InterPeace Mulai Bekerja di Aceh | dunia | DW | 01.06.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

InterPeace Mulai Bekerja di Aceh

Mulai 1 Juni ini, organisasi yang dipimpin oleh bekas Presiden Finlandia Marthi Ahtisaari, InterPeace menjalankan misinya di Aceh. Misi lembaga ini di Aceh adalah untuk memelihara kondisi damai di bumi serambi Mekah tersebut. Keberadaan lembaga ini dipandang penting, karena pemantau perdamaian di Aceh sebelumnya, Aceh Monitoring Mission telah habis masa tugasnya.

InterPeace mulai menjalankan misinya di Aceh. Di provinsi Nanggroe Aceh Darusallam ini, lembaga yang dipimpin mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari tersebut bertujuan untuk memantau perdamaian. Dalam menjalankan aktivitasnya di Aceh, Interpeace bekerjasama dengan Yayasan Institut Perdamaian Indonesia IPI yang dipimpin oleh Ulla Nacharrawati. Ulla mengatakan IPI dan Interpeace memiliki visi “perdamaian bagi semua untuk selamanya”, dengan menitikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi.

Meski secara garis besar memiliki misi yang sama, lembaga ini bukan merupakan kelanjutan dari misi lembaga pemantau Aceh Monitoring Mission AMM. InterPeace mendapat dukungan pemerintah Indonesia, Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka Malik Mahmud, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan kalangan militer di Aceh. Sofyan Dawood, salah seorang mantan anggota GAM yang duduk dalam struktur lembaga baru ini menekankan pentingnya dukungan bagi eksistensi lembaga IPI-Interpeace tersebut.

Hal senada disampaikan Juha Christensen selaku Program Director Intepeace untuk Indonesia. Beberapa negara Eropa seperti Swiss, Norwegia, Swedia dan Belanda telah memberikan dukungan nyata dalam bentuk bantuan pendanaan misi lembaga ini di Aceh. Juha menyebutkan ada empat tugas utama Interpeace dalam memantau perdamaian di Aceh, yaitu tindakan pencegahan, sosialisasi, kuratif, dan rehabilitasi berbagai masalah di masa perdamaian yang saat ini berlangsung.

Oleh lembaga ini, Aceh akan dijadikan proyek awal di Indonesia dan lembaga ini melanjutkan misi yang sama untuk misi perdamaian di wilayah konflik lainnya di Indonesia. Namun sejauh mana lembaga ini efektif dalam menekan pihak bertingkai mengingat konflik yang terjadi di Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia? Menurut Profesor Bachtiar Aly, salah seorang pendiri Instutute Perdamaian Indonesia, hal itu tergantung dari sejauh mana Interpeace memiliki integritas.

  • Tanggal 01.06.2007
  • Penulis Uzair
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP5m
  • Tanggal 01.06.2007
  • Penulis Uzair
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP5m
Iklan