Investasi Asing Global Akan Turun Setengahnya dalam Dua Tahun ke Depan | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 18.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Investasi Asing Global Akan Turun Setengahnya dalam Dua Tahun ke Depan

Laporan UNCTAD World Investment Report 2020 menyebutkan, negara-negara berkembang adalah yang “paling terpukul” oleh anjloknya investasi global akibat pandemi corona.

Dampak ekonomi pandemi corona akan memaksa perusahaan internasional memperketat anggarannya, kata laporan terbaru PBB World Investment Report 2020 (WIR 2020). Laporan yang dikeluarkan badan PBB untuk perdagangan dan perkembangan, UNCTAD, menyebutkan, negara-negara berkembang akan menjadi pihak yang “paling terpukul”. 

Aliran investasi asing langsung, FDI, secara global bisa turun sampai 40% pada tahun ini, karena banyak perusahaan yang akan meninjau kembali rencana investasi mereka, kata WIR 2020. Penurunan dramatis ini akan mendorong nilai FDI global ke bawah 1 triliun dolar untuk pertama kalinya sejak 2005. WIR 2020 mengasumsikan bahwa wabah corona akan berlanjut hingga 2021.

"Dampaknya, meskipun sangat parah di mana-mana, berbeda-beda di setiap wilayah. Negara berkembang diperkirakan akan melihat penurunan FDI terbesar," kata James Zhan, direktur investasi UNCTAD dan penulis utama World Investment Report kepada DW. Negara berkembang akan sangat terpukul, karena mereka juga tidak mampu menerapkan langkah-langkah stimulus ekonomi besar-besaran seperti negara-negara maju.

Syok tiga rangkap

Tanda-tanda peringatan dini sudah terlihat jelas, kata  WIR 2020. 5.000 perusahaan multinasional teratas dunia, yang menyumbang sebagian besar FDI global, sudah merevisi prediksi pendapatan yang diperkirakan untuk tahun 2020 rata-rata turun 40%, dengan beberapa industri mengalami kemerosotan lebih besar lagi, menurut survei yang dilakukan James Zhan dan timnya.

Kepada DW James Zhan mengatakan, pandemi corona menyebabkan syok tiga rangkap, yaitu di sisi permintaan, penawaran, dan kebijakan FDI. Penurunan tajam Produk Domestik Bruto global juga akan berdampak negatif pada investasi baru.

Langkah lockdown yang diterapkan di berbagai negara telah mengganggu rantai pasokan global serta memperlambat proyek investasi yang ada. Kebijakan restriktif yang diadopsi oleh berbagai negara juga mengguncang sektor perdagangan, yang sudah terhambat oleh meningkatnya tren proteksionisme selama beberapa tahun terakhir.

UNCTAD memperkirakan, aliran FDI global baru akan mulai pulih secara perlahan tahun 2022, ketika perekonomian lambat laun bangkit kembali. Tetapi James Zhan memperingatkan, prospek ekonomi masih "sangat tidak pasti" dan banyak hal akan bergantung pada berapa lama wabah berlangsung di satu kawasan, dan apakah langkah-langkah fiskal dan moneter yang diluncurkan cukup efektif.

Investasi ke Asia anjlok sampai 45 persen

Laporan  WIR 2020 memperkirakan, aliran FDI ke Asia, tujuan terbesar untuk investasi asing saat ini, akan turun 30-45% pada tahun 2020. Perekonomian Asia, terutana Vietnam, Indonesia dan Thailand, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi magnit bagi FDI global dan terus mencatat rekor investasi, akan mengalami pukulan terbesar, apalagi rantai pasokan global mengalami gangguan besar.

FDI di Amerika Latin dan Karibia diperkirakan akan berkurang banyak pada tahun 2020, ketika turbulensi politik diperparah oleh wabah corona dan kelemahan struktural di beberapa negara.Afrika diperkirakan akan mengalami penurunan investasi asing antara 25 persen sampai 40 persen. Tetapi Afrika juga bisa menjadi benua yang tercepat untuk bangkit kembali, karena ikatan kuat ke benua itu yang dimiliki beberapa negara ekonomi utama, dan integrasi regional yang tumbuh setelah dimulainya Kawasan Perdagangan Bebas Afrika, kata James Zhan.

"Meskipun semua industri diperkirakan akan terpengaruh, beberapa industri jasa termasuk penerbangan, perhotelan, pariwisata, dan rekreasi akan mengalami kesulitan lebih besar, tren yang enderung bertahan untuk beberapa waktu di masa mendatang," tambahnyakata James Zhan. (hp/yf)

Laporan Pilihan