Iran Belum Termasuk Jajaran Penguasa Atom | Fokus | DW | 13.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Iran Belum Termasuk Jajaran Penguasa Atom

Tampaknya Iran berhasil mengayakan uranium dengan sukses. Kini Iran merasa telah bergabung dalam jajaran negara-negara kekuatan atom.

Iran Berhasil Mengayakan Uranium

Iran Berhasil Mengayakan Uranium

Namun, karena belum memiliki senjata atom, Iran belum bisa dikatakan sebagai 'penguasa atom'. Presiden Iran Mahmud Ahmadinedjad kembali mengukuhkan, negaranya tidak memiliki senjata nuklir dan tetap bersedia bekerja-sama dengan Badan Energi Atom Internasional IAEA yang berpusat di Wina itu.

Terobosan baru Iran dalam teknologi atom serta pengumuman mengenainya, diungkapkan satu hari sebelum kedatangan Kepala IAEA Mohamad El Baradei ke Teheran dan dua minggu sebelum berakhirnya batas waktu yang diberikan IAEA kepada Iran untuk menghentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengayaan uranium. Dengan demikian, sikap Iran bisa dimengerti sebagai provokasi atau sebagai konsekuensi politik atomnya.

Karena menandatangani perjanjian non-proliferasi atom, Iran berhak mengayakan uranium untuk tujuan damai. Semua tudingan Washington, Yerusalem dan Brussel, bahwa Iran membuat senjata nuklir tidak berdasarkan fakta. Oleh karena itu, tidak mengherankan Iran kembali merasa ditekan dan diperlakukan seperti anak kecil. Iran hendak membuktikan kepada dunia, bahwa negara itu sanggup menghadapi segala tudingan.

Iran memiliki sejumlah ilmuwan yang mampu mengayakan uranium. Namun, yang perlu dipertanyakan, apakah negara itu juga memiliki politisi yang sanggup menerapkan kapasitas tersebut dengan baik. Bagaimanapun besarnya eforia akan terobosan teknologi Iran, jurang pemisah antara Iran dengan negara-negara yang mencurigainya semakin besar.

Dengan memiliki 164 mesin sentrifugal, Iran berhasil meningkatkan pengayaan uraniumnya hingga 3,5 persen. Untuk membuat senjata atom dibutuhkan ribuan mesin sentrifugal dan konsentrasinya harus mencapai sedikitnya 90 persen. Namun, negara itu masih jauh dari tingkatan tersebut dan membutuhkan tahunan untuk meraihnya. Oleh karena itu, sangatlah fatal jika diberlakukannya sanksi pada Iran.

Selama ini negara-negara Barat selalu mengandalkan diplomasi untuk mencari solusi dalam sengketa atom Iran, dan sekarang saatnya untuk menerapkannya. Dialog terbuka serta saling mengawasi dapat mengurangi kecurigaan. Dengan cara demikian tidak ada yang dirugikan, selama tidak menyimpang dari pernyataan yang telah dilontarkan.