IAEA Kembali Awasi Korea Utara | Fokus | DW | 13.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

IAEA Kembali Awasi Korea Utara

Kunjungan Ketua Badan Energi Atom Internasional IAEA Mohammad El Baradei ke Korea Utara Selasa (13/03) dan Rabu (14/03) kali ini guna membuktikan inisiatif pemerintah di Pyongyang untuk melucuti fasilitas nuklirnya.

Foto kawasan reaktor nuklir Yongbyon diambil dari satelit

Foto kawasan reaktor nuklir Yongbyon diambil dari satelit

El Baradei ingin bernegosiasi serius mengenai jadwal kunjungan kembali para inspektur IAEA di reaktor atom Yongbyon dan apa saja yang diperlukan selama para pengawas tersebut bekerja di sana. Korea Utara memang mengundang El Baradei untuk berdiskusi mengenai hal itu. Sebelum keberangkatannya ke Pyongyang, El Baradei menyatakan dengan hati-hati namun optimis, "Sangat bagus kami dapat kembali ke Korea Utara dan berbicara dengan mereka bahwa kami akan menyelesaikan tugas serta bekerja sama dengan mereka. Tujuan kami ke sana untuk membersihkan semenanjung Korea dari nuklir.“

Pertengahan Februari lalu, Korea Utara harus menutup semua reaktor nuklirnya dalam waktu 60 hari. Proses penutupan semua reaktor atom itu berada di bawah pengawasan PBB dan harus selesai pada pertengahan April ini. Jika mereka mematuhi persyaratan tersebut, Korea Utara mendapatkan bantuan ekonomi yang nilainya sama dengan 50 ribu ton minyak bumi. Pemerintah di Pyongyang juga diwajibkan untuk memberikan semua informasi tentang program atomnya. Tapi rincian mengenai hal tersebut masih belum jelas.

Perundingan-perundingan ini tidak akan berlangsung dengan mudah karena selama ini pemerintah Korea Utara sangat merahasiakannya. Pada Desember 2002 pemerintahan Kim Jong Il pernah mengusir pengawas IAEA keluar Korea Utara dan sebulan kemudian keluar dari Perjanjian Non-proliferasi Nuklir. Setelah itu Korea Utara menyatakan diri sebagai negara adidaya atom dan Oktober lalu melakukan uji coba bom atom.

Menurut para pengamat, jika Korea Utara kembali bersedia mengizinkan instalasi nuklirnya berada di bawah pengawasan inspektur internasional, bukan berarti Korea Utara otomatis ingin kembali masuk dalam perjanjian nonproliferasi nuklir, menjabarkan semua materi radio aktifnya dan menghentikan pembuatan bom nuklirnya. Ketua IAEA Mohammad El Baradei untuk itu berusaha meredam harapan yang terlalu tinggi dan menyebutnya sebagai "proses yang rumit“.

Di lain pihak, rasa saling percaya dengan Korea Utara juga harus dibangun kembali. Di hadapan IAEA, Korea Utara nampaknya belum akan membuat pengakuan besar karena hingga kini Amerika Serikat belum mencabut sanksi ekonomi terhadap negara itu berupa pembekuan dana 24 juta Dolar Amerika milik pemerintah Korea Utara yang disimpan di sebuah bank Cina di Macao. Terakhir Amerika Serikat berjanji akan mencairkan sebagian dana milik Korea Utara.

Sementara juru runding atom Korea Utara Kim Kye Gwan akhir pekan lalu mengancam tidak akan menutup semua reaktor atom Korea Utara dalam 60 hari jika janji Amerika Serikat tidak dipenuhi dalam waktu 30 hari. Penutupan reaktor atom Yongbyon dapat saja tertunda dan untuk itu para pengawas dari IAEA kembali ke Korea Utara.