Ikut Demonstrasi Untuk Iklim di Brandenburger Tor di Berlin | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 04.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Ikut Demonstrasi Untuk Iklim di Brandenburger Tor di Berlin

Akhir September, jutaan orang di seluruh dunia turun ke jalan menuntut perlindungan iklim. Banyak dari para demonstran adalah anak-anak sekolah. Di Berlin saya ikut demonstrasi dengan anak saya. Oleh Anggatira Gollmer.

Beberapa minggu sebelumnya, saya mendapat pesan melalui WhatsApp dari teman saya yang bekerja di sebuah yayasan perlindungan iklim internasional. “Save the date 20 September 2019: Demostrasi Iklim internasional atas seruan Greta Thunberg dan gerakan Fridays for Future,” tulis teman saya. Ia juga mengirimkan informasi untuk melihat dimana aksi-aksi demonstrasi dilakukan di berbagai negara di dunia.

Anggatira Gollmer (Amanda Handayani)

Anggatira Gollmer

Awalnya, saya sebenarnya tidak begitu menganggap serius pesan ini. Saya bukan seorang aktivis yang biasa turun ke jalan. Tetapi lama-lama, saya semakin sering memikirkan tentang banyak berita dengan tema lingkungan dan akibat-akibatnya. Es di kutub utara yang mencair, penggundulan dan pembakaran hutan, penggunaan pupuk kimia dengan jumlah berlebihan, laut dan danau yang semakin kekurangan ikan dimana-mana.

Perubahan iklim dan kehancuran lingkungan yang dibilang banyak orang bisa terjadi di masa depan sebenarnya sedang terjadi di depan mata kita. Berbagai tempat di dunia sudah terkena konsekuensinya secara nyata.

Di Jerman sendiri saya juga merasakan bagaimana musim panas menjadi semakin panjang. Bahkan sejak dua tahun belakangan suhu di bulan Juli-Agustus menyamai atau justru lebih tinggi dari kota asal saya Jakarta. Tiga tahun lalu saya beli sebuah kereta salju kecil untuk dipakai anak-anak saya di musim dingin. Tetapi sejak itu belum sekali pun kami memakainya karena salju tidak kunjung turun lagi di Berlin. Padahal salju dan suhu -17 derajad celsius yang saya rasakan pada musim dingin 2001 ketika saya pindah ke Jerman dulu tergolong normal untuk musim dingin di utara Jerman.

Saya yakin perubahan besar harus dilakukan untuk menyelamatkan bumi kita dari kondisinya sekarang ini. Dan perubahan ini harus dilakukan segera. Pemerintahan, para politisi dan perusahaan-perusahaan dunia pun harus segera membuka mata dan bertindak. Seperti kata Greta Thunberg, “kita harus panik, seolah-olah rumah kita sedang terbakar.” Pidato ini dan kata-kata lainnya dari anak berusia 16 tahun ini menyentuh hati saya dan meyakinkan saya. Saya ingin ikut berdemonstrasi. 

Pelajar asal Swedia ini sejak bulan Agustus 2018 memilih bolos dari sekolah setiap hari Jum'at untuk berdemonstrasi sendiri di luar gedung parlemen Swedia dengan papan yang memampang tulisan: “Bolos sekolah untuk iklim”. Beberapa bulan setelahnya, ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk berpidato di berbagai ajang penting dunia dan menimbulkan gerakan “Fridays for Future” yang diikuti begitu banyak anak sekolah dan mahasiswa di seluruh dunia. Video-video pidato Greta juga menjadi viral di media sosial.

Di Berlin sendiri sejak beberapa bulan banyak anak sekolah yang mengikuti jejak Greta dan memilih bolos pada hari Jum'at untuk berdemonstrasi agar pemerintah Jerman bertindak lebih untuk melindungi iklim dan menyelamatkan bumi. Misalnya dengan berhenti menggunakan bahan bakar fosil, dan untuk total beralih ke energi ramah lingkungan. Putri saya yang sampai Juli lalu masih di TK juga sudah sering mendengar tentang aksi-aksi ini melalui teman-temannya yang punya kakak di sekolah. 

Bagi putri saya salah satu bentuk penghancuran lingkungan yang sudah ia mengerti adalah penggunaan plastik. Di beberapa buku yang sering kami baca bersama, dia juga mengetahui bahwa plastik bisa membahayakan banyak binatang yang memakannya. Ketika saya bercerita tentang rencana pergi ke aksi demo, putri saya yang sekarang duduk di kelas 1 SD ini tahun ini juga ingin ikut.



