Iklim Sudah Berubah, Tapi Belum Terlambat Untuk Bertindak | dunia | DW | 06.11.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Iklim Sudah Berubah, Tapi Belum Terlambat Untuk Bertindak

Eropa, Asia dan Amerika Serikat dilanda gelombang panas. Kebakaran hutan yang kerap terjadi di Eropa Selatan dan AS menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal.

Cuaca telah menjadi kekuatan yang mematikan. Tanyakan saja pada korban badai yang baru-baru ini menghantam Karibia dan Teluk Meksiko. Banjir bandang makin sering terjadi di kawasan di seluruh dunia. Kemarau berkepanjangan meningkatkan ancaman bahaya kelaparan di Afrika.

Belum lama ini, Potsdam Institute for Climate Research mengadakan konferensi mengenai dampak perubahan iklim dan memperingatkan bahwa iklim yang tidak stabil juga dapat mengganggu stabilitas masyarakat.

"Konsekuensi pemanasan global tidak hanya menyebabkan kerusakan ekonomi - juga mengancam masyarakat termiskin di dunia," demikian kesimpulannya.

Bonn vor Klimakonferenz Plakat (DW/Gero Rueter)

Konferensi Iklim COP23 akan berlangsung di Bonn, Jerman, 6-14 November

Teori menjadi kenyataan

Ilmuwan iklim Wallace Broecker memperkenalkan istilah "global warming" alias pemanasan global tahun 1975 dalam makalahnya yang terkenal tentang perubahan iklim. Seberapa besar dampak perubahan iklim memang masih belum jelas - dan kini masih jadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan aktivis lingkungan.

Bulan November, wakil-wakil dari seluruh dunia akan berkumpul di Bonn, Jerman, untuk melakukan putaran perundingan COP 23 dalam upaya memperlambat kenaikan temperatir global. Ini adalah lanjutan dari Perjanjian Paris dua tahun lalu yang dipuji sebagai terobosan. Ketika itu, hampir semua pemerintahan dunia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kesepakatan tersebut itu adalah indikator, seberapa jauh manusia telah menyadari betapa pentingnya untuk bertindak sekarang. Tapi masih banyak yang harus dilakukan. Sejauh ini, hanya ada janji-janji yang dibuat berdasarkan kesepakatan global. Namun konferensi-konferensi, termasuk COP23 — hanya sebagian dari solusi.

Deutschland Baustelle Klimakonferenz COP23 in Bonn (DW/H. Weise)

Lokasi konferensu sedang disiapkan siang dan malam

Dale Jamieson, professor filsafat dan studi lingkungan di York University, memperingatkan agar orang tidak terlalu berharap pada "orang-orang terkenal yang datang ke Bonn dan menyatakan pada dunia mereka akan berkomitmen dan mengusulkan aksi-aksi alternatif".

"Kebanyakan hal penting tidak terjadi di COP," kata Jamieson. Kekuatan utama adalah tekanan masyarakat demokratis kepada para politisi, agar mereka melakukan perubahan yang lebih besar dan membentuk dunia seperti yang kita inginkan”.

Tindakan lokal penting

Dalam kasus Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan iklim, kota-kota dan negara bagian di seluruh negeri itu malah melangkah maju dan bertekad untuk memenuhi target tentang perubahan iklim.

UN-Klimakonferenz 2017 in Bonn | Aufbau (picture-alliance/dpa/R. Vennenbernd)

Bertindak sebagai tuan rumah kali ini: Fiji

Gubernur negara-negara bagian AS juga telah menetapkan target pengurangan emisi mereka sendiri yang seringkali lebih progresif daripada target nasional, tidak hanya di AS tapi juga di bagian lain dunia.

Baru-baru ini, sejumlah kota metropolitan terkemuka termasuk London, Los Angeles, Paris, Mexico City, Kopenhagen, Barcelona, Vancouver dan Cape Town melakukan langkah itu.

Robert Costanza, ekonom di Crawford School of Public Policy di Australia mengatakan, hal seperti itu akan lebih sering terjadi karena "inisiatif lokal memiliki kekuatan besar." Dia mengatakan, kita memerlukan perubahan radikal yang lebih luas.

Ruby Russell/hp

 

 

Laporan Pilihan

Iklan