Hutan Tropis dalam Bahaya – Kalimantan Terancam | Sosial | DW | 15.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Hutan Tropis dalam Bahaya – Kalimantan Terancam

Jika perambahan hutan masih berjalan seperti sekarang, hutan di Kalimantan akan musnah pada tahun 2012.

Banyak hutan di dunia yang diubah menjadi areal perkebunan

Banyak hutan di dunia yang diubah menjadi areal perkebunan

Setiap tahun pada saat yang sama banyak wilayah di Indonesia, Malaysia dan Thailand yang menghilang ditelan gumpalan asap yang datang dari pulau Kalimantan. Dengan putus asa, ratusan pemadam kebakaran mencoba memadamkan kebakaran hutan yang sebagian besar. Menurut pakar Asia dari Universitas Hamburg, Howard Loewen, penyebab kebakaran ini sebenarnya mudah untuk ditelusuri.

"Kebakaran ini berasal dari bisnis perkebunan. Terutama di pulau Kalimantan, bisnis perkebunan berkembang, di sana ditanam pohon kelapa sawit dan juga kayu yang dapat diolah. Untuk memperbesar perkebunan ini, banyak hutan yang dibakar.“

Banyak negara tetangga Indonesia yang khawatir akan kerugian di bidang ekonomi dan turunnya jumlah turis karena gumpalan asap ini. Para aktivis lingkungan hidup memperingatkan akan kerusakan hutan hujan tropis di pulau Kalimantan yang tidak dapat diperbaiki lagi. Menurut laporan Bank Dunia, lebih dari setengah hutan di Kalimantan sudah menghilang dalam waktu 20 tahun terakhir ini. Dengan kecepatan penghancuran seperti ini, hutan-hutan hujan tropis di Kalimantan ini akan musnah pada tahun 2012.

Penyebab ekploitasi sumber alam tanpa menghiraukan kelestarian ini, bukan saja karena adanya permintaan atas kayu tropis, akan tetapi semakin banyaknya perusahaan yang membuka areal perkebunan kelapa sawit baru. Demikian diungkapkan Markus Radday, pakar hutan dari organisasi perlindungan WWF.

Perkebunan-perkebunan baru terus dibuka dan kira-kira setiap 20 detik, lahan hutan hujan tropis seukuran lapangan bola di Kalimantan menghilang. 85 persen minyak kelapa sawit yang diperdagangkan di dunia berasal dari Indonesia dan Malaysia. Di Eropa permintaan terhadap minyak palem juga bertambah, dibandingkan dengan minyak kedelai yang dicurigai ada manipulasi gen-nya.

Tetapi berlawanan dengan kayu tropis, yang di Eropa saat ini hanya boleh diperdagangkan dengan sertifikat, produk kelapa sawit tidak mendapt label ramah lingkungan. Organisasi lingkungan yang terkenal seperti "Forest Stewardship Council“ (FSC) menolak untuk mengesahkan eksploitasi sumber daya alam di hutan hujan tropis melalui sertifikat ramah lingkungan ini, karena perkebunan kelapa sawit di Kalimantan tidak memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

Tidak ada lagi yang tersisa bagi organisasi lingkungan hidup selain berunding secara langsung dengan produsen minyak kelapa sawit. Produk-produk kelapa sawit seharusnya mendapat suatu bukti negara asal, agar dapat jelas diihat bahwa untuk penanamannya tidak ada hutan primer yang dirambah.

Selain dari itu, menurut pandangan pelestari lingkungan hidup hutan-hutan primer terakhir di pulau Kalimantan harus diselamatkan dari transformasi menjadi perkebunan dengan cara menjadikannya sebagai hutan lindung.