Inggris Akan Pulangkan Pasukan di Irak | Fokus | DW | 21.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Inggris Akan Pulangkan Pasukan di Irak

Inggris merencanakan menarik 3000 tentara dari Irak hingga akhir tahun ini.

PM Inggris Tony Blair

PM Inggris Tony Blair

1500 tentara akan meninggalkan Irak hingga akhir April, sementara sisanya akan dipulangkan hingga perayaan Natal mendatang. Mengenai rencana itu, Perdana Menteri Tony Blair memberikan penjelasannya siang ini waktu setempat. Semenjak akhir pekan lalu, pernyataan Blair tentang penarikan pasukan Inggris dari Irak memang sudah dinanti-nantikan. Hari Minggu lalu, Blair mengatakan operasi Sindbad di Irak selatan sebagai misi yang berhasil.

„Operasi yang kami jalankan di Basra kini telah usai. Misi operasi adalah menyerahkan tanggung jawab kepada angkatan bersenjata Irak.“

Menurut informasi dari BBC, Blair akan memperlambat proses penarikan mundur jika situasi di Irak memburuk. Ini sesuai dengan pernyataannya pada hari Minggu lalu.

„Kita harus memastikan bahwa masih cukup banyak pasukan Inggris yang berada disana untuk mendukung warga Irak jika ada masalah khusus yang timbul.“

Secara keseluruhan pasukan Inggris yang akan ditarik berasal dari Basra. Berbeda dengan Amerika Serikat yang menambah jumlah pasukan mereka di Bagdad dan sekitarnya. Blair mengatakan, Basra tidak dapat disamakan dengan Bagdad.

„Di Bagdad ada pejuang Sunni, aksi bom bunuh diri Al Qaida dan kekerasan sektarian. Di Basra ini sangat berkurang. Disana tidak ada pejuang Sunni dan masalah Al Qaida.“

Namun, ada masalah lain di Basra. Yaitu, pengaruh Iran. Pakar keamanan Inggris Dan Plesch berpendapat, penarikan pasukan Inggris dari Basra tidak sepenuhnya dianggap positif oleh Amerika Serikat.

„Banyak pihak di Washington yang akan melihatnya sebagai kapitulasi Inggris terhadap Iran. Pengaruh Iran di wilayah Syiah selatan Irak adalah yang terbesar. Dan Presiden Bush pada awal tahun secara jelas mengatakan, bahwa ia akan mengambil langkah militer terhadap pengaruh Iran.“

Sebelum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rencana penarikan mundur pasukan Inggris dari Irak, Tony Blair telah terlebih dahulu berbicara dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush. Kedua belah pihak sepertinya akan berusaha untuk menggambarkan penarikan mundur pasukan Inggris sebagai suatu keberhasilan dan bukan pelarian dari pengaruh Iran yang semakin besar.