Israel Akui Gunakan Granat Fosfor dalam Perang Libanon | Fokus | DW | 24.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Israel Akui Gunakan Granat Fosfor dalam Perang Libanon

Israel mengakui penggunaan munisi fosfor dalam aksi militernya melawan Hisbullah di Libanon Selatan. Seorang juru bicara militer membenarkan pemberitaan harian Haaretz tentang hal tersebut.

Pasukan Israel lewati perbatasan Libanon 12 Agustus lalu

Pasukan Israel lewati perbatasan Libanon 12 Agustus lalu

Dalam penjelasannya, aparat keamanan Israel menyebutkan: "Dalam konflik terbaru dengan Hisbullah di Libanon, militer Israel menggunakan granat fosfor terhadap sasaran militer di tempat-tempat terbuka." Penggunaan munisi fosfor adalah legal. Militer berpegang pada peraturan internasional.

Sementara keterangan rinci tentang waktu, lamanya dan sasaran tembakan artileri Israel dengan granat fosfor selama 34 hari perang Libanon tidak disebutkan. Dengan demikian aparat keamanan Israel bereaksi terhadap pemberitaan terakhir harian Haaretz, dimana untuk pertama kalinya seorang menteri Israel membenarkan penggunaan munisi yang diperdebatkan tersebut. Menteri Jacob Edery juga menggunakan ungkapan yang sama seperti yang dipakai militer Israel: Granat fosfor digunakan untuk sasaran militer di lapangan terbuka. Aparat keamanan memiliki berbagai bentuk munisi fosfor.”

Granat fosfor menyebabkan luka bakar hebat. Palang Merah Internasional dan organisasi Hak Asasi Manusia sudah sejak lama mendesak pelarangan penggunaan munisi tersebut di seluruh dunia. Saat masih berlangsung perang Libanon, Human Rights Watch menuduh pemerintah Israel menembakkan bom curah serta munisi fosfor ke kompleks hunian di Libanon.

Pertengahan September lalu, harian Haaretz mengutip seorang tentara artileri Israel tanpa menyebutkan namanya, yang mengatakan militer menggunakan sekitar 1.800 bom curah yang mengandung sekitar 1,2 juta bom-bom kecil. Dengan pengecualian komentar tentang penggunaan bom yang berwujud seperti granat berukuran mini yang diberitakan harian tersebut, tidak terdapat reaksi tentang hal itu baik dari lingkungan politik maupun pers.

Sekitar sembilan bulan lalu militer Israel mengeluarkan pernyataan yang sangat berbeda tentang penggunaan granat fosfor. Dulu diberitakan juga dalam harian Haaretz, tentara Israel menembakkan granat fosfor ke sebuah tempat latihan di Tepi Barat Yordan yang juga ditempati sejumlah keluarga suku Beduin. Seorang remaja Beduin berusia 17 tahun tewas akibat luka bakar, saat granat yang ditemukannya meledak. Tiga warga Beduin lainnya yang berusia antara 12 sampai 24 tahun mengalami luka berat.

Dulu penjelasan seorang juru bicara militer Israel saat menjawab pertanyaan yang diajukan, hal itu merupakan kecelakaan yang sangat disesalkan. Dikatakan juru bicara militer tersebut: “Granat fosfor digunakan untuk tujuan latihan, untuk menandai sasaran atau kawasan yang menjadi sasaran.”

Pernyataan serupa juga diberikan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat musim gugur tahun lalu. Saat mereka mengakui penggunaan munisi fosfor di kota Falludja di Irak.