Israel Bangun Perumahan Baru di Tepi Barat | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 07.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Israel Bangun Perumahan Baru di Tepi Barat

Ísrael memberikan izin bagi pembangunan 455 rumah di Tepi Barat Yordan. Menhan Ehud Barak mengatakan, keputusan tersebut merupakan "bagian dari perundingan" dengan Amerika Serikat.

Palestinian workers drive bulldozers and build a sidewalk at a construction site in the West Bank Jewish settlement of Maaleh Adumim, near Jerusalem, Monday, June 22, 2009. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu, in defying U.S. pressure to freeze construction in West Bank settlements, says new homes must go up to accommodate settlers' growing families. But some 40 percent of the population growth in settlements came from people who moved there and not from growing families, according to the government's latest statistics. In the meantime, more than 5,000 new apartments have been completed over the past three years, Central Bureau of Statistics figures show. (AP Photo/Dan Balilty)

Pekerja Palestina membangun perumahan Yahudi di Tepi Barat Yordan

Hari Senin (7/09) ini Israel memberikan lampu hijau untuk pembangunan permukiman baru di kawasan Tepi Barat Yordan. Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak telah memberikan izin untuk pembangunan 366 apartemen. 84 apartemen lainnya juga akan mendapatkan izin bangunan dalam waktu dekat. Demikian ungkap Ehud Barak Senin pagi.

Media Israel mengabarkan, pemerintah Perdana Menteri Netanjahu dengan Amerika Serikat tengah merundingkan secara intensif, isi butir-butir kesepakatan mengenai moratorium pembangunan permukiman baru yang akan berlangsung antara 6 hingga 9 bulan.

Meski begitu, sebelum dan pada saat moratorium itu, Israel masih akan membangun ke 450 apartemen yang disebutkan sebelumnya dan 2500 permukiman lainnya, yang sedang dalam pembangunan. Pihak Amerika telah menyatakan rasa kecewa atas sikap Netanjahu, namun hingga kini – mengutip harian “Yedioth Achronoth”, disebutkan ”tidak menunjukan penolakan yang berati”. Menteri Pertahanan Barak yakin akan bisa mencapai kesepakatan dengan Washington.

“Meskipun ada perbedaan pendapat dengan Amerika Serikat, saya cukup yakin bahwa hal itu dapat dan harus diatasi,” ujarnya. Mengutip sejumlah pejabat Israel yang tak disebutkan namanya, terbitan Senin harian “Yedioth Achronth” menulis, Obama begitu naif, sehingga menuntut Israel untuk menghentikan seluruh pembangunan itu.”

Pada masa pemerintahan Perdana menteri ehud Olmert dari 2206 hinnga maret 2009 jumlah permikiman yahudi di tepi Barat Yodan meningkat dari 50 ribu menjadi 300.00 unit. Media menggambarkannya sebagai pembangunan yang sangat cepat. Sementara di masa pemerintahan Netanjahu, tidak ada satupun perumahan yang mendapatkan izin bangunan.

Wakil Perdana Menteri Silvan Shalom yang seperti Netanjahu juga anggota dari partai Likud, hari Minggu malam menegaskan: “Likud dulu memulai proyek permukiman ini. Likud juga yang mengembangkan proyek permukiman ini. Likud telah membangun banyak permukiman di bebagai kawasan Israel. Dan kamipun dipilih untuk mengibarkan bendera ini dengan bangga, dan bendera ini sangat penting. Kami tidak boleh membiarkannya hanya berkibar separuh tiang.”

Ketua partai Kadima dan pemimpin oposisi Tzipi Livni mengritik tajam sikap Netanjahu. Ia katakan, Perdana Menteri Netanjahu hanya memikirkan kepentingan politiknya. Di radio militer, Livni mengatakan:

“Bila Netanjahu punya peluang, untuk tampil positif dengan tema ini, maka ia akan melakukannya. Bisa saja ia berbicara di Bar-Ilan dan foto-fotonya dari bulan september. Itu akan ia lakukan. Apa yang kita lihat kemarin dan hari ini, akan terlihat lagi dalam perundingan mendatang. Dalam ruang perundingan Netanjanhu akan mengatakan satu hal, dan di luar melakukan yang sebalikny, kemudian bercerita lain lagi kepada orang Amerika, sambil menggubah kisah lain bagi orang Arab. Semua ini membua saya sedih.”

Serikat penduduk permukiman dan wakilnya di parlemen Knesset menggambarkan persetujuan bagi ke-450 apartemen baru itu sebagai sebuah skandal. Jumlah perumahannya begitu sedikit, dan merekapun mengumumkan akan menentang kemungkinan pembatasan pembangunan di kawasan yang diduduki Israel itu.