Indonesia Terus Negosiasi Pelarangan Umroh dengan Arab Saudi | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 29.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

COVID-19

Indonesia Terus Negosiasi Pelarangan Umroh dengan Arab Saudi

Di tengah mewabahnya COVID-19, pemerintah masih berharap Arab Saudi dapat mencabut larangan sementara umroh. Sejumlah kalangan menilai pemerintah terlalu santai menghadapi virus corona.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebut pemerintah masih berupaya melakukan negosiasi dengan Arab Saudi. Ma'ruf berharap Arab Saudi dapat segera mencabut larangan sementara umroh.
"Saya harap juga mungkin sementara, yang tidak lama saja. Mudah-mudahan beberapa hari yang akan datang akan dibuka kembali," ujar Ma'ruf di JCC, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2/2020).

Ma'ruf mengatakan negosiasi dilakukan agar Arab Saudi memberikan izin umroh kepada Indonesia. Menurutnya, hal ini karena Indonesia saat ini tidak terjangkit corona.

"Tapi kita terus bernegosiasi supaya Indonesia itu diberi (izin) karena kita tidak termasuk wilayah yang terjangkit. Mudah-mudahan jangan terjangkit ya, insyaallah," tutur Ma'ruf.

Ma'ruf menuturkan pelarangan tersebut merupakan hak Arab Saudi untuk mencegah penularan. Namun Ma'ruf menyebut pemerintah tetap mengupayakan agar warga negara Indonesia yang telah berada di Saudi tetap dapat melaksanakan umroh.

"Ya itu kan pertama tentu hak dan kedaulatan Arab Saudi untuk mencegah," kata Ma'ruf.

"Karena itu, kita bernegosiasi, paling tidak yang sudah ada di sana itu bisa melaksanakan ibadah umroh dan sehat juga," sambungnya.

Dinilai terlalu santai hadapi virus corona

Sementara anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis, mengatakan sudah mengingatkan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi soal imbas penyebaran virus corona terhadap penyetopan sementara jemaah umroh oleh pemerintah Arab Saudi. Dia mengingatkan Fachrul beberapa pekan lalu.

"Kami sudah mewanti-wanti Menteri Agama pada pertemuan sekitar 2 minggu sebelumnya, bagaimana kesiapan Kemenag kalau Corona ini terjadi. Dia bilang 'masih tenang, masih bisa diatasi'," kata Iskan di Hotel Ibis, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu.

Menurutnya, Fachrul terlalu santai dan tak awas melihat adanya kemungkinan buruk dari isu penyebaran virus Corona. Padahal Iskan sudah memprediksi penyebaran virus Corona berdampak pada kunjungan jemaah umroh.

Iskan juga meminta Fachrul tak mengeluarkan pernyataan yang membuat masyarakat Indonesia menjadi waswas. Ia berharap supaya Fachrul tak asal omong dan memberi ruang kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi untuk berdiplomasi. 

Pendataan jemaah umroh tidak jadi berangkat

Iskan mengatakan Komisi VIII akan mendata jemaah umroh yang mengalami kerugian, apalagi jemaah yang uangnya tak dapat dikembalikan.

"Kami dari Komisi VIII sudah membuat road map ke depan, jangka pendek. Kami akan melihat orang-orang yang kena kerugian yang dampak besar, pas mau berangkat kemarin, tiba-tiba uangnya tidak bisa dikembalikan, kita berharap, mungkin terdampak paling besar itu sekitar 5 hari atau 2-3 hari sesudahnya (kebijakan penyetopan perjalanan umroh ditetapkan), yang memang uang dari hotel tidak bisa dikembalikan," ujar Iskan di Hotel Ibis, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu.

Sementara Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Indonesia (Amphuri) mencatat ada 1.685 jemaah umroh asal Indonesia, yang telah transit di sejumlah negara, dan tak bisa melanjutkan ibadah. Amphuri mengatakan sebagian besar jemaah sudah kembali ke Tanah Air, namun masih ada ratusan orang yang terjebak saat transit di Istanbul, Turki.

"Kemarin saat kejadian tanggal 27 kami melakukan pengecekan. Kan mereka sudah terbang, harus berhenti di negara transit. Kemudian di negara transit, harus masuk ke Saudi, nah itu kan dilarang. Kami lakukan pengecekan ada 1.685 (jemaah)," kata Ketua Umum Amphuri Joko Asmoro, di Hotel Ibis, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu.

Joko menjelaskan jumlah jemaah yang masih berada di Instabul ada 532 orang. Mereka saat ini menunggu giliran penerbangan.

"Alhamdulilah. Tinggal Istanbul, karena Istanbul itu cukup besar ada 410 orang, tambah 122 (jemaah) itu kan ada menunggu proses penerbangan," tutur Joko.

Amphuri belum dapat memastikan kapan kebijakan penyetopan umroh ini dicabut. Joko belum mau berbicara mengenai kerugian materil dari dampak kebijakan ini. (ae/yp)

Baca selengkapnya: detiknews

Saudi Setop Umroh, Ma'ruf: Mudah-mudahan Beberapa Hari ke Depan Dibuka Kembali

PKS Ingatkan Menag Dampak Virus Corona terhadap Umroh: Beliau Terlalu Tenang

Saudi Setop Umroh, Amphuri: Ratusan Jemaah Masih di Istanbul