Ironi Desa Rukam, Kampung Nelayan Tanpa Air dan Ikan | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 12.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Duka Ekologi

Ironi Desa Rukam, Kampung Nelayan Tanpa Air dan Ikan

Warga desa Rukam di Jambi tergiur keuntungan cepat dan menjual hutan adat ke perkebunan sawit awal dekade lalu. Kesenangan singkat itu berganti kerusakan alam dan lingkaran setan kemiskinan yang mengancam eksistensi desa

Nelayan Rukam, Alfian, 47 tahun, mengendalikan perahunya menyusuri sungai Batang Hari, Jambi, untuk mencari ikan.

Nelayan Rukam, Alfian, 47 tahun, mengendalikan perahunya menyusuri sungai Batang Hari, Jambi, untuk mencari ikan.

Penyesalan datang di penghujung. Lebih tepatnya hampir dua dekade berselang. Padahal, pada awalnya penduduk desa Rukam merasa kaya mendadak. Di tepi sungai Batang Hari, Jambi, beribu hektar hutan peninggalan nenek moyang dijual ke perusahaan sawit.

Tapi harta yang didapat tidak seberapa. Dan ketika rawa gambut diuruk dan sungai dibentengi untuk kebun sawit, mereka mendapati diri terjerumus dalam lingkaran kemiskinan.

"Kalau tidak diperhatikan, desa ini pun bisa hilang," gerutu Datuk Syaefi, tetua desa yang dulu dipaksa menandatangani surat jual beli lahan adat seluas lebih dari 2.000 hektar kepada PT. Erasakti Wira Forestama (EWF).

Hutan yang selama ini menghidupi warga, dijual seharga satu juta Rupiah per tiga hektar, kisahnya.  

Kampung di tepi sungai itu terjepit di antara dua kebun raksasa yang menghimpit desa dari dua arah. Pengurukan rawa dan danau gambut merenggut ekosistem ikan tawar yang hidup di hutan. Nelayan yang dulu bisa menghasilkan hingga jutaan Rupiah per hari, kini harus puas dengan tangkapan bernilai tak lebih dari Rp. 100.000.

Rawa gambut yang tumbuh lebat di tepi sungai Batang Hari menyimpan ekosistem unik yang hidup dari siklus banjir alami. Di perutnya dia mengandung sampah organik dari zaman purba. Permukaannya tergenang air hampir sepanjang tahun, yang pekat dan mengandung asam humat.

Desa Nelayan Tanpa Ikan

Belum lama ini Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mengajak Universitas Jambi membuat studi di Rukam dan menemukan nilai perekonomian penduduk menghilang sebanyak 90% pasca kemunculan kebun milik PT. EWF. Nilai keuntungan yang dicetak dari sektor perikanan saja mencapai Rp. 26 miliar per tahun.

Datuk Syaefi, tetua desa Rukam yang memimpin perjuangan warga menuntut ganti rugi perusahaan sawit, Erasakti Wira Forestama, di Muaro Jambi, Jambi.

Datuk Syaefi, tetua desa Rukam yang memimpin perjuangan warga menuntut ganti rugi perusahaan sawit, Erasakti Wira Forestama, di Muaro Jambi, Jambi.

Namun gambut harus dikeringkan untuk membuka lahan sawit. Siklus alami air yang datang silih berganti sepanjang tahun dikendalikan lewat bendungan, kanal dan pompa air raksasa.  

Perlahan tapi pasti, Rukam berubah menjadi desa nelayan tanpa ikan.

"Kalau dulu penghasilan satu hari bisa buat makan satu minggu atau membiayai sekolah anak. Kalau sekarang dapat sehari, habis sehari," kata Alfian, nelayan Rukam berusia 47 tahun. "Jadi baru kita sekarang merasakan kesusahan dibandingkan waktu dulu."

Alfian berasal dari keluarga nelayan. Ayah dan kakeknya berprofesi sama. Namun sang anak kelak harus mencari pekerjaan lain di luar desa. Bekerja mencari ikan di Rukam, kata dia, tidak lagi punya masa depan. "Mungkin nanti anak-anak kami cuma tahu nama saja, ikannya sudah tidak ada," imbuhnya.

Hal serupa dialami nelayan lain. Pengepul yang dulu setiap hari dibanjiri hasil tangkapan untuk dijual ke ibukota provinsi, Jambi, kini harus menunggu berhari-hari untuk menunggu jumlah tangkapan yang cukup agar tetap untung.

"Kalau kayak gini terus bisa-bisa masyarakatnya punah. Karena kehidupan itu sudah tidak ada lagi," tukas Alfian lagi. Menurutnya hanya yang punya lahan yang bisa bertahan hidup di Rukam. Sementara buat mereka yang menyambung hidup dengan mencari ikan atau menjadi buruh di kebun sawit, nasib tak lagi ramah seperti dulu.

"Hutan itu kalau dapat jangan dijual lagi lah. Cukup lah kami masyarakat desa Rukam yang mengalami akibatnya."

Dua Seteru Desa

Siang itu Usman mencangkul di halaman belakang rumah. Tubuhnya berpeluh deras. Suhu udara di tepi Batang Hari masih terasa menyengat usai puncak musim kemarau. Namun tugas menggali sumur resapan tidak bisa ditunda. Kekeringan sudah mengancam sumur-sumur desa.

Desa Rukam di Kecamatan Taman Rajo, Muaro Jambi, Jambi.

Desa Rukam di Kecamatan Taman Rajo, Muaro Jambi, Jambi.

Keluarga Usman hidup lintas generasi di Rukam. Bagian depan rumahnya terbuat dari batu. Berbanding kontras dengan milik tetangga yang kebanyakan berdinding kayu. Sebuah kulkas dua pintu berdiri kokoh di pojok dapur. Adapun sepeda motor diparkir di halaman depan. Dia dan sang istri sedang berbesar hati karena akan menunaikan ibadah Umrah tak lama lagi.

"Saya tidak ikut-ikutan apapun lagi di desa ini," kata dia saat ditanya mengenai perjuangan warga menuntut tanggung jawab perusahaan atas kerusakan lingkungan. "Kami urus diri sendiri saja."

Ada alasan lain kenapa dia tidak tertarik pada perjuangan penduduk Rukam. Usman ikut mengkampanyekan penjualan lahan kepada PT. EWF. Dia termasuk sekelompok warga yang diundang perusahaan ke perkebunan untuk meyakinkan pemerintah, betapa penduduk menyetujui pembangunan kebun sawit di tepi desa.

Sebab itu pula dia berseteru dengan Datuk Syafei, tetua adat. "Perumpamaannya begini, kalau kita menang semua senang, kalau kita kalah mereka senang,” kata datuk soal perselisihan warga seputar ganti rugi PT. EWF.

Keduanya tidak lagi banyak bertukar kata sejak waktu yang lama. 
Bersambung ke halaman berikutnya: 

Halaman 1 | 2 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait