ILO dan Amnesty International Kritik Praktik Kerja Anak | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.11.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

ILO dan Amnesty International Kritik Praktik Kerja Anak

Organisasi Buruh International ILO mengeluhkan kurangnya upaya penanganan dan pencegahan kerja anak. Amnesty International melaporkan banyak pabrikan mobil Jerman menarik keuntungan dari kerja anak di Afrika.

Satu dari setiap 10 anak di seluruh dunia menjadi korban kerja anak, dan hampir setengahnya melakukan pekerjaan berbahaya, kata Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional (ILO) Guy Ryder hari Selasa (14/11). Guy Ryder berbicara pada pembukaan konferensi global mengenai kerja anak di Buenos Aires, Argentina.

Ryder mengatakan, jumlah pekerja anak memang telah turun sekitar 100 juta sejak akhir 1990-an, saat dia. Tapi tingkat perubahan baru-baru ini telah melambat secara mencolok.

"Kami tidak bisa memprediksi bagaimana pasar tenaga kerja akan berubah di masa depan, namun kami tahu satu hal: Kami tidak menginginkan lebih banyak pekerja anak dan tidak ingin lagi melihat perbudakan modern," kata Ryder kepada peserta konferensi.

Dalam laporan terbarunya, organisasi hak asasi Amnesty International mengecam perusahaan-perusahaan otomotif Jerman yang disebutnya "menarik keuntungan besar"dari kerja anak di Republik Demokratik Kongo. Amnesty antara lain menyebut perusahaan BMW, Daimler dan Volkswagen (VW).

Pekerja anak di Bangladesh

Pekerja anak di Bangladesh

Perusahaan otomotif Jerman memperluas kerja anak?

Dengan meningkatnya penjualan mobil listrik dan sistem komunikasi pintar, permintaan terhadap Cobalt di seluruh dunia makin tinggi. Dari 29 perusahaan Jerman yang diteliti oleh Amnesty International, tidak ada yang bersedia memberi keterangan terbuka tentang upaya mereka mencegah pekerjaan anak.

Terutama perusahaan BMW jadi sorotan laporan Amnesty Internasional. Memang BMW "dalam beberapa aspek” sudah mengadakan perbaikan, namun dalam banyak bidang masih ada "kekurangan besar”. Hal serupa didapati di perusahaan Daimler dan VW.

Peneliti Amnesty Internasional Mathias John mengatakan, beberapa perusahaan memang sudah memperbaiki pengawasan jaringan pemasok Cobalt mereka. Tapi semuanya masih "jauh dari memadai”. Semua perusahaan bersikap tidak transparan tentang jaringan pemasok Cobalt dan sistem pengawasan internal mereka, kata John.

Dirjen ILO-Chef: "Kami tidak ingin lagi ada perbudakan!"

Amnesty International menuntut agar semua perusahaan mengawasi jaringan pemasoknya berdasarkan prinsip-prinsip acuan yang ditetapkan PBB dan Organisasi untuk Kerjsama Ekonomi dan Pembangunan, OECD. Pengawasan harus dilakukan sejak dari pertambangan sampai ke pabrik. Jika terjadi pelanggaran hak asasi, maka perusahaan harus bertindak.

Menurut ILO, upaya pencegahan kerja anak dalam beberapa tahun terakhir mengendur. Sekitar setengah pekerja anak menurut ILO dipaksa untuk bekerja, dan melaksanakan kegiatan kerjanya dalam kondisi berbahaya.

Para ahli memperkirakan satu dari sepuluh anak di dunia saat ini dipaksa untuk bekerja. Seluruhnya ada sekitar 152 juta anak-anak yang saat ini harus bekerja, sementara ada sekitar 200 juta orang dewasa yang menganggur. ILO menargetkan, pada tahun 2025 sudah tidak ada lagi anak-anak yang dipaksa untuk bekerja.

hp/vlz (dpa, afp)

 

Laporan Pilihan