Indonesia Dukung Proyek Nuklir Bertujuan Damai Iran | Fokus | DW | 10.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Indonesia Dukung Proyek Nuklir Bertujuan Damai Iran

Indonesia menyatakan dukungannya atas pengembangan nuklir untuk tujuan damai. Demikian dinyatakan Menteri Luar Negri Hassan Wirajuda menjelang kedatangan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Indonesia, Rabu (10/5) ini.

Masalah Atom Iran juga akan dibahas dalam Konfrensi Tingkat Tinggi D8 di Bali

Masalah Atom Iran juga akan dibahas dalam Konfrensi Tingkat Tinggi D8 di Bali

Sehubungan dengan kunjungan Presiden iran Mahmud Ahmadinejad ke Jakarta, pemerintah Indonesia menyatakan mendukung pengembangan nuklir untuk tujuan damai. Namun menolak penyebaran senjata nuklir. Pernyataan Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajuda ini akan menjadi dasar sikap Indonesia dalam Pertemuan Konfrensi Tingkat Tinggi KTT D8 di Bali.

Lebih lanjut Wirajuda menyatakan, pengembangan nuklir untuk tujuan damai, khususnya untuk energi merupakan hak mendasar bagi setiap negara. Diharapkan pula, bahwa pengembangan nuklir Iran dilakukan secara transparan dan memenuhi kaedah-kaedah dan standar Badan Energi Atom Internasional IAEA. Wirajuda mengungkapkan, yang menjadi masalah utama dalam sengketa atom Iran adalah masalah kepercayaan. Oleh sebab itu perlu dibangunnya rasa saling percaya.

Sikap itu akan dinyatakan Indonesia dalam pertemuan Konfrensi Tingkat Tinggi KTT D8 di Bali, yang dihadiri pimpinan beberapa negara yang penduduknya padat dan mayoritas Muslim, seperti Turki, Bangladesh dan Mesir.

Selama ini negara-negara Barat berpendapat, Iran mengayakan uranium untuk membuat senjata nuklir. Tetapi Teheran menyangkal tuduhan itu dan mengatakan mereka hanya mengembangan teknologi nuklir.

Wakil Ketua Indonesian Society for Middle East Smith Al Hadar mengatakan, tak mengherankan bahwa Indonesia menunjukan dukungannya terhadap Iran dalam menghadapi krisis nuklir. Sebab Indonesia punya ketergantungan pada harga minyak dunia. Iran sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia punya pengaruh cukup kuat dalam menentukan harga minyak.

Pengamat politik luar negeri Bantarto Bandoro melihat, Indonesia memang tepat dengan mengambil langkah sebagai fasilitator pertemuan D8. Dalam hal ini Indonesia lebih terlihat sebagai penengah untuk dapat membantu mencari jalan keluar krisis nuklir Iran.

Saat ini Iran menyatakan tidak peduli terhadap rancangan resolusi PBB yang menyerukan agar Iran menghentikan pengayaan uranium atau menghadapi sanksi. Presiden Mahmud Ahmadinejad menyebutkan rancangan resolusi itu tidak sah. Bahkan Iran mengancam akan menarik diri dari Perjanjian Larangan Penyebarluasan Nuklir jika Dewan Keamanan PBB memperbolehkan tindakan militer karena Iran meneruskan pengayaan uranium. Inggris dan Prancislah yang merancang resolusi tindakan militer itu, dengan didukung Amerika. Pemungutan suara terhadap resolusi itu mungkin akan dilakukan pekan depan. Rusia dan Cina sebagai anggota tetap DK PBB telah menyatakan keberatan terhadap rancangan resolusi ini.