Irlandia Utara Bentuk Pemerintahan Baru | Fokus | DW | 08.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Irlandia Utara Bentuk Pemerintahan Baru

Setelah diatur secara administratif selama hampir 5 tahun oleh Inggris, Irlandia Utara kembali mempunyai pemerintahan independen.

Ian Paisley (kiri) dan Martin McGuinness (kanan) setelah pelantikan hari Kamis (08/07)

Ian Paisley (kiri) dan Martin McGuinness (kanan) setelah pelantikan hari Kamis (08/07)

Pemimpin Partai Demokratis Protestan, DUP, Ian Paisley, diangkat sebagai perdana menteri, dengan demikian ia menjabat sebagai kepala pemerintahan salah satu propinsi Inggris ini. Martin McGuinness dari Partai Katolik Sinn Fein diangkat sebagai wakil Paisley.

Setelah perseteruan selama bertahun-tahun dan juga dengan tekanan dari London dan Dublin, kedua partai yang bermusuhan ini sepakat akan pembagian kekuasaan. Pemerintahan bersana ini diharapkan dapat mengakhiri proses perdamaian, yang dimulai tahun 1998 dengan Perjanjian Jum’at Agung.

Sebelumnya, sebagai pemimpin partai Protestan, Ian Paisley selalu menolak untuk berunding dengan Partai Katolik Sinn Fein. Tetapi setelah pemilihan di Irlandia Utara awal Maret yang lalu, ia setuju untuk berunding dengan musuh bebuyutannya. Dengan senyum diwajahnya, pemimpin Partai Sinn Fein, Martin McGuinness, mengatakan, bahwa itu adalah sebuah pertemuan yang menarik. Lebih lanjut McGuinness:

„Saya duduk bersama Paisley dan lima orang lainnya. Kami menulis surat kepada Peter hain, menteri urusan hubungan Inggris-Irlandia Utara. Setiap orang di meja menginginkan sebuah kopi dari surat bersejarah ini, sebuah usaha bersama pertama kami.“

Mulai Selasa ini Paisley dan McGuinness akan bersama-sama memerintah Irlandia Utara, setelah 18 tahun kebencian, perang saudara dan banyaknya korban tewas dari kedua belah pihak.

Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan, bahwa ini adalah sebuah masa depan yang sama sekali baru bagi orang-orang di Irlandia Utara. Menurut sejarawan Timothy Garton, permulaan baru ini merupakan jasa Blair.

Timothy Garton: “Ini merupakan hasil kerja Blair yang sangat berarti. Ia memberikan banyak energi untuk hal ini, ia benar-benar berusaha membantu dalam hal ini. Dan sekarang situasinya mengalami perubahan.“

Selain Tony Blair, kepala pemerintahan Irlandia, Bertie Ahern, akan ikut serta dalam upacara di Belfast. Terutama sokongan Fin dari London dan Dublin berupa dana sebesar jutaan Euro yang mempermudah kesepakatan ini. Tetapi walaupun pembagian kekuasaan antara kaum Protestan dan kaum Katolik ini dipuja-puji, tetap ada keraguan, apakah hal ini benar-benar dapat berfungsi dalam prakteknya. Paul Bew dari Universitas Queens die Belfast:

„Pertanyaannya adalah: apakah benar-benar akan ada perdamaian? atau apakah hanya ada pembagian kekuasaan dari para menteri dan daerah kekuasaan. Apakah para politisi akan memerintah bersama-sama, sedangkan rakyat semakin terpecah? bahkan dengan bahaya, dapat terjadinya kerusuhan lagi. Pemerintah Inggris percaya, bahwa pembentukkan pemerintahan bersama saja sudah memancarkan energi positif. Tetapi ini sebenarnya tentang apa yang ada dipikiran para politisi. Dan mereka masih sangat jauh dari perdamaian yang sebenarnya.“

Sementara itu Ian Paisley sendiri berkata, bahwa ia tidak akan langsung mengkritik McGuinness dengan keras, tetapi ia akan tetap mempertahankan pendapatnya. Ini berarti: dari luar memang terlihat ada perdamaian, tetapi didalam perjalananya masih panjang.