Iklim Berubah, Bangladesh Tenggelam? | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 11.05.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Iptek

Iklim Berubah, Bangladesh Tenggelam?

Bangladesh adalah negara yang mungkin menghadapi situasi dramatis dengan naiknya permukaan air laut. Menurut para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa, sampai tahun 2050 sekitar 20 persen kawasan Bangladesh akan tenggelam.

default

Bangladesh termasuk negeri yang datar dengan banyak kawasan darat yang hanya sedikit berada di atas permukaan laut. Jadi kalau permukaan air laut naik sedikit saja, dampaknya cukup besar terutama bagi penduduk di kawasan pantai.

Peneliti lingkungan dari institut Bangladesh Unnayan Parishad, Mahboob Hasan menerangkan, "Air asin akan merembes jauh ke daratan dengan naiknya permukaan laut. Ekosistem pertanian akan terancam. Sawah-sawah digenangi air asin. Padahal padi yang ditanam tidak bisa bertoleransi dengan air asin. Ini akan mengancam keamanan pangan bagi penduduk di kawasan pesisir.“

Jika lahan untuk padi dan sayur-sayuran hilang, ini juga berarti banyak orang akan kehilangan sumber nafkahnya. Mahboob Hasan memperkirakan, 30 sampai 40 juta penduduk di kawasan pesisir akan mengalami dampak naiknya permukaan air laut. Akibatnya, jutaan penduduk di kawasan pantai akan mencoba pindah ke kawasan yang lebih aman dan membanjiri kota-kota besar. Padahal, saat ini saja kota-kota besar sudah padat penduduk dan kewalahan menghadapi serbuan pendatang.

Jika jutaan manusia terpaksa mengungsi dari daerah pantai ke kota-kota besar karena perubahan iklim, situasi bisa berkembang menjadi bencana kemanusiaan, kata Thomas Hirsch dari organisasi bantuan Jerman, Brot für die Welt.

"Di sebuah negara seperti Bangladesh, para pengungsi yang mengalir ke kota-kota besar akibat perubahan iklim akan menemukan kondisi yang sangat parah. Mereka sangat sulit mendapat pekerjaan dengan upah yang memungkinkan kehidupan layak. Jadi mereka akan bekerja dalam kondisi tidak layak. Seringkali semua anggota keluarga harus ikut mencari nafkah, termasuk anak-anak, hanya untuk bertahan hidup,“ tambahnya.

Organisasi bantuan Jerman Brot für die Welt mencoba bekerjasama dengan komunitas pedesaan untuk mencari strategi bagaimana menghadapi tantangan ekologi dan sosial yang muncul. Misalnya di kawasan yang menghadapi rembesan air asin, bisakah ditanam padi yang tahan air asin? Atau apakah ada sumber mata pencarian lain jika pertanian tidak bisa diandalkan lagi? Apa yang bisa dilakukan kalau memang terpaksa harus pindah ke tempat lain? Kemungkinan-kemungkinan ini dibicarakan bersama dengan penduduk di kawasan terkait untuk mengembangkan strategi jangka panjang.

Pemerintah Bangladesh sendiri sekarang mulai mencoba menanami kawasan pantai, agar tanah di kawasan itu tidak terkikis air. Berbagai upaya juga dilakukan untuk membendung rembesan air asin. Namun penduduk juga harus siap, jika ternyata mereka terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya dan memulai hidup di tempat lain. Ahli lingkungan Mahboob Hasan menerangkan, "Kami melatih mereka, agar bisa bekerja di luar negeri. Tingkat upah di Bangladesh rendah, sedangkan di Timur Tengah ada permintaan besar. Kami akan menawarkan pelatihan ketrampilan dan mengirim mereka ke luar negeri, jadi mereka bisa bekerja dan mendapat nafkah di sana.“

Masalah pengungsian dan perpindahan penduduk bisa jadi masalah serius di masa depan. Sebab pengungsian tidak mengenal batas negara. Padahal penduduk yang harus mengungsi karena dampak perubahan iklim tidak diakui secara resmi sebagai pengungsi. Sampai sekarang, belum ada prakarsa internasional membicarakan masalah itu.

Ana Lehmann/Hendra Pasuhuk

Editor: Agus Setiawan