1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto ilustrasi industri fesyen
Foto: K. Ayuningtyas/DW

Industri Tekstil: Manis bagi Ekonomi, Pahit bagi Lingkungan

25 Mei 2022

Industri tekstil menjadi industri strategis di Indonesia, tetapi industri ini juga menjadi penyumbang polusi terbesar kedua di dunia. Mampukah industri tekstil di Indonesia lebih ramah lingkungan?

https://www.dw.com/id/industri-tekstil-manis-bagi-ekonomi-pahit-bagi-lingkungan/a-61924618

"Gayamu berbusana adalah cara menunjukkan siapa dirimu tanpa harus berbicara,” kutipan dari desainer Amerika Serikat, Rachel Zoe, ini dapat menggambarkan bagaimana fesyen telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern saat ini. Di Indonesia, industri fesyen berkembang manis. Pada 2019 sebelum pandemi, industri fesyen nasional mampu menyumbang sekitar 18 persen dari pendapatan nasional atau sekitar Rp1.500 triliun. Saat ini Indonesia menjadi 10 negara terbesar sebagai eksportir tekstil ke seluruh dunia.

Pemerintah Indonesia mencatat industri tekstil telah menyerap 3,58 juta lapangan kerja. "Sektor ini menyumbang sekitar 21,2 persen lapangan pekerjaan di sektor manufaktur,” ungkap President UN Global Compact Indonesia, Yaya Winarno Junardi, dalam acara simposium Textile Science meet Textile Economy yang digelar di Unika Atma Jaya Jakarta hari Selasa (24/05).

Karena kontribusi dunia fesyen pada pendapatan nasional, pemerintah Indonesia telah menetapkan industri tekstil sebagai salah satu industri strategis nasional. Setelah menghadapi kontraksi selama pandemi, Indonesia mematok proyeksi pertumbuhan industri tekstil di angka 5 persen pada 2022.

Namun, manisnya kontribusi industri fesyen ataupun tekstil di Indonesia tidak berbanding lurus dengan dampaknya pada lingkungan hidup. "Sayangnya, industri fesyen, termasuk sektor tekstil di dalamnya, adalah industri kedua yang paling banyak menyumbang polusi pada lingkungan,” papar Yaya Winarno Junardi.

Masalah serius pada lingkungan

Isu kerusakan lingkungan menjadi masalah serius dalam perkembangan industri tekstil. Data dari Ellen MacArthur Foundation pada 2017 menyebut industri tekstil telah menghasilkan emisi gas rumah kaca sampai 1,2 miliar ton per tahun. Data dari UN Alliance for Sustainable Fashion menyebut industri fesyen membutuhkan sekitar 215 triliun liter air per tahun. Di sisi lain, industri ini juga telah berdampak besar pada 20 persen pencemaran limbah air secara global. Masalah lainnya juga ada pada penggunaan energi yang besar dalam memproduksi tekstil.

Di Indonesia, hingga saat ini proses untuk menciptakan industri fesyen yang ramah lingkungan masih menghadapi banyak tantangan. Iwan Kurniawan Lukminto, Wakil Presiden Direktur PT. Sri Rejeki Isman atau Sritex, sebuah perusahaan tekstil besar di Indonesia, menyebut "saat ini salah satu tantangannya Indonesia memiliki keterbatasan dalam memilih opsi sumber energi yang akan digunakan bagi industri tekstil.”

Opsi energi yang lebih ramah pada lingkungan menjadi salah satu fokus pemerintah Indonesia. "Akselarasi dari transisi energi menjadi sebuah keharusan. Saat ini isu transisi energi menjadi salah satu gagasan yang pemerintah Indonesia bawa dalam presidensi G20,” ungkap Sekretaris Jenderal bidang Energi Keterbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Ego Syahrial.

Kementerian ESDM menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan 3.686 gigawatt energi terbarukan. Namun hingga saat ini, baru sekitar 0,3 persen saja yang sudah dikembangkan. Rencananya pada 2025, Indonesia mematok sekitar 23 persen kebutuhan energi nasional dari energi terbarukan.

