Indeks Pembangunan Manusia 2006 | Sosial | DW | 17.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Indeks Pembangunan Manusia 2006

Indonesia masih di bawah, Afrika terburuk. Kebutuhan jamban dan air bersih mendesak.

Seorang anak antri air bersih di Afghanistan

Seorang anak antri air bersih di Afghanistan

Afrika semakin terpuruk ke titik terendah kehidupan. Sementara Norwegia, Eslandia, Australia, Irlandia dan Swedia menjadi 5 negara terbaik untuk dihuni. Akan halnya, Indonesia, menempati urutan 108 dari 177 negara. Itulah antara lain yang digambarkan dalam laporan tahunan terbaru Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Program Pembangunan Dunia Ketiga, UNDP, mengenai Indeks Pembangunan Manusia.

Laporan yang bertajuk "Lebih dari Sekedar Kelangkaan: Kekuasaan, Kemiskinan dan Krisis Air di Tingkat Global“ itu memperlihatkan buruknya sanitasi dan langkanya air bersih masih menjadi masalah besar dunia.

Sistem Sanitasi Yang Buruk

Ada sebuah bukit raksasa di Nairobi. Bukit ini ternyata berfungsi sebagai tempat pembuangan limbah tinja 71.000 warga di sekitarnya. Warga membungkus tinja dalam kantong-kantong plastik, kemudian membuangnya ke bukit itu. Celakanya, bila turun hujan: kotoran-kotoran manusia itu terbawa arus, sehingga mencemari pasokan air minum. Begitulah salah satu kasus parahnya krisis air dan sanitasi yang digambarkan di dokumenter itu. Film ini diputar pula mengiringi presentasi laporan Indeks Pembangunan Manusia, UNDP.

Indikator Penilaian

Indeks Pembangunan Manusia merupakan pengukuran tingkat kualitas hidup di berbagai negara. Ukuran itu didasarkan pada tingkat pendapatan ekonomi, tingkat melek huruf, tingkat harapan hidup dan beberapa aspek lainnya. Juru bicara UNDP Indonesia, Gedsiri Suhartono menjelaskannya lebih lanjut:

“Indikator untuk mengukur peringkat kesejahteraan di sekitar 177 negara yang kita pelajari. Indeks Pembangunan Manusia juga bisa diartikan untuk mengukur kemajuan jangka panjang. Adapun hal-hal yang dipertimbangkan dalam mengkalkulasikan Indeks Pembanguanan Manusia ada 4 faktor yaitu: usia harapan hidup, tingkat melek huruf, tingkat partisipasi penduduk dalam pendidikan dan pendapatan perkapita. Jadi, Indeks Pembangunan Manusia ini: kalau kita melihat pada pendapatan perkapita saja, itukan hanya melihat kemajuan atau status ekonomi negara berdasarkan pendapatan per tahun. Kalau seperti berdasarkan besaran yang baru saja saya sebutkan, Anda bisa melihat bahwa dimensinya jauh lebih beragam. Karena yang kita pentingkan di sini ialah kualitas hidup.”

Kurangnya Air Bersih

Digambarkan hampir separuh penduduk dunia, atau sekitar 2,6 milyar jiwa, tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. Sementara itu sekitar 1,1 miliar penduduk dunia malah tidak memiliki akses terhadap air. Akibatnya sekitar 2 juta anak-anak terenggut nyawanya akibat kesulitan memperoleh air bersih. Banyak perempuan Afrika harus berjalan kaki berjam-jam lamanya untuk mencapai sumur air.

Dalam laporan setebal hampir 500 halaman ini, krisis air dan sanitasi secara global menjadi tema pokok. Ad Melkert dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan,

“Sepuluh tahun yang lalu, diskusi mengenai HIV-AIDS masih dirasakan sebagai tabu, kini masalah akses pada air bersih dan sanitasi yang menjadi tema. Dan masalah ini harus dituntaskan segera. Bapak-bapak, ibu-ibu hadirin sekalian, kini sudah saatnya untuk berani membicarakan soal tinja secara terbuka.”

