Hindari Kekerasan dalam Demonstrasi | Fokus | DW | 08.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Hindari Kekerasan dalam Demonstrasi

Protes atas pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW terus meruyak. Bagaimana pengaruh kontroversi itu terhadap dialog antara dunia Barat dan dunia Muslim?

Aksi demo di depan Kedubes Denmark Jakarta

Aksi demo di depan Kedubes Denmark Jakarta

Walaupun sebetulnya, baik harian Denmark Jyland Posten, maupun pemerintah Denmark telah meminta maaf secara terbuka, protes tetap berlanjut. Di beberapa tempat, unjuk rasa berbuntut kekerasan. Korban jiwa pun jatuh. Sebuah media Indonesia yang memuat ulang kartun itu menuai protes keras.

Sesudah di Suriah dan Lebanon, Kedutaan Besar Denmark di Teheran, Iran juga menjadi sasaran massa yang mengamuk. Para pemrotes melempar batu, besi, bahkan bom molotov. Ribuan orang di beberapa negara seperti Bangladesh, Malaysia, Kenya, dan Somalia, masih turun ke jalan, menyatakan kemarahan mereka atas pemuatan karikatur Nabi Muhammad.

Di Afghanistan, empat pengunjuk rasa tewas diterjang peluru. Seorang demonstran di Somalia juga tewas dalam aksi unjuk rasa. Para pemimpin negara-negara Arab dan agama Islam kini diimbau untuk menenangkan massa mereka. Di Indonesia, pemerintah sudah mengutu pemuatan kartun tersebut. Tetapi terhadap aksi-aksi yang mengarah menuju kekerasan, pemerintah menyatakan ketidaksetujuannya. Bagi pemerintah reaksi protes atas karikatur tersebut sudah berlebihan. Menteri Luar Negeri Hasan Wirajudha mengatakan bahwa kelompok radikal mengeksploitasi kemarahan masyarakat Islam. Muhammadyah dan Nahdatul Ulama (NU) serta Majelis Ulama Indonesia menyerukan agar seluruh protes itu dilakukan dengan cara damai.

Sementara itu, cendekiawan Muslim Azyumardi Azra mengatakan sudah waktunya pemimpin-pemimpin agama Islam terlibat langsung meredam panasnya situasi akibat pemuatan karikatur Nabi Muhammad.

Kekhawatiran atas mundurnya kembali proses dialog peradaban antara dunia Islam dan Barat, sempat diungkapkan Sekretaris Jendral Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Sejauh ini, Jaringan Islam Liberal (JIL) belum memberikan reaksi. Hanya saja, Hamid Basyaib dari JIL sempat mengingatkan agar protes harusnya disampaikan tidak dengan berlebihan. Atau, lewat jalur hukum. Di sisi lain, pakar Pers Atmakusumah Astraatmadja mengungkapkan bila saja negara-negara Muslim lebih terbuka terhadap kebebasan berekspresi, mungkin protes terhadap pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW tak seburuk reaksi yang bermunculan saat ini.

Media harus dapat lebih memahami masalah-masalah yang sensitif bagi kalangan tertentu. Sementara dalam masyarakat harus dibangun kesadaran pembelajaran untuk lebih terbuka terhadap pemikiran lain, serta terbiasa dalam iklim dialog serta kebebasan berekspresi. Pemuatan gambar atau berita yang tak disukai, tak perlu direspon dengan kekerasan. Segala keberatan harus disampaikan melalui jalan dialog dan jangan lupa, ada pula hak jawab dalam media, yang bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan keluhan.