Tren pada fesyen yang ramah lingkungan

Kesadaran masyarakat pada produk fesyen yang ramah lingkungan semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini tidak lepas dari isu perubahan iklim yang menjadi perhatian global. "Saat ini saat kita berbicara mengenai industri fesyen, kita berbicara tentang tren yang paling penting yaitu isu berkelanjutan. Saat ini kita harus menyadari bahwa produksi tekstil dan fesyen dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan keterampilan dan proses efisiensi terhadap sumber daya dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Yaya Winarno Junardi.

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep fesyen berkelanjutan atau ramah lingkungan (sustainable fashion) terus digaungkan oleh para desainer dan brand di seluruh dunia. Hal ini untuk membangun kesadaran pada konsumen mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

"Saat ini konsumen makin sadar pada isu lingkungan, termasuk juga pada apa yang mereka beli dan gunakan,” papar Iwan Kurniawan Lukminto. Sebagai pelaku industri tekstil, Lukminto memaparkan tantangan lainnya di Indonesia untuk menciptakan iklim fesyen yang bekelanjutan juga ada pada isu keterjangkauan harga produk bagi konsumen.

Masalah utama perkembangan industri fesyen yang ramah lingkungan terletak pada perbedaan harga produk. Dibanding dengan produk fesyen konvensional, produk fesyen yang lebih ramah lingkungan lebih mahal. Kepada DW Indonesia, Marina Chahboune, pakar bidang CSR dan tekstil berkelanjutan dari Closed Loop Fashion, menyebut industri tekstil harus mampu memahami bahwa murahnya produk yang mereka hasilkan selama ini tidak memperhatikan biaya lainnya, yakni kerusakan lingkungan.

"Harga yang ada pada produk fesyen konvensional bukanlah harga yang seharusnya, karena itu tidak mempertimbangkan harga dari lingkungan dan sosial. Jadi harga yang selama ini kita bayar bukanlah harga produk yang semestinya, itu adalah harga kompensasi rendahnya upah buruh hingga kerusakan lingkungan,” ujar Marina Chahboune.

Potensi dan komitmen Indonesia pada fesyen berkelanjutan

Industri tekstil menjadi salah satu dari lima industri prioritas yang ditetapkan pemerintah Indonesia dalam proyek Industri 4.0. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat industri manufaktur Indonesia di Asia Tenggara. Namun, upaya untuk menguasai manufaktur akan terkendala oleh isu lingkungan.

Bernard Wern dari Institut für Zukunftsenergie Systeme di Jerman, memaparkan bahwa saat ini banyak bisnis ritel yang menerapkan kebijakan ramah lingkungan. "Merek besar saat ini menerapkan produksi yang tidak lagi menggunakan energi batu bara. Dan jika industri tekstil di Indonesia tidak berubah, maka ini akan menjadi masalah besar. Karena tidak ada lagi toko ritel yang berminat dengan produk dari Indonesia,” papar Bernard Wern kepada DW Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak potensi di bidang energi terbarukan yang mendukung iklim industri fesyen berkelanjutan. "Generasi selanjutnya harus memulai penggunaan energi terbarukan. Karena Indonesia memiliki potensi itu,” ungkap Bernard Wern.

Kementerian Perindustrian terus memetakan potensi Indonesia untuk mengambil peran dalam industri fesyen yang lebih ramah lingkungan. Saat ini Indonesia memiliki potensi besar pada industri tekstil berkelanjutan dari bahan sitetis.

"Untuk synthetic fiber yang kuat kan di polyester dan rayon. Nah rayon kita kan nomor dua terbesar di dunia. Kita ingin kan rayon bisa menggantikan kapas yang lebih buruk ke lingkungan,” papar Andi Susanto dari Direktorat Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian.

Sementara untuk produk tekstil berbahan polyester, saat ini Indonesia terus mengembangkan bahan polyester yang berasal dari daur ulang plastic berbahan PET (Polietilena tereftalat). "Kita sedang mendorong munculnya industri PET recycle. Selain itu juga industri closed loop recycle di industri garmen,” terang Andi Susanto kepada DW Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki 11 perusahaan yang bergerak di industri daur ulang dari bahan tekstil, sementara terdapat 16 perusahaan tekstil lainnya yang mengembangkan daur ulang dari bahan plastik PET. 

(rs/hp)