Israel Dukung Politik Irak Bush | Fokus | DW | 07.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Dukung Politik Irak Bush

Perdana Menteri Israel Olmert dengan yakin mengatakan bahwa keputusan Presiden Amerika Serikat untuk menggulingkan diktatur Irak adalah tepat sekali.

PM Israel Ehud Olmert

PM Israel Ehud Olmert

Israel tidak dapat membayangkan pemimipin Gedung Putih yang lebih baik daripada George W. Bush. Menurut Ehud Olmert, Amerika Serikat tidak akan mengubah haluan politiknya di Timur Tengah yang dapat membahayakan keamanan Israel. Ia menambahkan, bahwa keamanan di kawasan tersebut sejak Amerika Serikat menduduki Irak semakin meningkat. Demikian pernyataan PM Israel saat menghadiri pertemuan tahunan organisasi Yahudi Amerika Serikat “Orthodox Union” di Yerusalem.

Ehud Olmert: “Saya mendukung Presiden Amerika Serikat, karena saya yakin, keamanan dan perlindungan Israel dan negara tetangganya akan lebih terjamin jika Irak tidak dipimpin Saddam Hussein.”

Dalam kunjungannya ke Washington beberapa minggu lalu George W. Bush menegaskan bahwa pada dasaranya tidak ada yang berubah: Bush tidak akan mendesak Olmert untuk menerima tuntutan Palestina. Selama pemerintahan Hamas tidak memenuhi tiga syarat negara-negara Barat dan Israel – terutama mengakui hak eksistensi Israel – perundingan dengan Palestina tidak akan diselenggarakan.

Kebalikan dari pendahulunya yakni Ariel Sharon yang menyembunyikan di depan publik bahwa Israel sebetulnya mengambil keuntungan dari perang Irak, Ehud Olmert lebih terbuka.

Ehud Olmert: “Bagi kami lebih baik, jika Irak tanpa Saddam Hussein. Kami berterima kasih pada Tuhan untuk keberanian, ketegasan serta kemantapan kepemimpinan Presiden Bush menangani tantangan dengan cemerlang.”

Namun, tidak semua politisi Israel mendukung politik presiden Amerika Serikat. Mantan menteri luar negeri Shlomo Ben-Ami menyebutkan bahwa ada kaitannya antara kegagalan militer Amerika Serikat di Irak dan perang Libanon baru-baru ini. Kelompok militan Hisbullah yang pro Iran – demikian juga kelompok Hamas di kawasan Palestina – menarik hikmah dari peristiwa di Irak, yaitu aksi teror dan perlawanan dapat dipakai untuk menantang negara-negara yang unggul secara militer.

Di masa perang melawan teror, keunggulan militer tidak menjamin kemenangan. Oleh karena itu, tesis Ben-Amin, kehadiran pasukan Amerika Serikat di Irak, secara langsung berdampak negatif terhadap keamanan Israel. Apalagi citra Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kini semakin tercoreng. Seharusnya Amerika Serikat tidak hanya bekerja-sama dengan Rusia, Cina dan Eropa, akan tetapi justru dengan negara-negara yang berkuasa di kawasan itu yakni Suriah dan Iran.

Akan tiba saatnya, dimana Washington akhirnya harus berunding dengan negara-negara itu. Situasi di Irak memang memerlukan solusi secara regional. Pada akhirnya, untuk menghambat upaya Iran memperluas pengaruh politik dan militernya hanya akan berhasil, jika pemerintah Israel memecahkan konflik Israel-Palestina.

Menurut perkiraan Ben-Amis, tawaran negara-negara Arab moderat di tahun 2002 seperti Arab Saudi, Mesir dan Yordania dalam beberapa tahun tidak berlaku lagi. Waktu itu, mereka menawarkan, jika Israel menarik diri dari kawasan Palestina, maka semua negara-negara Arab akan mengakui eksistensi Israel secara diplomatis sekaligus mejalin perdamaian.