Hukuman Mati Massal di Cina | Sosial | DW | 04.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Hukuman Mati Massal di Cina

Cina tercatat sebagai negara yang paling banyak melakukan eksekusi hukuman mati di dunia. Eksekusi tersebut sering dilaksanakan sebagai tontonan massal.

Eksekusi di Cina jadi tontonan publik

Eksekusi di Cina jadi tontonan publik

Para tahanan itu diikat, diarak keliling kota untuk dipermalukan dimuka umum. Pemandangan ini mengingatkan masa masa kegelapan revolusi budaya di Cina. 30 tahun yang lalu. Orang ingin membuang jauh ingatan aksi tak berperikemanuisaan pada tahanan politik dan kriminal yang disebut “elemen yang tak diinginkan”. Setidaknya di kota pusat pemerintahan Beijing, pelanggaran hak asasi manusia macam itu tak lagi terjadi, namun tidak begitu pada provinsi lain di Cina dimana hukuman mati secara masal masih dilaksanakan dihadapan warga kota.

Kota Tangshan berpenduduk sekitar 1 juta orang dan berjarak 140 kilometer sebelah timur Beijing. Pagi hari, 50 truk militer mengangkut setidaknya 100 tahanan memasuki kota itu menuju stadion olah raga. Disitu akan dilaksanakan hukuman mati yang dihadiri oleh pejabat dan anggota partai politik dan sepuluh ribu orang yang memadati stadion. Televisi lokal pun meliput secara langsung pelaksanaan hukuman mati tersebut. Xu Min, salah seorang yang hadir disitu memaparkan:

Oton Xu Min: „Para tahanan itu tidak diborgol. Tidak! Kedua tangan mereka diikat dipunggung dengan tali. Orang bilang, tali itu terbuat dari serat yang sudah direndam dalam oli, sehingga mengikat dengan sangat kuat dan tak akan kendur. Mereka tampak amat menderita. Leher mereka pun diikat sehingga tak mampu berteriak“

25 tahanan diantaranya dihukum mati karena pembunuhan, kekerasan dan penjualan narkotika. Xu yang menyaksikan kejadian tersebut menerangkan, setelah diumumkan, hukuman mati tersebut dilaksanakan di lapangan terbuka dengan tembakan.

Untuk alasan menjaga stabilitas sosial, hingga saat ini Cina tetap melaksanakan hukuman mati. Hukuman ini tak hanya dijatuhkan pada kejahatan berat, namun juga pada 68 macam pelanggaran, termasuk pembunuhan, korupsi hingga perdagangan narkotika dan obat terlarang.

Tahun 2005, 84,000 orang terdaftar secara resmi memprotes berbagai kebijakan. Ini menunjukkan bahwa stabilitas sosial Cina tidak hanya bergantung pada hukuman mati. Dimana mana orang menunjukan ketidakpuasan dan protes terhadap pemerintah komunis negara itu, seperti para petani yang kehilangan ladangnya, karyawan yang kehilangn pekerjaan atau para cendekiawan yang dibungkam.

Yayasan Laogai yang berbasis di Washington menuntut hak asasi manusia di Cina. Mereka menangkap kecenderungan jumlah hukuman mati yang terus naik dan sudah berada tingkat yang mengkhawatirkan. Yayasan ini mengkritik aksi mempermalukan para tahanan dimuka umum. Seperti yang dipaparkan Liao Tianchi:

„Menurut pendapat saya, metode itu primitive dan tak berperi kemanusiaan. Orang orang dihukum, dan pada waktu yang bersamaan mereka tak diperdulikan. Pengetahuan saat ini sepakat bahwa para pelaku kriminal harus dihukum dengan cara dipenjarakan dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian, ini memberikan hak pokok pada manusia."

Hingga kini tak ada angka statisktik resmi mengenai angka pelaksanaan hukuman mati di Cina. Diskusi terbuka mengenai hal itu juga tidak diperbolehkan. Hakim dari kota Tangshan menerangkan bahwa kejaksaan tinggi provinsi tersebut mengijinkan pelaksanaan hukuman tersebut. Semua keputusan pelaksanaan hukuman mati seharusnya diproses di mahkamah agung Beijing.

Ini merupakan revisi dari perundangan mengenai pengadilan tahun 1983 provinsi itu, untuk memudahkan dan mempercepat birokrasi. Hakim Mahkamah Agung Cina menerangkan pada Xiao Yang bahwa semua hukuman mati akan diproses pada pengadilan tinggi. Namun hingga kini, belum ada tanda tanda akan dilaksanakan.

Banyaknya pelaksanaan hukuman mati di Cina menjadi poin penting pada dialog hukum antara Jerman dan Cina. Dengan kerangka ini, jaksa agung Dieter Anders dari Frankfurt bekerja sama dengan seorang ahli hukum Jerman di Cina. Anders mengungkapkan ketidak setujuannya terhadap hukuman mati dihadapan para peserta dialog, dan ia menerima tanggapan yang baik dari relasinya asal Cina.

Dieter Anders: „Saya mendapat kesan bahwa para hakim dan jaksa muda Cina juga tak setuju dengan hukuman mati dan mereka menyambut gembira dengan kritik yang datang dari Amerika mengenai hal itu. Mereka rupanya setuju dengan saya.”

  • Tanggal 04.08.2006
  • Penulis Miranti Hirschmann
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWf
  • Tanggal 04.08.2006
  • Penulis Miranti Hirschmann
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWf