melancarkan serangan.

Sementara itu, Hisbollah melanjutkan serangan terhadap wilayah Israel dengan rudal Katyusha. Di Hariyah, seorang pria tewas saat berlari menuju bunker. Depot kereta api di Haifa terkena serangan untuk kedua kalinya.

Warga Israel sendiri banyak yang menderita akibat serangan terus menerus dan sirene yang mengaung-ngaung memperingatkan akan terjadi serangan. Sebagian warga harus bermalam di bunker. Jika pun mereka punya perasaan diabaikan oleh istansi pemerintah, maka kebijakan PM Ehud Olmert serta Menteri Pertahanan Amir Perez tidak mengkritisi hal itu. Perasaan yang lebih menguasai adalah, Israel harus mempertahankan diri.

Pekan lalu milisi Hisbullah menculik 2 tentara Israel dan ingin menukarnya dengan tawanan Palestina yang dipenjara Israel. Namun Israel tidak bersedia dan melancarkan serangan militer besar-besaran ke Libanon.

Krisis di selatan Jalur Gaza juga belum usai. Menurut pihak Palestina, panser-panser Israel semalam menyerbu masuk ke sebuah kamp pengungsi di Gaza City. Tembak menembak menewaskan sedikitnya 2 pria Palestina. Namun tekanan terhadap rakyat sipil juga semakin besar. Tidak ada listrik, hampir tak ada air bersih dan persediaan bahan pangan sangat terbatas. Hampir seluruh kawasan itu ditutup oleh tentara Israel. Namun militer menjanjikan hari ini akan membuka perbatasan Karni agar bahan pangan dan bensin dapat dipasok.

Hari Rabu ini, utusan khusus UE Javier Solana kembali ke Yerusalem, untuk membicarakan kedua krisis di Timur Tengah. Namun ia juga tak mendapat keterangan, sampai kapan serangan berlangsung. Militer Israel mengatakan, di Libanon masih 2 minggu lagi. Pemerintah Israel menerangkan, untuk kedua konflik itu, di utara dan selatan Gaza, tidak ditetapkan jadwal. Melainkan berkaitan dengan kondisi tertentu, yaitu sampai tentara yang diculik dibebaskan, dan serangan roket bisa dihentikan. Masyarakat internasional juga belum menetapkan, kapan mereka akan menuntut agar pertempuran dihentikan.