Iran Tolak Usul Rusia Soal Kerjasama Nuklir | Fokus | DW | 13.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Iran Tolak Usul Rusia Soal Kerjasama Nuklir

Hari Senin (13/02) Iran mengumumkan penundaan konsultasi nuklir dengan Rusia untuk waktu tidak ditentukan.

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad bersikeras melanjutkan program nuklir

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad bersikeras melanjutkan program nuklir

Para juru runding Iran tadinya akan terbang ke Moskow hari Kamis (16/02) besok untuk melakukan konsultasi tentang program nuklir. Usul kerjasama program nuklir datang dari Rusia dengan maksud menengahi sengketa program atom Iran. Setelah prakarsa Uni Eropa membujuk Iran gagal, Amerika Serikat dan Eropa akhirnya juga setuju dengan usul Rusia.

Memang Rusia menawarkan pendekatan baru dengan prinsip, Iran punya hak memiliki teknologi nuklir untuk tujuan sipil. Yang jadi masalah, proses pengayaan uranium bisa digunakan untuk tujuan militer. Karena itu banyak kalangan khawatir kalau Iran mengaktifkan kembali instalasi pengayaan uranium. Rusia mengusulkan agar pengayaan uranium dilakukan sebagai proyek kerjasama dan dilaksanakan di Rusia, sehingga sengketa utama tentang program nuklir Iran bisa diselesaikan. Jadi reaktor tenaga nuklir di Iran nantinya akan dipasok dengan batang bahan bakar nuklir dari Rusia.

Ternyata, usulan kompromi dari Rusia tidak diterima oleh Iran. Jurubicara pemerintah Iran Gholamhussein Elham menerangkan, konsultasi dengan Moskow ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

Gholamhussein Elham: „Pemerintah menegaskan, pengayaan uranium harus dilaksanakan di sini. Jadi usul Rusia harus dicocokkan dengan kebijakan Republik Islam. Itu yang masih dibahas.“

Tidak jelas, apa yang masih bisa dirundingkan. Rusia sebenarnya sudah menegaskan, kerjasama hanya mungkin dilakukan jika Iran menghentikan semua kegiatan pengayaan uranium, termasuk kegiatan untuk tujuan penlitian. Sekarang, sengketa nuklir dengan Iran makin meruncing. Apalagi hari Senin Iran mengumumkan akan memperluas kegiatan pengayaan uranium. Badan Atom Internasioanal IAEA sebenarnya masih memberi batas waktu sampai 6 Maret sebelum membawa kasus Iran ke Dewan Keamanan. Tapi Iran tidak mau menunggu sampai batas waktu itu dan sudah mengumumkan kegiatan pengayaan uranium dalam skala industri.

Banyak kalangan sebenarnya meragukan kemampuan Iran melakukan pengayaan uranium dalam skala industri. Tapi menurut keterangan IAEA, Iran memang sudah mulai mengisi gas uranium ke dalam instalasi zentrifugalnya. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad di hadapan ratusan ribu massa yang mengelu-elukannya menegaskan, Iran tidak akan bergantung pada luar negeri.

Mahmud Ahmadinejad: „Sejak 27 tahun mereka tidak memasok suku cadang lagi untuk pesawat. Lalu apa jaminannya, mereka akan memasok batang bahan bakar?“

Iran ingin bisa mengoperasikan dan menghasilkan uranium sepenuhnya di dalam negeri. Pemerintah Iran merasa kuat dengan dukungan luas dari rakyatnya. Negara penghasil minyak ini juga tidak percaya Dewan Keamanan PBB akan berani menjatuhkan sanksi.