Aksi demonstrasi di Berlin akan dimulai di Brandenburger Tor pukul 12 siang. Karena itu suami dan saya sepakat bahwa putri kami sebaiknya pagi masuk sekolah dulu dan akan kami jemput pada pukul 11:30. Rencana ini juga disetujui oleh wali kelas putri kami. Pada hari H ternyata banyak orang tua murid yang juga menjemput anak-anaknya pada jam yang sama. Pada hari itu kami pergi dengan seorang dua orang teman kami yang juga membawa anak-anaknya. Sekolah anak-anak teman kami itu bahkan diliburkan pada hari demonstrasi agar semua anak yang mau bisa ikut unjuk rasa.

Karena banyaknya orang yang sudah berdemo di sekitar Brandenburger Tor, sekitar pukul 12 siang stasiun kereta di lokasi tersebut sudah ditutup. Kami lalu memutuskan berhenti di Friedrichstraße yang berjarak sekitar 500 meter dari Brandenburger Tor. Dari sana kami berjalan mengikuti massa.

Wir sind laut, weil ihr uns die Zukunft klaut! Wir sind laut, wir sind laut, weil ihr das Klima versaut!” - “Kami berisik, karena kalian mencuri masa depan kami. Kami berisik, karena kalian menghancurkan klima”. 

Yel-yel para demonstran ini terdengar dari berbagai penjuru. Sekitar 80 ribu orang diperkirakan akan datang. Dimana-mana terlihat anak-anak. Dan bukan hanya anak sekolah atau remaja, banyak orang tua yang datang dengan anak-anaknya yang masih bayi, baik digedong atau dengan kereta bayi.

“Tidak ada planet B”, “Berhenti gunakan plastik, gunakan gelas”, “Make love, not CO2”, “Opa, apa itu manusia salju?”, “Cuaca di bumi sudah lebih panas daripada pacar saya” dan “saya punya 99 masalah di hidup saya, masalah iklim adalah yang terparah,” terpampang di berbagai poster yang dibawa para demonstran. Seorang pelajar membawa poster warna-warni bertuliskan: “Gunakan energi ramah lingkungan”. Dibawahnya juga ada tulisan: “Kami harus bolos sekolah untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.”

Di depan Brandenburger Tor banyak aktivis berpidato tentang pentingnya diambil tindakan untuk iklim sekarang juga. Ada juga beberapa artis yang menyanyi di panggung. Tidak jauh dari lokasi, kabinet iklim Jerman merundingkan paket kebijakan iklim senilai milyaran euro.

Walaupun lokasi sangat penuh dan tentunya kami jalan berdesak-desakan, suasana sangat positif dan tertib. Saya yang awalnya agak merasa takut pergi ke sebuah aksi demonstrasi dengan anak, merasa cukup nyaman. 

Sekitar pukul 14 siang, akhirnya massa mulai berjalan dan kami ikut bergerak.

What do we want? Climate Justice! When do we want it? NOW!” -  “Apa yang kita inginkan? Keadilan iklim! Kapan kita mau ini? Sekarang!” 

Seruan ini diteriakkan oleh banyak orang. Anak-anak kami juga ikut menjawab: Now! 

Massa bergerak dari Jalan 17 Juni, ke Brandenburger Tor, melewati memorial holokaus, menuju jalan Unter den Linden dan melintasi Friedrichstraße untuk lanjut ke arah kompleks gedung-gedung pemerintah dan Bundestag. Di Friedrichstraße kami memilih untuk mengambil kereta untuk pulang. Tiga jam berdemo dan berjalan sekitar 3 km sudah cukup untuk anak-anak kami hari itu. Perkiraan polisi ternyata terlampaui. Menurut informasi penyelenggara, demonstrasi di Berlin tanggal 20 September ini diikuti 270.000 orang. 

Di rumah, putri saya bertanya: “Mama, apakah dunia ini benar-benar akan hancur? Nalia kan masih kecil. Dan ada banyak bayi yang bahkan masih di perut ibunya.”

Saya pada saat itu tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak mau berbohong dan tidak mau mengecilkan masalah iklim yang sekarang ini kita semua hadapi. Setelah merenung sebentar, saya menjawab, “Kalau kita semua terus hidup seperti sekarang, bumi kita ini pasti akan hancur, Nalia. Tapi setiap orang bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi sekarang.”

Demonstrasi hari ini sudah selesai. Sekarang penting untuk terus bertindak, terutama di kehidupan sehari-hari. Saya menyarankan agar kami di rumah menanam beberapa pohon dan tanaman di balkon kami dan anak saya berjanji akan menyirami tanaman-tanaman ini. Ia juga mau agar kita terus tidak sering-sering memakai mobil dan terus mengurangi pemakaian plastik. 

Ketika belanja mingguan di hari berikut, saya berkali-kali dimarahi anak saya setiap mengambil sesuatu yang berbungkus plastik. Pergi ke demonstrasi lebih mudah daripada hidup ramah lingkungan setiap harinya.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.