Intelijen Jerman Gagalkan Rencana Serangan Besar ISIS Tahun 2016 | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 18.10.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Teror ISIS

Intelijen Jerman Gagalkan Rencana Serangan Besar ISIS Tahun 2016

Intelijen Jerman berhasil menggagalkan rencana serangan teror besar-besaran yang direncanakan kelompok ISIS tahun 2016. ISIS mengirim 3 tim komando bunuh diri untuk persiapan aksi teror.

Tiga tim komando bunuh diri ISIS tahun 2016 datang ke Jerman untuk mempersiapkan dan melaksanakan serangan besar secara simultan di beberapa lokasi di Jerman. Salah satu targetnya adalah sebuah festival musik yang dikunjungi ribuan penonton.

Hal itu diungkapkan bekas anggota ISIS Oguz G. yang sekarang ditahan di Kurdi-Irak kepada tim jurnalis investigatif media Jerman. Oguz G. dan istrinya Marcia M. melakukan perjalanan ke Suriah tahun 2015 untuk bergabung dengann kelompok radikal Islamis ISIS.

Menurut pengakuannya, dia kemudian direkrut ISIS menjadi salah satu penghubung dalam rencana serangan teror di Jerman. Istrinya Marcia M bertugas untuk merekrut dua perempuan di Jerman agar menikahi anggota ISIS. Tujuannya agar skuad bunuh diri itu bisa leluasa masuk ke Jerman.

Namun salah satu teman perempuan yang dihubungi Marcia M ternyata adalah informan badan intelijen dalam negeri Jerman, BfV (Bundesamt für Verfassungsschutz). Mendapat informasi itu, dinas rahasia segera memperingatkan pihak kepolisian.

Syrien IS-Kämpfer im Einsatz in (picture-alliance/ZUMA Wire/Planet Pix)

Propaganda ISIS di Suriah

Terinspirasi serangan di Bataclan Paris

Rincian kasus itu terungkap setelah tim jurnalis dari gabungan media Jerman melakukan investigasi sampai ke Irak. Tim itu terdiri dari para jurnalis media cetak dan elektronik, yaitu stasiun penyiaran publik ARD dan WDR dan surat kabar terkemuka Süddeutsche Zeitung dan Die Zeit. Keterangan Oguz G. kemudian dikonfirmasi oleh Kejaksaan Jerman.

"Kami mengetahui rencana serangan itu, jadi kami memulai proses penyidikan kriminal pada Oktober 2016," kata Jaksa Penuntut Umum Peter Frank kepada televisi ARD. "Bagi kami, fakta-fakta dalam kasus itu sangat konkrit dan juga kredibel."

Rencana serangan teror ISIS di Jerman itu disebutkan terinspirasi oleh serangan di Paris November 2015 yang menewaskan 130 orang. Yang paling banyak dengan 90 korban tewas di gedung konser musik Bataclan. Saat itu sedang digelar konser band Eagles of Death Metal, ketika penyerang menyerbu masuk dan menembaki penonton secara membabi buta.

Beberapa pelaku ditembak mati oleh polisi, yang lain meledakkan diri ketika polisi datang. Perancis kemudian memberlakukan situasi darurat di seluruh negeri untuk mengejar sel-sel teror yang mendukung serangan itu.

Frankreich Bataclan Cafe (Reuters/C. Platiau)

Serangan teror di gedung konser Bataclan, Paris, November 2015, menewaskan 130 orang

Menyerahkan diri

Polisi Jerman berhasil menggagalkan rencana itu dan sampai sekarang masih mengejar perancang serangan itu yang menghilang di Suriah. Setelah ISIS menderita kekalahan di Suriah dan irak, Oguz G. dan istinya Marcia M menyerahkan diri kepada pejuang Kurdi yang menguasai wilayah itu. Mereka kemudian ditahan pihak Kurdi di Suriah utara.

Tim wartawan berhasil mewawancarai Oguz G., yang diberitakan berasal dari kota Hildesheim, Jerman. Dia mengaku terlibat dalam rencana serangan teror besar dan menyatakan menyesal atas tindakannya. Dia juga mengaku sudah mencoba keluar dari wilayah ISIS setelah tahu ada rencana serangan teror itu.

Rencana serangan itu diduga diprakarsai oleh salah satu gembong ISIS yang dikenal sebagai Abu Mussab al Almani. Kepolisian Jerman mengatakan, gembong terosris kemungkinan warga Swiss yang asloinya bernama Thomas C. yang bergabung dengan ISIS. Thomas C alias  Abu Mussab al Almani diduga sudah tewas dalam suatu pertempuran di Suriah.

hp/as (dpa, afp)

 

Laporan Pilihan