Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak | Fokus | DW | 05.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengancam akan menghentikan pemasokan minyak kepada negara-negara barat, jika Iran dijatuhi sanksi.

Khamenei berpidato di depan potret Khomeini

Khamenei berpidato di depan potret Khomeini

“Amerika tidak bisa berbuat apa-apa.“ Kutipan dari kata-kata Khomeini ini menghiasi panggung tempat Ali Khamenei berpidato. Khamenei juga menyinggung masalah Amerika dengan Irak, Afganistan dan Palestina. Orang paling berkuasa di Iran itu menyatakan di depan ribuan tamu-tamu, bahwa AS tidak bisa melakukan kesalahan berikutnya, tanpa menderita kerugian besar.

Ancaman Iran

Dalam pidatonya, Ayatollah Ali Khamenei mengancam, jika AS malakukan kesalahan kecil saja di Iran, maka penyediaan energi di negara itu akan terancam. Ancaman tersebut langsung membuat harga minyak di pasaran internasional naik lagi, saat ini melewati 70 Dollar AS per barrel. Ini merupakan rekor baru. Iran adalah pengekspor minyak keempat terbesar dan memiliki persediaan gas kedua terbesar dunia.

Namun demikian, menteri perminyakan Iran selalu menekankan, negaranya tidak akan menyalah gunakan energi sebagai senjata. Masalah politik tidak akan dikaitkan dengan minyak. Jadi ancaman Khamenei kelihatannya hanya peringatan terhadap serangan militer AS. Kawasan Teluk Persia yang dikuasai Iran adalah daerah yang menghasilkan lebih dari seperempat kebutuhan minyak dunia. Untuk menunjukkan kekuasaannya, dua pekan lalu Iran mengadakan latihan perang-perangan laut di wilayah tersebut.

Tawaran Negara-Negara Barat

Dengan pidatonya di makam Khomeini, Khamenei tidak menyatakan secara jelas, apa sebenarnya isi tawaran baru dari negara-negara Barat. Di Iran pun, isi detailnya masih belum diketahui, karena Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana baru membawanya ke Teheran dalam kunjungan hari ini. Ia akan tiba malam ini di Teheran, dan hanya akan tinggal selama 24 jam di negara itu.

Pada dasarnya, menurut usulan anggota tetap DK PBB dan Jerman itu, Iran akan dibantu dalam usaha memperoleh energi lewat nuklir. Dalam rangka paket itu, AS berniat menghapuskan sejumlah ancaman sanksi terhadap Iran. Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice menekankan, Iran harus menyatakan dalam jangka waktu beberapa pekan saja, bukan beberapa bulan, apakah negara itu menginginkan kerjasama atau konfrontasi.

Reaksi Iran

Secara umum Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, Iran akan mengorientasikan diri pada kepentingan nasionalnya. Selama ini, Iran menganggap memperkaya uranium adalah salah satu kepentingan tersebut. Tetapi inilah yang harus dihentikan Iran terlebih dahulu, sebagai tanda keinginan baik. Demikian tuntutan negara-negara Barat, sebelum perundingan yang sesungguhnya dimulai.

Paling tidak Presiden Ahmadinejad sudah setuju untuk tidak mengulas setiap detail hingga mendasar sampai perundingan mengalami kebuntuan. Hal itu sesuai permintaan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kofi Annan. Menurut Ahmadinejad, pertama-tama mereka akan meninjau dulu, bagaimana bunyi usulannya. Kemudian keputusan akan diambil, dengan mengutamakan kepentingan nasional. Setelah itu baru diumumkan.

Pihak Barat sendiri beranggapan, hingga pertemuan G8 mendatang masih ada waktu untuk itu. Tetapi Ahmadinejad tidak menunjukkan kesediaan berkompromi dalam masalah proses memperkaya uranium. (ml)