Irak Utara dan Pemilihan Kongres AS | Fokus | DW | 08.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Irak Utara dan Pemilihan Kongres AS

Apakah pemilihan Kongres Amerika Serikat akan mempengaruhi politik di Irak? Pertanyaan singkat ini tak begitu ditanggapi antusias di salah satu kawasan perbelanjaan ramai di Erbil, Irak Utara.

Pasukan AS di Irak Utara

Pasukan AS di Irak Utara

Seorang penjual kaset musik misalnya, berkomentar bahwa setidaknya dari musik pop Amerika, tema Amerika dan Irak tak pernah muncul. Seorang tukang kayu mengatakan dirinya tidak tahu Presiden AS Bush telah membuat keputusan akhir untuk diktator Saddam Hussein. Seorang pedagang kelontong mengakui dirinya mendapat informasi tentang pemilihan Kongres AS. Dia mengatakan tak peduli partai mana pun yang menang, Partai Demokrat atau Partai Republik, asal keadaan politik AS tetap sama.

Namun Sherzad Ameen memikirkan keadaan politik Amerika Serikat. Sherzad Ameen adalah seorang Doktor Ilmu Politik dari Universitas Wina, Austria. Dia juga mengajar Ilmu Politik di dua universitas di Irak Utara. Karir utamanya adalah penasihat perdana menteri Irak. Menurut Sherzad Ameen, kaum Demokrat dan Republikan pada dasarnya sependapat: "Orang Amerika ingin tetap di Irak. Kepentingan mereka sudah jelas, sumber minyak. Kawasan strategis yang dimiliki Irak harus tetap diamankan."

Sebenarnya yang paling diinginkan Amerika Serikat adalah mempertahankan sumber minyak bumi. Lokasi geografis strategis Irak, yang diapit Iran, Suriah atau Arab Saudi tak begitu penting bagi Amerika Serikat. Sampai di situ Ameen tidak memperhitungkan penarikan tiba-tiba pasukan Amerika Serikat. Politisi Washington dan semua politisi mengetahui, komando cepat penarikan mundur akan mendapatkan konsekuensi. Pemerintah Iran, yang didukung milisi Muslim Syiah, ingin mengisi kekosongan tersebut. Sherzad Ameen mengatakan: "Jika kita amati meruncingnya konflik di Irak, terlihat jelas ada keterlibatan Iran di situ."

Tentu saja pakar ilmu politik ini mengharapkan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat yang lebih direncanakan dan lebih teratur, dengan penetapan tinggalnya beberapa kontingen di beberapa wilayah. Saat ini di Washington juga tengah diusulkan perubahan yang harus dilakukan di lingkungan diplomatik. Walaupun hingga saat ini pemerintahan Bush menolaknya, negosiasi dengan pemimpin Suriah dan Iran mengenai penghentian dukungan beberapa kelompok militan di Irak tetap akan dilakukan.

Terlepas dari pertanyaan siapa pemenang pemilihan parlemen Amerika Serikat nanti, Sherzad Ameen yakin bahwa kabinet Maliki akan dibubarkan paling lambat tahun depan, akibat politik Irak yang terpecah belah dan perintah dari Amerika Serikat dan struktur kekuasaan setempat yang baru. Jargon „pemerintah pemulihan nasional“ yang merupakan kata yang paling sering keluar di Irak beberapa waktu lalu membuat suatu putaran. Jargon ini keluar dari koalisi baru yang selalu akan terbentuk. Mereka harus keras terhadap milisi dan pendukung pemberontakan. Menurut Sherzad Ameen, junta militer ini, demikian julukan dari para kritisi, harus melaksanakan demokratisasi di Irak. Pemerintah baru Irak ini harus dibentuk dari hasil pemilihan umum.

Hal seperti inilah yang juga telah dilakukan Amerika Serikat untuk Irak. Apakah itu berarti pemilihan umum dan undang-undang baru bukan merupakan proses yang demokratis? "Proses yang demokratis? Nampaknya memang sebuah proses demokrasi, namun sebenarnya bukan." Demikian dikatakan Sherzad Ameen.