Dikecam di Timur Tengah, India Melunak Soal Islamofobia | Mukalama | DW | 27.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Islamofobia

Dikecam di Timur Tengah, India Melunak Soal Islamofobia

Setelah PM Narendra Modi, kini giliran organisasi Hindu nasionalis RSS yang mengimbau warga India menjauhi Islamofobia. Sebelumnya sejumlah ekspatriat India di Timur Tengah dipecat lantaran mengunggah konten anti-muslim

Gelombang kecaman terhadap maraknya Islamofobia di India memaksa pemerintah di New Delhi bersikap. Usai Perdana Menteri Narendra Modi mengirim pesan yang menolak diskriminasi terhadap minoritas muslim, kini amanat serupa dirilis organisasi Hindu nasionalis RSS. 

Ketua Umum Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), Mohan Baghwat, menyatakan tidak ada satu pun kelompok bisa disalahkan menyebar wabah COVID-19 hanya karena perilaku beberapa anggotanya, kata dia dalam sebuah pernyataan online yang dirilis kantor berita AP. 

“Jangan marah, jangan tersulut. Kita tidak boleh membenci suatu kaum hanya karena kesalahan beberapa individu,” kata dia. 

Bhagwat juga menjamin minoritas muslim India tidak akan mengalami diskriminasi atas dasar agama dalam perang melawan wabah corona.  

Sebelumnya PM Narendra Modi menegaskan bahwa COVID-19 “tidak mengenal ras, agama, warna, kasta, bahasa atau batas negara,“ tulisnya lewat akun Twitter. “Kita bersama-sama.“ 

Ucapan tersebut dirilis usai negara-negara Teluk bereaksi dramatis terhadap meningkatnya ujaran dan praktik kebencian terhadap minoritas muslim di tengah wabah corona. Kecaman antara lain dilayangkan keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dan Kuwait. 

Eskalasi lewat medsos 

Eskalasi berawal ketika warganet Arab mempermasalahkanretorika anti-muslim di media sosial oleh ekspatriat India yang bekerja di kawasan Teluk. Salah satu kicauan tersebut ikut digaungkan anggota keluarga kerajaan Uni Emirat Arab, Putri Hend al-Qassimi. 

Siapapun yang “secara terbuka rasis dan diskriminatif di UAE akan didenda dan diusir,“ tulisnya di akun Twitter ketika mengomentari kicauan Islamofob seorang warga India. “Anda mencari makan di negeri yang Anda hina dan penghinaan Anda tidak akan dibiarkan.“ 

Media-media India melaporkan beberapa tenaga kerja berkualifikasi tinggi di kawasan Teluk dipecat dari perusahaan usai mengunggah konten bernada anti-muslim.  

Salah seorangnya, Sameer Bhandari yang bekerja untuk sebuah penyelenggara pesta terpaksa angkat kaki setelah menulis buruh migran India beragama Islam yang mencari pekerjaan seharusnya dipulangkan ke Pakistan, lapor kantor berita Press Trust of India. 

Akibatnya duta besar India di kawasan mengimbau warganya untuk menahan diri. Melalui Twitter, Pavan Kapoor yang bertugas di Uni Emirat Arab menulis “diskriminasi mengoyak tenun moral kita dan melanggar konstitusi. Semua warga India di UAE sebaiknya mencamkan hal ini.“ 

Menurut laporan Times of India, jelang akhir pekan lalu Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar buru-buru menghubungi rekan sejawatnya di negara-negara Teluk untuk meredakan situasi. 

Namun begitu media dan pemerintah India bersikeras mempertahankan asumsi bahwa tuduhan perihal laku diskriminatif terhadap minoritas muslim yang menyulut reaksi dramatis warganet Arab sebagai “kabar palsu.“ 

Pengaruh RSS dan ideologi Hindutva 

Islamofobia di India berakar pada Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sebuah organisasi Hindu nasionalis yang dibentuk 94 tahun lalu. RSS berideologikan Hindutva yang mengimpikan sebuah negara Hindu. 

Ketua Rashtriya Swayamsevak Sangh, Mohan Baghwat (tengah kiri),bersama Pranab Mukherjee, bekas presiden India (ka.)

Ketua Rashtriya Swayamsevak Sangh, Mohan Baghwat (tengah kiri),bersama Pranab Mukherjee, bekas presiden India (ka.) Pengaruh RSS mengakar dalam di tubuh pemerintahan Narendra Modi, dengan sejumlah pejabat tinggi negara dan partai merupakan anggota aktif organisasi.

Beberapa pendiri RSS secara terang-terangan mengideologikan fasisme ala Adolf Hitler atau Benito Mussolini lantaran menempatkan ‘kemurnian ras’ di dalam jantung ideologi negara. 

Meski tidak aktif di dalam politik elektoral, RSS merupakan induk organisasi bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang saat ini berkuasa di India. Baik pendiri BJP, Atal Bihari Vajpayee, perdana menteri India saat ini, Narendra Modi dan Amit Shah, figur yang diprediksi akan menggantikan Modi, merupakan anggota aktif RSS. 

Ketegangan sektarian baru-baru ini menyeruak usai pemerintahan Modi mengajukan amandemen UU Kewarganegaraan dan Keimigrasian yang dinilai diskriminatif terhadap warga muslim. 

Hasilnya aksi demonstrasi dan bentrok sektarian menjalar ke seantero India. 

Gelombang Islamofobia teranyar dipicu oleh acara akbar Jemaah Tabligh di New Delhi yang dihadiri ribuan orang akhir Maret silam. Saat itu pemerintah India belum memberlakukan karantina, meski sedang aktif menyerukan pembatasan sosial buat meredam wabah. 

Ketika kasus penularan di kalangan anggota Jemaah Tabligh mencuat, politisi BJP dan simpatisan Hindu nasionalis menggalang kampanye di media sosial dengan tagar #CoronaJihad. 

Tagar itu dipenuhi meme dan gambar bernada anti-muslim atau retorika yang menempatkan minoritas muslim sebagai musuh India.  

rzn/vlz (ap, rtr, timesofindia, ft, gulfnews) 

Laporan Pilihan