Menurut laporan ini, nyawa yang melayang akibat krisis air global, yang memunculkan berbagai jenis penyakit, jauh lebih besar dari korban perang.

Afrika Terburuk

Laporan Indeks Pembangunan Manusia mulai diterbitkan sejak tahun 1990, sebagai reaksi atas meledaknya bencana kemanusiaan di sub-Sahara Afrika yang diakibatkan berbagai bencana. Ternyata, hingga tahun ini kondisi di kawasan itupun tidak mengalami perbaikan. Dari daftar laporan itu, Niger berada di urutan terakhir. Negara-negara lain di Afrika yang berada di urutan atasnya adalah Sierra Leone, Mali, Burkina Faso, Guinea-Bissau, Republik Afrika Tengah, Chad, Etiopia, Burundi, Mozambik dan Republik Demokratik Kongo. Posisi Asia jauh lebih baik dari Afrika. Sementara itu posisi Indonesia naik hanya dua peringkat menjadi 108 dari 177 negara.

Gedsiri Suhartono, juru bicara UNDP Indonesia menjelaskan: “Kita masih jauh dibandingkan negara-negara tetangga kita di ASEAN tetapi bagaimanapun, itu menjadi moment atau kritik bahwa masih banyak tantangan yang harus kita hadapi. Secara umum Indonesia, seperti juga negara lain di ASEAN, pemerintah masih terfokus pada pemberian pelayanan air di perkotaan, sementara kita tahu sendiri, negara kita kan beragam topografinya dan status air di masing-masing tempat itu juga rangenya besar.”

Penanganan Masalah Secara Bersama

Krisis air dan sanitasi itu menurut UNDP diperburuk oleh minimnya tekad para pemimpin pemerintah, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk mengambil tindakan nyata. Jadi masalah yang dihadapi bukan sekedar keterbatasan air saja. Namun, lebih parah lagi, terletak pada kurangnya kemauan politik untuk menangani masalah ini. Karena itu, dibutuhkan langkah global untuk menyediakan air bersih bagi setiap warga dunia. Kembali Ad Melkert: “Targetnya, setiap warga tersedia air sedikitnya 20 liter per harinya, dan itu cuma-cuma bagi yang tidak mampu membayarnya.”

Upaya Pengadaan Air Bersih

20 liter per hari sebenarnya jumlah yang sama sekali tidak banyak. Bandingkan dengan konsumsi warga Eropa, yang rata-rata 400 liter setiap hari. Di Amerika Serikat, bahkan lebih boros lagi: setiap warganya menghabiskan sampai 1.000 liter air per harinya. Kontras yang begitu tinggi menuntut warga dunia untuk secara sadar menghemat penggunaan air.

Sekarang ini pemerintah negara-negara berkembang diminta untuk menyisihkan sedikitnya satu persen dari pendapatan kotor nasional untuk penyediaan air dan sanitasi. Belakangan muncul seruan, agar negara-negara industri memberikan komitmen lebih jelas mengenai air bersih dan sanitasi. Terutama dalam bantuan dana pembangunan yang mereka berikan bagi negara berkembang.

Air Bersih Hak Semua Orang

Ad Melkert menuturkan perlunya tekad seluruh dunia: “Laporan tersebut hanya menjelaskan, pembangunan manusiawi bukan hak istimewa sedikit orang, akan tetapi hak segala warga. Maka dari itu, kami serukan kepada PBB untuk bersatu agar air bisa tersedia untuk semua.”

Gedsiri Suhartono dari UNDP Indonesia menambahkan: “Pasokan air yang tersedia aman dan dapat diakses. Paling tidak setiap orang setiap orang kebutuhan minimal 20 liter air bersih. Itu yang pertama. Nomer dua yang dapat dilakuakan masing-masing pemerintahan khususnya negera berkembang dan terbelakang hanya menyusun strategi nasional untuk air nasional dan sanitasi. Ketiga alokasi pembiayaan air dan sanitasi perlu ditingkatkan dalam program-program pembangunan.”

  • Tanggal 17.11.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVy
  • Tanggal 17.11.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVy