India-Pakistan Setuju Gencatan Senjata di Perbatasan Kashmir | NRS-Import | DW | 25.02.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik Kashmir

India-Pakistan Setuju Gencatan Senjata di Perbatasan Kashmir

Negara bagian Jammu dan Kashmir telah menjadi pusat perselisihan antara India dan Pakistan selama lebih dari 70 tahun. Gencatan senjata membawa harapan baru.

Tentara India berpatroli di wilayah perbatasan India-Pakistan

Tentara India berpatroli di wilayah perbatasan India-Pakistan

Pemimpin militer India dan Pakistan pada Kamis (25/02) mengumumkan bahwa telah sepakat untuk menghentikan penembakan lintas batas di Garis Kontrol yang disengketakan di Kashmir.

Frekuensi baku tembak di perbatasan terjadi lebih rutin dalam beberapa bulan terakhir dan kepala operasional militer kedua negara telah berbicara melalui telepon untuk meredakan ketegangan.

Kali ini pihak militer kedua negara membuat komitmen vokal, dan sepakat membahas kekhawatiran masing-masing pihak, demikian tertulis dalam pernyataan bersama dari para pemimpin militer.

Upayakan perdamaian berkelanjutan

"Direktur Jenderal Operasi Militer India dan Pakistan (DGsMO) mengadakan diskusi tentang mekanisme kontak hotline yang sudah ada sebelumnya," tulis pernyataan itu. "Kedua belah pihak meninjau situasi di sepanjang Garis Kontrol dan semua sektor lainnya dalam suasana yang bebas, jujur, dan saling menghormati."

Wilayah Kashmir yang disengketakan oleh India, Pakistan, dan Cina

Wilayah Kashmir yang disengketakan oleh India, Pakistan, dan Cina

"Demi mencapai perdamaian yang saling menguntungkan dan berkelanjutan di sepanjang perbatasan, kedua DGsMO sepakat untuk menangani masalah inti masing-masing dan kekhawatiran yang cenderung mengganggu perdamaian dan mengarah pada kekerasan," tulis pernyataan itu.

Kantor berita AP melaporkan masih belum jelas apa yang mendorong militer kedua negara tersebut untuk memulai kontak melalui hotline, tetapi Pakistan telah mendesak komunitas internasional untuk mendesak India melanjutkan dialog dengan Pakistan guna memastikan perdamaian di wilayah tersebut. 

Pengumuman tersebut menyusul bentrokan berbulan-bulan dengan masing-masing pihak menuduh yang lain bertanggung jawab atas ribuan pelanggaran gencatan senjata dalam satu tahun terakhir saja. Menurut militer Pakistan, sekitar 1,7 juta warga sipil tinggal di sepanjang Garis Kontrol. Penduduk lokal bergantung pada keberadaan ratusan bunker untuk berlindung selama bentrokan terjadi.

Kedua negara juga pernah menyetujui gencatan senjata di sepanjang Garis Kontrol pada tahun 2003 dan telah mencegah meletusnya perang besar-besaran, meskin masih pula terjadi pertempuran kecil.

Konflik berkepanjangan

India dan Pakistan telah berselisih atas wilayah Kashmir selama beberapa dekade, dengan beberapa periode damai yang terputus-putus. Namun, pada Agustus 2019, ketegangan kembali terjadi setelah New Delhi mencabut otonomi wilayah Himalaya dan membaginya ke dalam wilayah-wilayah yang dikelola pemerintah federal.

Pemerintah nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi dari India menjanjikan langkah tersebut akan membawa perdamaian dan kemakmuran bagi penduduk Kashmir. Sementara Pakistan menuduh itu adalah pelanggaran hak-hak orang Kashmir.

Sebagian besar warga Kashmir yang beragama Islam telah terbagi antara India dan Pakistan sejak keduanya menjadi negara merdeka pada tahun 1947. Sementara wilayah terpencil di ujung timur dikendalikan oleh Cina.

Baik India maupun Pakistan mengklaim wilayah itu secara keseluruhan. Gerilyawan di Kashmir telah berperang melawan pemerintahan India sejak 1989. Diperkirakan  lebih dari 70.000 orang tewas dalam konflik berkepanjangan di wilayah itu.

ae/hp (Reuters, AFP, AP)

Laporan Pilihan