1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Israel Isaac Herzog dan Ibu Negara Israel bersama Menlu UEA Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan (kanan) di Abu Dhabi
Presiden Israel Isaac Herzog dan Ibu Negara Israel bersama Menlu UEA Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan (kanan) di Abu DhabiFoto: Amos Ben-Gershom/Government Press Office/REUTERS
PolitikIsrael

Israel dan UEA: Menanggalkan Permusuhan Demi Kemajuan

Jennifer Holleis | Kersten Knipp
1 Februari 2022

Kunjungan bersejarah Presiden Israel ke Uni Emirat Arab punya latar belakang yang kuat: hubungan ekonomi dan kerja sama teknologi yang sangat menjanjikan bagi kedua negara.

https://www.dw.com/id/israel-dan-uea-menanggalkan-permusuhan-demi-kemajuan/a-60620173

Kunjungan simbolis itu menandai pertama kalinya seorang presiden Israel mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA). Gambar-gambar bendera Israel yang dikibarkan di sepanjang jalan-jalan di UEA mengisyaratkan ambisi kedua negara untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan menjadi pemain menentukan dan diperhitungkan di kawasannya.

"Kami berada di sini bersama-sama untuk menemukan cara dan sarana untuk membawa keamanan penuh bagi orang-orang yang mencari perdamaian di wilayah kami," kata presiden Israel Isaac Herzog ketika disambut oleh Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Kawasan Timur Tengah saat ini sedang menghadapi persaingan geopolitik dan terobosan-terobosan diplomatik yang menentukan. Kedatangan Presiden Israel Isaac Herzog disambut dengan serangan rudal gerakan Houthi di Yaman, yang didukung Iran. Kementerian Pertahanan UEA mengatakan, sistem pertahanan mereka berhasil mencegat dan menghancurkan rudal-rudal tersebut.

UEA memang bergabung dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi gerakan Houthi di Yaman, konflik yang masih berkecamuk hingga saat ini. Sekitar 16 bulan lalu, menteri luar negeri UEA dan Bahrain, bersama Perdana Menteri Israel saat itu Benjamin Netanyahu, menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik yang dikenal sebagai "Kesepakatan Abraham/Ibrahim".

Hubungan Israel dengan negara-negara Arab
Hubungan Israel dengan negara-negara Arab

Peningkatan perdagangan dan kunjungan wisata

Pendorong utama normalisasi hubungan ini adalah ambisi kedua negara untuk meningkatkan ekonomi dan pembangunan. "Kedua negara memiliki produk domestik bruto (PDB) sekitar USD 400 miliar, dan populasi mereka yang relatif kecil menikmati standar hidup yang tinggi," tulis perusahaan asuransi kredit perdagangan Atradius dalam rilisnya.

"Dalam waktu singkat sejak kesepakatan diumumkan, volume perdagangan di antara kami telah mencapai nilai 1 miliar Shekel Israel (sekitar USD 315 juta), lebih dari 120 perjanjian telah ditandatangani," kata Isaac Herzog ketika berbicara di paviliun Israel di Dubai 2020 Expo.

Selama di Dubai, Herzog juga menekankan, "Israel dan Emirat belajar bersama-sama dan belajar budaya dan bahasa satu sama lain." Sejak 2020, Biro Pusat Statistik Israel mencatat kenaikan lebih dari 30% untuk impor dan ekspor barang, belum termasuk berlian, dari dan ke Uni Emirat Arab.

Sekitar 250.000 warga Israel telah mengunjungi Uni Emirat Arab sebelum pandemi. "Kami memperkirakan banyak warga Emirat yang bepergian ke Israel setelah COVID," kata presiden Isaac Herzog. Dia menambahkan, kedua negara membentuk dana riset dan pengembangan dengan dana jutaan dolar. Bidang kerja sama antara UEA dan Israel adalah keberlanjutan, penelitian dan pengembangan, pertanian, kedokteran, dan teknologi keuangan.

Presiden Isaac Herzog berbicara di Dubai Expo 2020
Presiden Isaac Herzog berbicara di Dubai Expo: "Israel dan Emirat akan belajar bersama-sama tentang budaya dan bahasanya."Foto: Jon Gambrell/AP Photo/picture alliance

Kerja sama teknologi

"Khususnya perubahan iklim adalah tantangan yang dihadapi semua negara di kawasan ini. Dan satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah bekerja sama," kata Sebastian Sons, pakar Timur Tengah di Pusat Penelitian dan Penerapan Kemitraan Timur Tngah CARPO, yang berbasis di Jerman.

"Israel secara teknologi adalah pemain yang paling berkembang di kawasan ini dan oleh karena itu merupakan mitra kolaborasi yang menguntungkan," katanya kepada DW dalam wawancara telepon.

Sebastian Sons juga menunjukkan, negara-negara yang belum menandatangani dokumen diplomatik dengan Israel, seperti Oman atau Arab Saudi, akan dapat memetik manfaat kerja sama serupa. "Dari sudut pandang teknologi, mereka membutuhkan Israel dan tidak dapat menghadapi tantangan ini sendirian," katanya.

Jalan masih panjang untuk Arab Saudi

"Arab Saudi akan menjadi hadiah besar bagi Israel," kata Yoel Guzansky, seorang peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) yang berbasis di Tel Aviv. Selama bertahun-tahun, Saudi telah mempertahankan hubungan dengan Israel, walaupun secara tidak resmi.

Namun, masih banyak isu sensitif, misalnya tentang penyelesaian konflik Palestina dan solusi dua negara. Pada saat yang sama, Guzansky juga melihat banyak persamaan kepentingan, misalnya untuk menghadapi Iran. Tapi jalan ke sana masih panjang.

"Normalisasi belum mungkin karena Arab Saudi memiliki lingkaran anti-Israel yang jauh lebih kuat, termasuk Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud," kata Sebastian Sons.

Namun media Israel melaporkan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan mantan pemimpin Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan beberapa pembicaraan tidak resmi selama beberapa tahun terakhir. Karena itu, sebagian kalangan percaya bahwa di masa depan "kerja sama di bidang militer, ekonomi atau energi akan meningkat."

Satu hal mungkin menjadi isyarat tentang "hubungan tidak resmi" Israel-Arab Saudi. Di saat Presiden Isaac Herzog berkunjung ke UEA, Arab Saudi mengizinkan pesawat Israel terbang melewati wilayah udaranya.

(hp/as)