1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikUkraina

IAEA Evaluasi Keamanan Pembangkit Nuklir di Zaporizhzhia

2 September 2022

IAEA memastikan pembangkit listrik di Zaporizhzhia, Ukraina, mengalami kerusakan fisik akibat perang. Tapi Kyiv menilai badan pengawas atom PBB "kesulitan" bersikap imparsial di pembangkit yang dikuasai Rusia itu.

https://p.dw.com/p/4GLaC
Direktur Jendral IAEA, Rafael Grossi, di Zaporizhzhia
Direktur Jendral IAEA, Rafael Grossi, di ZaporizhzhiaFoto: Metin Aktas/AA/picture alliance

Direktur Jendral Badan Energi Atom PBB (IAEA), Rafael Grossi, mengabarkan integritas fisik pembangkit nuklir di Zaporizhzhia telah dilanggar berulangkali. Pernyataannya itu diungkapkan usai melakukan inspeksi di pembangkit selama beberapa jam pada Kamis (1/9) kemarin. Pada Jumat, dia dan timnya akan kembali ke kompleks pembangkit untuk memeriksa kerusakan fisik dengan lebih seksama.

Pembangkit di Zaporizhzhia saat ini dikuasai Rusia dan acap menjadi sasaran tembakan artileri atau peluru kendali Ukraina, tuduh pemerintah di Moskow. Kyiv sebaliknya menuduh militer Rusia menggunakan kompleks pembangkit sebagai gudang senjata untuk melancarkan serangan terhadap Ukraina, dan dengan begitu menyandera warga Ukraina.

Delegasi IAEA tiba di pembangkit nuklir Zaporizhzhia
Delegasi IAEA tiba di pembangkit nuklir Zaporizhzhia, Ukraina, Kamis (1/8)Foto: Alexander Ermochenko/REUTERS

Hingga kini, pembangkit nuklir di Zaporizhzhia masih dioperasikan oleh pegawai Ukraina.  "Terlihat jelas betapa pembangkit dan keutuhan fisik bangunannya sudah pernah dilanggar, berulangkali... hal ini tidak boleh terus dibiarkan terjadi," kata Grossi, sembari menegaskan timnya akan bertahan di Zaporizhzhia lebih lama.

Grossi mengaku sudah mengitari kompleks pembangkit dan menginspeksi situs vital seperti sistem darurat dan ruang kendali. Tim IAEA ditugaskan untuk menganalisa dampak perang dan memitigasi ancaman kebocoran nuklir.

"Kami tidak akan pergi ke manapun lagi. IAEA sekarang di sini, di pembangkit ini dan kami tidak bergeser. IAEA akan bertahan di sini," katanya kepada reporter setelah kembali ke wilayah yang dikuasai Ukraina.

Imparsialitas dipertanyakan

IAEA, klaim Grossi, akan membuat penilaian teknis yang solid, netral dan imparsial, tentang apa yang terjadi di lapangan. Kedatangan mereka sebelumnya tertunda selama beberapa jam akibat serangan rudal di dekat lokasi pembangkit. "Ada masanya ketika suara tembakan terdengar jelas, senapan mesin, mortir artileri, dua atau tiga kali situasinya sangat mengkhawatirkan bagi kami semua," kata dia.

Menlu Jerman: Rusia Gunakan Propaganda Baru

Kemampuan IAEA membuat laporan imparsial diragukan oleh perusahaan energi nuklir Ukraina, Energoatom, yang mengoperasikan pembangkit di Zaporizhzhia. Dalam sebuah keterangan pers, perusahaan pelat merah itu menilai akan "sulit" bagi Badan Energi Atom PBB untuk membuat penilaian yang netral menyusul campur tangan Rusia.

Menurut Energoatom, delegasi IAEA sejauh ini belum diizinkan menginspeksi ruang darurat, di mana Rusia dicurigai menyembunyikan pasukannya. "Hal utama yang harus diupayakan adalah demiliterisasi wilayah pembangkit," kata Presiden Ukraina, Volodomyr Zelenskiy, terkait pendudukan Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, sebaliknya mengklaim pihaknya telah melakukan upaya untuk melindungi keamanan pembangkit. Dalam sebuah jumpa pers, Kamis (1/9) kemarin, dia juga berjanji akan memfasilitasi delegasi IAEA agar bisa menjalankan tugasnya.

Pada hari yang sama, beberapa kota di sekitar pembangkit mendapat serangan artileri Rusia, kata walikota Zaporizhzhia, Mykola Lukashuk. Klaimnya itu hingga kini belum bisa diverifikasi. Pembangkit Zaporizhzhia terletak di selatan bendungan Sungai Dnipro yang membelah pasukan Rusia dan Ukraina. Sebelum perang, pembangkit nuklir terbesar di Eropa itu menyuplai listrik untuk seperlima warga Ukraina.

rzn/hp (rtr,afp)